046. HIMPITAN CINTA

Posted on 27/03/2017

0


Gaul Komunitas Islam ep. 046. Cinta, ibarat Cerita Indah Tiada Akhir; tetapi kadang bisa menghimpit. Orang tertentu yang mengalaminya, mengatasi dengan bunuh diri. Melalui Hadis, Rasulullah ص memberikan tuntunan tentang balasan atas bunuh diri di Hari Kiamat; dijerembabkan ke Neraka Jahanam, kekal; bunuh diri hidup lagi, bunuh diri hidup lagi, begitu selamanya; tanpa ampunan Nya, walau sedikit.

Para karyawan dikejutkan oleh suara barang berat yang terjatuh dari ketinggian. Serentak saja, beberapa karyawan langsung menengok keluar kantor, sebagaimana juga dilakukan Mathari yang mengintip dari balik jendela di lantai tiga; ternyata Banas berdiri tepat di belakangnya. Tak lama kemudian, nampak orang berkerumun; dari Petugas Cleaning Service, diperoleh info, ada seorang menejer dari kantor di seberang jalan yang bunuh diri, karena putus cinta. Mendengar kisah itu, hampir bersamaan, keduanya mengucap istighfar. Meski kantor tempat keduanya bekerja menerapkan disiplin yang tinggi, tak urung, peristiwa ini ikut menyita waktu para karyawan untuk larut dalam pembicaraan. Ketika beberapa karyawan berkumpul di seputar meja Banas, Mathari menyela keasyikan ngrumpi, dengan pertanyaan, “Pak, bagaimana Islam memandang fenomena bunuh diri. Bukankah peristiwa semacam ini sudah sering kita dengar melalui media massa; ada yang bunuh diri dengan cara minum racun, menembak kepala, gantung diri, atau cara-cara lainnya”.

Mendengar pertanyaan ini, Banas mengambil Kitab Tafsir Al Quran dan Kitab Hadis Al Bayan dari laci mejanya, dibukanya kitab itu, lalu dikatakan, “Pertama, mari kita mencermati makna yang terkandung dalam QS Hud (11):9,

﴾وَلَئِنْ أَذَقْنَا الإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَؤُوسٌ كَفُورٌ ﴿٩

Makna ayat ini, Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Berdasar ayat ini, manusia memiliki kecenderungan untuk selalu mendapatkan kesenangan; bila Allah س mengurangi atau bahkan mencabut sedikit saja kesenangannya, iapun mudah berputus asa; padahal Allah س melarang berputus asa, misalnya difirmankan dalam QS Al Hijr (15):55-56,

قَالُواْ بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُن مِّنَ الْقَانِطِينَ ﴿٥٥﴾ قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّآلُّونَ ﴿٥٦

Makna ayat ini, (55) Mereka menjawab. “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”. (56) Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. Melalui ayat ini dikisahkan, ketika para Malaikat melaksanakan perintah Nya untuk menemui Nabi Ibrahim ع, mengabarkan akan lahirnya Ishak ع, yang kemudiand itetapkan menjadiNabi/Rasul; ketika itu, beliau dan isterinya sudah tua renta, tetapi mendapat kabar akan memperoleh anak lagi. Malaikat mengabarkan, sekalipun sudah tua renta, janganlah berputus asa untuk memohon karunia anak. Dalamayat ini beliau menegaskan, tidak akan berputus asa, karena sifat putus asa menjadi pertanda sebagai orang sesat. Dengan begitu, berputus asa adalah sesat dan merupakan dosa. Bagi orang yang sedang menjalin cinta, hendaknya memedomani firman Nya dalam QS Asy Syura (42):11,

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجاً يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١١

Artinya, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Melalui ayat ini, Allah س menegaskan setiap segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan. Kenapa ada orang harus bunuh diri karena putus cinta?”; lalu dibukanya Kitab Al Bayan dan dibacakan HR Abu Hurairah ر. Ia berkata, Rasulullah ص bersabda: “Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka Jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka Jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka Jahanam selama-lamanya”.

Lalu Banas mengatakan, “Makna yang terkandung dalam Hadis ini, sebagai pengingat dan pedoman, jangan sampai ada diantara kita atau kerabat kita atau tetangga kita yang melakukan bunuh diri. Sesungguhnya, cara bunuh diri itu akan diulang secara kekal di neraka. Apapun amal kebaikannya menjadi sia-sia, sekalipun ia seorang haji yang dermawan. Masya Allah”. Tak terasa, waktu cepat berlalu; kerumunan di depan kantorpun makin menyemut; lalu masing-masing bergegas kembali ke meja kerjanya, bersiap bekerja kembali; masih terdengar Banas berpesan, agar kita tidak tergoyahkan dan berputus ada dalam menghadapi semua persoalan hidup.

Advertisements
Posted in: Public Issues