042. SEDEKAH is Membersihkan

Posted on 27/11/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 042. Allah س berfirman dalam Al Quran, antara lain, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada Nya dan karunia. …dst. Maknanya, Dia tidak menyenangi orang kikir. Selain itu, dalam suatu Hadis, Nabi ص menuntunkan, bahwa kikir, menjadikan semakin dijauhkan dari limpahan rejeki Nya.

Meski mendung menggelayut dan rintik hujan mulai membumi, tidak mengurangi minat menghadiri taklim ba`da dhuha; kini merekapun siap mendengar tausiah itu. Ketika Banas usai memberikan salam pembuka, lalu dikatakan, “Ada sebagian orang bercita-cita, bila Allah س menambahkan limpahan rejeki Nya, niscaya akan disantuni para yatim dilingkungannya dan dientaskan kemiskinan para fakir miskin. Tetapi ketika rejeki betul-betul makin melimpah, ada kalanya lupa akan janjinya; sifat semacam ini sudah disinyalir akan terjadi pada umat Nya, yang difirmankan dalam QS At Taubah (9):76,

فَلَمَّا آتَاهُم مِّن فَضْلِهِ بَخِلُواْ بِهِ وَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعْرِضُونَ ﴿٧٦

Artinya, Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)”. Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Ayat tadi menegaskan, dalam setiap jaman, akan selalu muncul orang-orang yang bertumbuh sifat kikirnya, ketika limpahan rejeki ditambahkan; kenapa bisa muncul sifat kikir dalam dirinya?; tak lain karena bujukan setan yang selalu meradang dihadapan setiap umat; misalnya firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):268,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦٨

Makna ayat ini, Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kikir; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia Nya) lagi Maha Mengetahui. Ayat ini menjadi penegas, agar umat tidak terbelenggu oleh bujukan setan, yang selalu mengajak pada tumbuh kembangnya sifat kikir. Peringatan ini, barangkali dapat diterapkan dalam hati setiap umat; ketika punya uang seratus ribu, masih rajin bersedekah walau seribu; tetapi saat punya limabelas juta, kebutuhan semakin bertambah. Ingin beli tv yang lebih besar, ingin beli motor yang keluaran tahun terbaru, ingin merenovasi rumah, sehingga ketika sadar, tinggal amplopnya; sedekahnya ditunda, sampai akhirnya uang terkuras”.

Kemudian dikatakan, “Rasulullah ص memberikan tuntunan dalam HR Abu Hurairah ر; ia mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Perumpamaan orang yang kikir dan orang yang berinfak (dalam riwayat lain dikatakan bersedekah) adalah seperti dua orang yang memakai jubah (dalam satu riwayat perisai) besi dari dada sampai tulang selangka. Adapun orang yang berinfak, maka tidaklah ia memberikan infak melainkan jubah itu semakin sempurna atau memenuhi (meliputi) seluruh kulitnya. Sehingga, jubah itu menutupi jari-jarinya dan menghapus bekasnya. Sedangkan, orang yang kikir, maka tidaklah ia bermaksud membelanjakan sesuatu, melainkan setiap lingkarannya menempel pada tempatnya, (dan kedua tangannya menempel ke tulang selangkanya). Ia (berusaha) melonggarkan jubah itu, tetapi jubah itu tidak bertambah longgar”. Abu Hurairah berkata, “Maka, aku melihat Rasulullah ص berbuat demikian dengan jarinya pada kedua sakunya. Kalau aku melihat beliau melonggarkan jubah itu, tidak juga ia menjadi longgar”. Hadis ini berisi perumpamaan yang kontradiktif; satu orang senang bersedekah dan yang lainnya, kikir. Bagi umat yang senang bersedekah, semakin banyak sedekahnya maka semakin banyak limpahan rejeki baginya; sedangkan bagi yang kikir, sifat kikirnya menjadikan dirinya semakin dipersempit rejekinya. Perlu diingat, makna rejeki dalam Hadis ini bukan berarti harus berupa uang atau harta benda, melainkan dapat berupa pahala, berupa rahmat, berupa ketenangan hidup, berupa kerahmatan, dan bentuk-bentuk lainnya. Dengan sangat gamblang ditegaskan dalam Hadis ini, umat yang senang bersedekah, ibarat memakai jubah yang semula dari dada sampai selangkangan dapat menjadi semakin longgar jubahnya sampai menutup jari-jari kakinya. Sedangkan pengibaratan umat yang kikir, jubahnya semakin sempit dan melekat ketat pada tubuhnya; mungkin menjadikan dirinya sulit bergerak bahkan sulit bernafas”.

Lalu diteruskan, “Marilah kita membuang jauh-jauh sifat kikir; bersedekahlah selagi bisa, setidaknya sebelum maut datang menjemput. Untuk semakin meneguhkan semangat bersedekah, marilah kita cermati firman Nya dalam QS Al Lail (92):17-19,

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى ﴿١٧﴾ الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى ﴿١٨﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى ﴿١٩﴾ إِلَّا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى ﴿٢٠

Empat ayat ini menegaskan, (17) Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, (18) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, (19) padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, (20) tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dalam ayat ini terdapat penegasan, sedekah adalah untuk membersihkan; makna membersihkan, adalah membersihkan hartanya. Bukankah dalam harta kita ada hak orang lain, seperti yang sudah kita bahas dalam tausiah yang lalu. Sesuatu sedekah, tidak saja membantu orang lain yang membutuhkan, tetapi juga menyerahkan hak orang lain yang tersimpan dalam harta. Melalui ayat ini, Allah س memuji keteguhan umat yang bersedekah, dengan berfirman, tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya; artinya, ketika bersedekah, yang dicari adalah ridho Nya saja, bukan karena mengharap balasan atau pujian orang”. Seusai berkata begitu, Banas mengakhiri tausiah, para taklim bergegas pulang, menerabas gerimis yang semakin kerap.

Advertisements
Posted in: Public Issues