043. SEDEKAH, Harus ?

Posted on 27/12/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 043. Sedekah itu wajib, begitu firman Allah س dalam Al Quran; juga ditegaskan, dalam setiap harta, selalu ada hak orang lain. Ada yang berandai-andai; bila kukaya, akan kubangun ini, itu; kusekolahkan si fulan dan si fulaniah. Tetapi ketika kaya, menyayangi hartanya, lalu menunda bersedekah; ketika Malaikatul Maut datang menjemput, barulah berwasiat ingin bersedekah.

Menunaikan sedekah, sungguh sangat mudah; melafadzkan Alkhamdulillah sudah merupakan sedekah; berwirid, juga sedekah; bahkan menyingkirkan duri di jalanan sudah menjadi sedekah. Masih banyak lagi cara sedekah yang mudah; berkata baik adalah sedekah; memaafkan kesalahan, juga sedekah; menahan diri dari marah, juga sedekah; begitulah yang disampaikan Banas dalam berbagai kesempatan tausiah ba`da dhuha. Pendapat kebanyakan orang selama ini, menunaikan sedekah harus mengeluarkan uang, dalam bentuk memberikan sumbangan, donasi atau apalah istilahnya; apalagi bagi kalangan pegawai yang mendapat gaji pas-pasan setiap bulannya, bersedekah menjadi beban pikiran yang seringkali tak kunjung usai.

Saat Banas selesai membuka tausiah di pagi itu, seorang taklim langsung mengacungkan tangan; setelah diiyakan, diajukannya pertanyaan; katanya, “Mohon maaf Pak Ustadz; bukannya saya menidakkan rejeki Allah س, tetapi memang kenyataannya begini. Penghasilan tiap bulan sudah habis pas-pasan untuk biaya ini, biaya itu; apakah sedekah merupakan keharusan ?” Merespon pertanyaan begini, dengan hati-hati Banas mengemukakan, “Sedekah dapat dilakukan dengan berbagai cara; dari yang sifatnya non-materi sampai sedekah materi; barangkali pertanyaannya, apakah perlu bersedekah dalam bentuk harta”; dilihatnya penanya tadi, iapun terlihat mengangguk.

Lalu diteruskan, “Kalau ini pertanyaannya, marilah kita menelusuri terlebih dahulu, hakekat dari harta yang dilimpahkan kepada setiap umat Nya; antara lain dengan mencermati QS Adz Dzariyat (51):19,

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿١٩

Arti ayat ini, Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian; melalui ayat ini, Allah س menegaskan, di dalam setiap harta selalu ada hak orang miskin; ini bermakna, Dia mewajibkan umat Nya untuk berbagi rasa dengan sesamanya, agar tercapai kebersamaan dalam menikmati rejeki Nya. Kenapa dalam harta seseorang ada hak orang lain?; marilah bertumpu pada tuntunan Nabi Muhammad Rasulullah ص dalam HR Muslim dari Anas bin Malik عنهُما, dikisahkan, Baginda bersabda, “Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri”. Dalam Hadis ini terdapat tuntunan, sesungguhnya diri setiap muslim adalah juga diri muslim lainnya; dengan demikian dalam harta seorang muslim, ada harta orang lain”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Bila menunaikan sedekah, mengandung makna menyedekahi diri sendiri; sebagaimana firman Nya dalam QS Muhammad (47):38,

هَاأَنتُمْ هَؤُلَاء تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاء وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ ﴿٣٨

Arti ayat ini, Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). Dalam ayat ini terkandung penegasan, jika kikir, maka kikir itu untuk diri sendiri; dengan begitu, sedekah yang ditunaikan, sesungguhnya menyedekahi diri sendiri; artinya untuk kebaikan diri sendiri melalui orang lain yang menerima sedekah”.

Lalu Banas menjelaskan, “Karena sedekah itu untuk menyedekahi diri sendiri, maka hakekat sedekah sebenarnya untuk merintis jalan ke arah kesempurnaan hidup diri sendiri; hal ini ditegaskan dalam QS Ali Imran (3):92, memuat firman Nya,

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٩٢

Arti ayat ini, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Dengan bahasa sangat halus, Allah س menegaskan, jika seseorang ingin meraih kebajikan yang sempurna, maka tempuhlah dengan cara mensedekahkan sebagian dari hartanya. Dalam ayat ini, tidak ditetapkan berapa nilai sedekahnya; tidak ditentukan berapa persen dari hartanya harus disedekahkan, guna mencapai kebajikan sempurna. Bukankah ini cara termudah meraih kesempurnaan menurut ketetapan Allah س; dengan modal seratus rupiah, lima ratus rupiah, seribu rupiah atau berapapun sebagai sedekah, maka Allah س langsung membukakan pintu kebajikan sempurna”,

Kemudian diteruskan, “Jangan takut kehabisan harta karena bersedekah; Nabi Muhammad Rasulullah ص memberikan tuntunan melalui HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما, antara lain dikisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda, “Suatu sedekah tidak akan mengurangi harta;” dengan demikian, melalui bersedekah, Insya Allah, Allah س menambahkan harta bagi pensedekah, karena telah menyerahkan hak orang lain yang ada dalam hartanya”. Lalu Banas menutup tausiah, dan terlihat para taklim puas memperoleh perluasan wawasan ini.

Advertisements
Posted in: Public Issues