040. Menafkahi is SEDEKAH

Posted on 27/09/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 040. Suami memberikan nafkah kepada keluarga adalah suatu kewajiban; sekaligus menjadi sedekah baginya. Kemudian, bila isteri menafkahkan sebagian dari nafkah yang diterima dari suaminya, juga merupakan sedekah, meski sekedar makanan rumahan walau sedikit. Semuanya mendapat balasan pahala, bila diniatkan ingin mendapat ridho Nya. Begitulah yang dituntunkan Rasulullah ص dalam suatu Hadis.

Tausiah Banas beberapa waktu lalu mengenai Sedekah Suami, ternyata mendapat respon yang sangat beragam; khususnya dari para ibu. Hal ini nampak, ketika Banas selesai membuka tausiah ba`da dhuha, salah seorang ibu yang bertaklim, langsung mengacungkan tangannya; agak terkejut Banas melihat peristiwa ini, karena biasanya tidak seorangpun ibu yang ingin bertanya. Setelah diiyakan, ibu itu menanyakan, “Pak Ustadz, mohon maaf”; begitu pembuka pertanyaannya; lalu dikatakan, “Beberapa waktu lalu pernah dibahas Sedekah dari para Suami; kami, para ibu dapat memaklumi, karena para suami adalah sosok pencari nafkah. Meski kadang-kadang akibat dari pensedekahan itu, beberapa keperluan rumah kurang teratasi. Pertanyaan saya, bagaimana peluang isteri untuk bersedekah?”; suasana menjadi sedikit hiruk pikuk.

Suasana menjadi tenang kembali, saat Banas mulai bicara, “Allah س menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna, sebagaimana difirmankan dalam Al Quran; meski begitu, Allah س dalam kodrat dan irodat Nya, telah membuat perbedaan antara lelaki dengan perempuan yang difirmankan dalam QS An Nisa’ (4):34,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً ﴿٣٤

Pada bagian awal ayat ini ditegaskan, Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita); melalui bagian ayat ini, Allah س memberikan beban kepada kaum lelaki sebagai pemimpin bagi wanita. Adapun pertimbangannya, dapat ditelusuri pada kelanjutan ayat ini, yaitu karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Dari bagian ayat ini, Allah س memberikan pertimbangan sebab diberikannya kedudukan lelaki sebagai pemimpin, yaitu kaum lelaki sebagai penanggung jawab pencari nafkah. Selanjutnya, Allah س memberikan tugas kepada wanita dengan memfirmankan, Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Meskipun wanita memiliki posisi yang dipimpin, ternyata Allah س lebih memelihara kaum wanita; dan karena itu, wanita harus dapat menjaga dirinya saat suami tidak di rumah. Lebih lanjut difirmankan pada bagian akhir ayat, Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Secara tersirat, Allah س memerintahkan kepada kaum suami untuk menghukum dengan penuh rasa sayang, tatkala isterinya melakukan nusyuz”; bicara Banas terhenti ketika seorang ibu ingin bertanya. Setelah Banas mengangguk, ditanyakan, “Pak Ustadz, apa yang dimaksud dengan nusyuz dalam ayat ini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Banas tidak langsung menjawab, melainkan dibukanya Kitab Tafsir Al Quran; setelah menemukan yang dicari, dikatakan, “Maksud nusyuz adalah bepergian ke luar rumah tanpa seijin suami”; lalu diteruskan, “Berdasar ayat inilah, kaum wanita tidak diijinkan menunaikan Umroh atau Ibadah Haji, jika tidak didampingi suami atau muhrimnya. Secara tersurat, sepertinya ayat ini diskriminatif; tetapi bila dilihat yang tersirat, sesungguhnya Allah س lebih melindungi wanita jika dibandingkan kepada kaum lelaki”.

Kemudian Banas menjelaskan, “Rasulullah ص memberikan tuntunan dalam HR Muslim dari Abu Masud Al Badri عنهُما; dikisahkan, Dari Nabi ص, beliau bersabda, ”Sesungguhnya seorang muslim, jika memberikan nafkah kepada keluarganya dan ia mengharap pahala dari Nya, maka nafkahnya itu menjadi sedekah baginya. Hadis ini menegaskan jaminan pemberian hak khusus bagi lelaki, yaitu pemberian nafkah menjadi sedekah jika diiringi raihan ridho Nya. Tetapi dalam HR Ad Dailami ر , dikatakan, Nabi ص bersabda, ”Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rejekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. Tuntunan ini sekaligus dapat menepis anggapan diskriminatif suami terhadap isteri; bila isteri merasa dikikiri suami, boleh mengusulkan peningkatan nafkahnya”.

Lalu diteruskan, “Kabar gembira bagi kaum isteri, dapat merujuk pada HR Aisyah ر; mengisahkan, bahwa Nabi ص bersabda, “Apabila perempuan menafkahkan sebagian makanan di rumahnya tanpa merusak (anggaran harian) maka baginya pahala atas apa yang ia nafkahkan, bagi suaminya juga pahala karena ia yang bekerja, dan begitu pula bagi yang menyimpannya. Sebagian dari mereka tidak mengurangi sedikit pun pahala atas sebagian lainnya”. Ini bermakna, kaum isteri tidak perlu khawatir terkurangi peluang sedekahnya; dengan catatan, sedekah makanan itu tidak mengganggu kebutuhan rumah tangga”; terdengar taklim ibu-ibu berkata-kata lirih satu sama lain. Seusai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dan para taklim wanita terlihat ceria.

Advertisements
Posted in: Public Issues