041. SEDEKAH Semua Harta

Posted on 27/10/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 041. Sedekah, memiliki daya kekuatan yang dahsyat; begitu disabdakan Rasulullah ص dalam suatu Hadis. Ketika orang ingin mensedekahkan seluruh hartanya untuk memperoleh kekuatan yang berlebih, ia terhalang oleh ketetapan Nya yang difirmankan Allah س dalam Al Quran. Harta yang ditinggal mati, harus terlebih dahulu dibayarkan hutang, jika ada, lalu untuk ahli waris, barulah melaksanakan wasiat bersedekah.

Ketika Mathari sedang istirahat di Hari Minggu, kedatangan Syakirin, salah seorang teman di kantor disertai seorang yang belum dikenalnya, Shabirin. Syakirin mengenalnya sebagai orang kaya, entah dari mana kekayaannya, karena ia seorang pejabat. Ditanyakan, bagaimana jika disedekahkan sebagian besar hartanya, bila nanti dipanggil menghadap ke haribaan Nya. Syakirin bertanya kepada Mathari, dijawabnya tidak mampu menjawabnya; lalu dihubungi Banas, jika ada waktu luang ingin bersilaturahmi bersama Syakirin dan Shabirin; tak lama kemudian merekapun bergegas, ketika Banas setuju.

Ketika mereka sampai, Banas sudah menunggu di teras rumahnya; setelah berucap salam dan bertegur sapa, diajaknya masuk ke ruang tamu. Usai memperkenalkan Shabirin, dikemukakannya maksud kedatangannya, mengantar Shabirin untuk minta pendapat mengenai besaran sedekah. Dengan hati-hati Banas mengemukakan, “Dalam suatu tausiah ba`da dhuha yang lalu, pernah dibahas tentang harta yang layak disedekahkan”; lalu dikatakan, “Rasulullah ص dalam HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما; mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan harta yang baik, Allah tidak menerima kecuali yang baik, kecuali (Allah) Yang Maha Pengasih akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan Nya. Jika sedekah itu berupa sebuah kurma, maka di tangan Allah yang Maha Pengasih, sedekah itu akan bertambah sampai menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau anak untanya. Tuntunan ini menjadi pedoman bagi umat ketika ingin bersedekah; yaitu sedekahkan harta yang baik, artinya harta yang diperoleh secara halalan toyyiban”; terlihat wajah Shabirin mengkerut, mungkin berfikir, halalkah hartanya selama ini.

Lalu ditanyakan, “Pak Ustadz, mohon maaf; bagaimana jika saya mensedekahkan harta untuk menebus dosa?” Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Namun begitu, sedekah memiliki kebermakaan yang tinggi, misalnya diriwayatkan dalam HR Daruquthni dari Muadz Ibnu Jabal عنهُما; dikisahkan, Rasulullah ص bersabda, ”Sesungguhnya Allah mengizinkan kepadamu bersedekah sepertiga dari hartamu waktu kamu akan meninggal untuk menambah kebaikanmu”. Hadis ini patut menjadi tuntunan, bahwa sedekah dapat menambah kebaikan; dalam Islam, tidak dkenal istilah ‘penebus dosa’; tetapi dari sedekah itu, diperoleh pahala, jika harta yang disedekahkan bersumber dari pendapatan halalan toyyiban”; berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Kekuatan sedekah di Hari Kiamat, sungguh luar biasa, tetapi sekali lagi, bukan sebagai penebus dosa. Marilah mencermati HR Imam Ahamad dari Anas bin Malik عنهُما; dikisahkan, Rasulullah ص bersabda, Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung lalu Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi”. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada, yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), “Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, “Ada, yaitu api”; mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”; Allah menjawab, ”Ada, yaitu air”; mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada air?”; Allah menjawab, ”Ada, yaitu angin”; berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Hadis ini mengisahkan tentang penciptaan bumi dan kekuatannya; dalam urutan kekuatan, semula gunung, lalu besi lebih kuat, lalu api lebih kuat, lalu air lebih kuat, lalu angin paling kuat. Ternyata malaikat belum puas dengan jawaban itu, yang dalam Hadis ini diterangkan, malaikat bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada angin?”; Allah menjawab, ”Ada, yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kirinya”. Pada akhir Hadis ini ditegaskan, sedekah, memiliki kekuatan melebihi semua kekuatan mahluk Nya; sedekah lebih kuat dari angin, lebih kuat dari air, lebih kuat dari api, lebih kuat dari besi dan lebih kuat dari gunung yang sering kita lihat berdiri kokoh seolah tak tergoyahkan”.

Shabirin bertanya lagi, “Bagaimana jika saya mensedekahkan seluruh harta saya?”; berkata begitu sambil memperbaiki duduknya. Banas menjelaskan, “Allah س melarang umat Nya meninggalkan ahli waris dalam keadaan kemiskinan, sebagai akibat mensedekahkan seluruh hartanya; karena itu dalam Al Quran telah diatur pewarisan harta kekayaan. Misalnya dalam QS An Nisa’ (4):12 difirmankan mengenai pembagian harta bagi ahli waris, dengan terlebih dahulu membayar hutang, jika ada, dan menunaikan wasiat yang tidak menjadikan ahli waris jatuh miskin. Sedangkan Rasulullah ص memberikan tuntunan dalam HR Saad Ibnu Waqqash ر; dikisahkan, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” Beliau menjawab, “Tidak boleh”. Aku bertanya lagi, “Apakah aku boleh menyedekahkan setengahnya?” Beliau menjawab, “Tidak boleh”. Aku bertanya lagi, “Apakah aku boleh sedekahkan sepertiganya?” Beliau menjawab, “Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada orang”; lalu diteruskan, “Berdasar firman Allah س dalam Kitab Al Quran dan sabda Rasulullah ص dalam Hadis tadi, maka mensedekahkan sebagian besar harta adalah bukan perbuatan kebajikan”; para tamu itu terlihat mengangguk-angguk. Seusai berkata begitu, tausiah singkat ini diakhiri, merekapun berpamitan pulang; masing-masing dengan pikiran yang menumpuk.

Advertisements
Posted in: Public Issues