047. ELIT MEWAH

Posted on 27/04/2017

0


Gaul Komunitas Islam ep. 047. Bekerjanya, banting tulang peras keringat; tetapi pendapatan tak mampu memenuhi kebutuhan keseharian. Orangpun bergumam, bukankah Allah س telah berjanji mencukupkan rejeki, sekalipun binatang melata?; begitu firman Nya dalam Kitab Al Quran. Mungkin mereka lupa, Dia juga melapangkan dan menyempitkan rejeki setiap umat. Karena sesungguhnya, rejeki adalah cobaan dan ujian kehidupan duniawi.


Mathari terbelalak matanya ketika membaca berita disertai gambar di koran pagi ini, memuat kisah sedih perempuan malang berusia limpuluhan; suaminya buruh serabutan, anaknya lima. Keputusannya untuk mengakhiri hidup sesudah Shalat Subuh, sungguh sangat tragis, minum racun untuk dirinya sendiri dan diminumkan untuk ketiga anaknya, masing-masing dua, empat dan enam tahun. Dua anaknya yang lain terbebas dari maut, karena sedang sekolah, tidak jauh dari rumah gubuknya. Begitu kata koran ini, mereka termasuk dalam golongan ELIT (Ekonomi Sulit) MEWAH (yang gubuknya Mepet Sawah); suatu ungkapan paradoksial. Surat pendek yang ditinggal perempuan ini berbunyi singkat, “Pak, aku kurangi beban hidup ekonomi kita. Semoga Bapak dapat rejeki yang lebih baik”.

Renungan Mathari menjangkau ke tausiah Banas beberapa hari lalu, ketika terjadi kasus bunuh diri di depan kantornya; saat itu Banas mengemukakan kompensasi yang pasti diterima para pembunuh dirinya sendiri, mengulang peristiwa bunuh diri di Neraka secara kekal abadi, sebagaimana bunuh diri yang dilakukan di dunia. Ini bermakna, ibu pelaku bunuh diri ini minum racun selama-lamanya dalam kehidupan kekal di Neraka Jahanam. Kini Mathari membawa berita koran itu kepada Banas, lalu ditanyakan, “Pak, bagaimana pembagian rejeki secara syariat Islam?”

Tak pelak lagi, Banas terdorong untuk membaca berita koran itu; setelah itu, dikatakan, “Rejeki itu milik Allah س dan Dia saja satu-satunya Dzat Yang Maha Pemberi Rejeki; mari kita cermati firman Nya dalam QS Az Zumar (39):10,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿١٠

Artinya, Katakanlah: “Hai hamba-hamba Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan; dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Melalui ayat ini, Allah س menegaskan penciptaan bumi yang sangat luas; makna yang tersirat disini adalah terbuka banyak lahan rejeki dan banyak peluang untuk bersabar menghadapi cobaan hidup duniawi yang berwujud kesempitan rejeki. Basis hidupnya haruslah bertumpu pada ketakwaan kepada Nya dan dengan demikian meyakini, akan dicukupkan baginya pahala tanpa batas. Makna pahala pada ayat ini, adalah setiap balasan kebaikan yang datangnya dari Allah س baik berupa non-materi yaitu kehidupan abadi yang nyaman di surga di kelak kemudian hari dan balasan materiel berupa rejeki di dunia”.

Kemudian diteruskan, “Pada kasus perempuan dalam berita ini menjadi gambaran ketidaksabarannya dalam mengarungi bahtera duniawi, karena ia hidup dalam kondisi elit mewah”. Lalu katanya, “Seringkali orang mengeluh, sudah bersabar dan sudah berusaha, tetapi pendertitaan ekonomi tak kunjung usai. Padahal Allah س sudah menurunkan wahyu yang dibukukan dalam QS Al Baqarah (2):153,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٣

Arti ayat ini, Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Melalui ayat ini, Allah س menetapkan kepada kaum beriman, agar meminta pertolongan Nya, dengan cara sabar dan shalat. Ini bermakna, ibu pelaku bunuh diri itu termasuk golongan yang diseur oleh ayat ini, karena ia seorang muslim. Kemungkinan besar, keberimanannya belum teguh benar, sehingga masih memilih bunuh diri. Seperti kusampaikan yang lalu, kelak di Hari Kiamat, ia dimasukkan ke Neraka berikut botol dan air minum racunnya; ia kekal abadi di Neraka Jahanam dan pekerjaannya, adalah minum racun selama-lamanya. Tak terasa, waktu masuk kerja pagi itu sudah tiba; lalu keduanya berpisah, masing-masing menuju ke meja kerjanya. Banas berpesan, agar tidak mudah goyah dalam menghadapi persoalan ekonomi dan semua persoalan hidup.

Advertisements
Posted in: Public Issues