044. Pahala SEDEKAH

Posted on 27/01/2017

0


Gaul Komunitas Islam ep. 044. Dalam kehidupan, ketika petani menyemai sebutir padi, menumbuhkan batang yang dihias dengan juntaian ranting; pada setiap ranting, digelayuti butir-butir padi. Realitas kehidupan ini menjadi tamsil yang difirmankan dalam Al Quran atas setiap rejeki yang disedekahkan. Setiap satu sedekah, apapun bentuknya, mendapatkan pahala seperti tumbuhnya tujuh bulir, yang dihias dengan seratus biji; begitulah tamsil kelipatannya.

Seorang ibu lansia, langsung mengacungkan tangannya, ketika Banas baru saja mengucap salam guna membuka tausiah ba`da dhuha; setelah diiyakan, lalu ditanyakan, “Pak Ustadz, mohon maaf; saya sudah tua dan janda, uang pensiun dari suami bukannya pas untuk hidup, tetapi harus ditopang sumbangan anak-anak. Bila saya bersedkah limapuluh rupiah, apakah mendapat pahala?”

Dengan penuh senyum semringah, Banas mengemukakan, “Alhamdulillah, ibu punya niat luhur untuk bersedekah, walau sedikit; tetapi perlu para taklim menyadari, jumlah yang sedikit di dunia, bila dilandasi dengan ihlas dan iman, Insya Allah, menjadi banyak dalam hitungan akhirat”; lalu diteruskan, “Allah س telah menurunkan wahyu kepada Rasulullah ص yang kemudian dibukukan menjadi QS Al Zalzalah (99), terdiri dari 8 ayat, diturunkan menjadi dua waktu; periode pertama, turun 6 ayat; pada 5 ayat sebelumnya, dikisahkan kejadian di Hari Akhir nanti, yaitu bumi diguncang, lalu dikeluarkan dan diterbangkan seluruh isinya; pada ayat 6 difirmankan,

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتاً لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ﴿٦

Arti ayat ini, Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Melalui ayat ini, Allah س mengisahkan kejadian Hari Kiamat dan memberikan peringatan, bahwa pada hari itu, semua umat diperlihatkan balasan yang bakal diterima umat atas seluruh amalan selama di dunia. Kemudian diwahyukan ayat 7 dan 8, yaitu,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ ﴿٨

Arti ayat ini, (7) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (8) Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.

Lalu dikatakan, “Dua ayat terakhir tersebut memberikan peringatan kepada umat, bahwa perbuatan sekecil apapun, dipastikan ada balasannya. Ayat ke 7 dan ayat ke 8 dari Surah Al Zalzalah ini turun pada periode kedua, sekaligus untuk menjawab keraguan kaum mukmin ketika turun ayat dalam QS Al Insan (76):8, yang artinya, Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Dalam HR Ibnu Abi Hatim dari Sa`id bin Jubair عنهُما mengisahkan, pada saat turun ayat 8 Surah Al Insan, kaum Muslimin menganggap bahwa orang yang bersedekah sedikit tidak akan memperoleh pahala dan menganggap pula bahwa orang yang berbuat dosa kecil seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan dan sebangsanya tidak tercela serta menganggap bahwa ancaman api neraka dari Allah disediakan bagi orang yang berbuat dosa besar. Dengan turunnya ayat 7 dan 8 Surah Al Zalzalah, dipastikan sedekah serupiahpun mendapat balasan”; terlihat ibu lansia itu mengangguk kencang.

Kemudian diteruskan, “Pada tausiah sebelum ini, pernah dibahas HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما; dikisahkan, Rasulullah س bersabda, ”Tidaklah seorang yang bersedekah dengan harta yang baik, Allah tidak menerima kecuali yang baik, kecuali (Allah) Yang Maha Pengasih akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan Nya. Jika sedekah itu berupa sebuah kurma, maka di tangan Allah yang Maha Pengasih, sedekah itu akan bertambah sampai menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau anak untanya. Hadis ini memberikan tuntunan, sedekah sebuah kurma dari hasil yang halalan toyyiban disertai ihlas dan iman, dipastikan mendapat balasan Allah س berlipat ganda, sampai menjadi segunung kurma”.

Banas menjelaskan, “Kita ini maunya perhitungan matematik”; terdengar gumam lirih para taklim; lalu katanya, “Maunya dihitung, kalau sedekah serupiah, pahalanya berapa”; berkata begitu sambil menatap wajah-wajah para taklim; yang ditatappun tersipu-sipu. Kemudian diteruskan, “Baiklah, ini perhitungannya, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):261,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦١

Arti ayat ini, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Lalu dikatakan, “Nah, ini perhitungan matematisnya; setiap satu sedekah diibaratkan sebutir benih, mendapatkan pahala ibaratnya benih tadi tumbuh menjadi batang, lalu dari batang ini terdapat tujuh bulir dan dalam setiap bulir ada seratus biji; bermakna, setiap satu sedekah mendapatkan balasan pahala sebanyak 700 kali kelipatannya”; berhenti sejenak, lalu katanya, “Kalau ibu tadi bersedekah serupiah dengan penuh keihlasan dan keimanan, maka Allah س langsung mencatatkan pahala dengan kelipatan 700 kali atau menjadi 700 rupiah, untuk diterima balasannya di Hari Kiamat; mereka yang bersedekah seribu rupiah, pahalanya tujuhratus ribu rupiah, dsb. Sungguh kelipatan yang amat sangat banyak”; terlihat ibu itu dan para taklim lainnya makin bersemangat dan mengangguk. Seusai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dengan berpesan agar semakin meneguhkan semangat untuk menyenangi bersedekah.

Advertisements
Posted in: Public Issues