it’s me

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اسَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

menginspirasi pembentukan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah
dari seorang MOHAMMAD ASLAM SUMHUDI
Eks Siswa Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1961)

Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
Ya Allah, kami menyampaikan shalawat, salam dan semoga barokah Mu
tertuju kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص
dan keluarganya beserta para pengikutnya sampai akhir jaman;
dan kami menyampaikan shalawat, salam dan semoga barokah Mu,
tertuju kepada Nabi Ibrahim ع dan keluarganya.
Dengan mengikuti tuntunan Rasul Mu ص, kusampaikan firman Mu,
menuju pada pembentukan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.
Insya Allah, kusampaikan sebagai nasehat, selagi hayat masih sehat.

Setiap Hari Kamis, sesudah pulang dari Madrasah Mu`allimim Muhammadiyah Yogyakarta di tahun 1960an, aku bersegera mengayuh sepeda menempuh perjalanan rutin; tujuanku, rumah ibuku di Kartosuro; setelah memohon doa ayahku, H. Sumhudi, aku kembali ke Yogya pada Jumat sorenya dengan membawa 3 liter beras untuk jatah seminggu. Dalam perjalanan itu, aku sering menggerutu, kenapa Ibuku memaksaku harus sekolah sejauh 60 Km dari tempat kelahiranku. Kini, aku berulang kali mengucap syukur kehadirat Nya, karena telah menghidayahi Ny. Hj. Aisyah, Ibuku, sehingga aku disekolahkan di Madrasah Mu`allimim Muhammadiyah Yogyakarta. Ternyata, dari sekolah inilah ilmu agamaku terpateri dengan kuat hingga kini; menjelang masa tuaku, kukaji kembali ilmu yang dulu kutimba, lalu kutausiahkan melalui media ini.

Konon kabarnya, ayahku berasal dari desa kecil yang bernuansa hutan; terletak di perbatasan antara Kabupaten Sragen (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Ngawi (Provinsi Jawa Timur) yang sesekali Kereta Api Eksekutif atau Ekonomi berhenti di Stasiun Desa; sedangkan ibuku, berasal dari Kartosuro dan menurut kata banyak orang, buyut-buyutku adalah seseorang yang diturunkan oleh kerabat Kraton Kartosuro, dimana Kerajaan Mataram memindahkan pusat pemerintahannya ke Kartosuro (1680) dengan tugas mengelola Masjid Laweyan (Solo). Selepas Perjanjian Giyanti (1755) Pemerintah Belanda membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Entahlah, itu masa lalu yang sangat dulu, setidaknya empat generasi sebelum kudilahirkan.

Selepas kududuk di Kelas Empat Madrasah Mu`allimim Muhammadiyah, aku menempuh Ujian Persamaan SMP; Alhamdulillah Lulus. Untuk mengisi ruang kosong akibat terbatasnya beras yang dibekalkan ibuku, setiap malam kubantu seorang penjual gudeg lesehan di perempatan Ngupasan Yogyakarta; Bu Juminten, entah dengan Gudeg Juminten yang sekarang masyhur. Hasil dari mencucikan piring dan membenahi perlengkapan berjualan di lepas larut malam inilah, kudapatkan upah sepiring gudeg yang kuyakini lezat rasanya. Selain itu, secara paruh waktu, aku menjadi “tukang” di Teater Muslim asuhan Pak Mohammad Diponegoro; kala itu, teater ini sangat kesohor; antara lain Arifin C Nur sebagai pelakonnya. Tugasku, belanja peralatan make-up dan bila ada pentas, tugasku menjadi penata rias. Melalui teater inilah, kulalui perjalanan hidupku ke berbagai kota sebatas di Indonesia. Dalam keseharianku, kukayuh sepeda bututku ke sekolah, ke tempat latihan teater di alun-alun lor dan ke tempat lainnya. Di bagian belakang sadelku, kutuliskan Yo Ben (Biar Saja, dalam Bahasa Indonesia), dengan harapan bila ada orang menyapa, kok sepedanya butut, maka sudah tersedia jawabannya di belakang sadelku

Kemudian, dengan berbekal Ijasah Persamaan SMP, kuteruskan ke SMA; semula ke SMA PIRI, tapi hanya bertahan beberapa minggu. Kemudian aku pindah ke SMA Muhammadiyah III dan pindah lagi ke SMA Muhammadiyah I, juga hanya beberapa minggu saja bertahan. Sisa 9 bulan di tahun ajaran itu, kutempuh di SMA Kristen BOPKRI Yogyakarta sampai akhir tahun ajaran. Sesungguhnya aku tak naik kelas; tetapi setelah aku merengek kepada Kepala Sekolah aku dinaikkan, dengan syarat harus pindah sekolah. Aku pindah dan menamatkan di SMA Negeri Sukoharjo Solo, waktu itu baru satu-satunya SMA Negeri. Dengan berbekal sepeda yang kumiliki sejak kusekolah di Yogya, sering kugadaikan di Pegadaian Sukoharjo. Uangnya kujadikan modal berjualan kain; kain yang kudoreng sendiri mengikuti trend militer ketika membasmi pengikut PKI yang sudah dilarang. Selain itu, kupinjam foto tustel milik Uswar Badawi (suami keponakan, telah wafat), lalu kujalani masa pelajarku sebagai tukang foto keliling. Kemudian sering kubantu Pak Guru di sekolahku, untuk mencetak dengan model stensil Gestetner, kebutuhan akan buku-buku karya para Guru, yang tentunya tidak dijual di toko buku.

Pendidikan tinggi kuselesaikan di FH-IPK Universitas Indonesia, kini menjadi FISIP, sejak 1968; lalu kuteruskan pada jenjang yang lebih tinggi. Selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, kuhabiskan waktuku untuk bekerja sebagai Sopir Taksi Ratax (Radio Taksi) eks taksi untuk Asian Games, yang kulalui pada malam hari, istilahnya ngalong, karena pagi hari harus kuliah. Hasil dari pekerjaan ini, selain aku dapat membiayai hidupku di Jakarta, sebagian lainnya kukirim untuk ayah-ibuku dan dua adikku yang meneruskan sekolahnya. Pekerjaan ini kuakhiri, empat bulan sebelum Ujian Sarjana; yaitu tiga bulan bekerja sebagai Staf Peneliti di Lembaga Kerja Sama UI dengan Universitas Leiden Den Hague sambil menyusun skripsi; sebulan lainnya diperlukan untuk mengurus ujian sarjana.

Aku menikahi wanita kelahiran Jambi, yang menamatkan S1 Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (1977) lalu menamatkan S2 Pengembangan Sumber Daya Manusia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (1998); dalam perjalanan hidupnya, ia bekerja di Departemen Sosial, dan resmi pensiun 2008.

Allah س mengaruniaiku berdua dengan dua anak perempuan; yang sulung lahir 1978, tamat S1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (2000) dan tamat S2 Magister Manajemen, Institut Teknologi Bandung (2002). Anak bungsu lahir 1982, tamat S1 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (2005), dan tahun 2007 meneruskan S2 di Asian Institute of Technology, Thailand tamat 2009.

Sejak 1975 aku berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil FISIP UI sampai akhirnya dipaksa pensiun sebelum waktunya. Dalam perjalanan hidupku, aku pernah bekerja rangkap di berbagai Konsultan Penelitian; selain itu, pernah bekerja sebagai Pimpro. Diklat KB di BKKBN DKI Jakarta (1978-1981), sebagai Pimpro. Perbantuan LSM di Kedutaan Kanada (1981-1983), sebagai Kepala Puslit Perkotaan Univ. Trisaksi (1983-1985), sebagai Kepala Puslit Pranata Pembangunan UI (1999-2002), sebagai Tenaga Ahli Perundang-undangan di DPRD DKI Jakarta (2000-2004). Selama 10 tahun sejak tercatat sebagai PNS di FISIPUI, kuabdikan diriku sebagai pengajar di FISIP Univ. Muhammadiyah, di FH Univ. Trisakti, di FH Univ. Kristen Indonesia, di Akademi Ilmu Pemasyarakatan, semuanya untuk matakuliah Pengantar Sosiologi dan Metode Penelitian.

Inilah diriku, tak lebih tak kurang; dan sebagai manusia yang tak luput dari salah, melalui kesempatan ini kumintakan permohonan maaf yang sebanyak-banyaknya. Semoga Allah س mengampuniku. Insya Allahu Amin.

وَاسَّلَا مُ عَلَيكُمْ وَرَهْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ

Salam Hormatku dan Keluarga
Be the first to start a conversation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: