039. Mengungkit SEDEKAH

Posted on 27/08/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 039. Bersedekah dapat meraih pahala bila ditunaikan dengan penuh keihlasan dan keberimanan untuk mencari ridho Nya. Namun ketika terbawa dalam pembicaraan, mengungkit pemberian sedekah; gugurlah pahalanya. Firman Allah س dalam Al Quran, antara lain, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu; karena menyebut-nyebutnya atau menafkahkan hartanya karena riya/pamer “.

Sekalipun jumlah sedekahnya dikabarkan secara bisik-bisik kepada teman sejawat, tak pelak lagi, terdengar juga ditelinga Mathari; peristiwa ini disampaikan kepada Banas, bahwa Pak Fulan yang menyumbang renovasi masjid dengan jumlah uang yang banyak bercerita ke kiri dan kanan. Banas menanggapi dingin, karena tak ada salahnya menampakkan sedekahnya, walau dengan kata-kata; karena sesungguhnya, sedekah dapat diberikan secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terang-terangan. Tetapi berbeda dengan yang didengar Banas pada keesokan harinya, Pak Fulan berbicara kepada rekannya, “Alhamdulillah, renovasi masjid dapat segera dilakukan; untung saya menyumbang besar untuk sedekah akhir tahun. Habis bagaimana”; begitu cerita Pak Fulan kepada rekan bicaranya, yang tidak disadarinya ada Banas disitu, “Butuh biaya segini dapatnya hanya segini”; berkata begitu sambil melipatkan dua jarinya; mungkin maksudnya hanya dapat dua juta saja.

Terinspirasi oleh pembicaraan Pak Fulan, seusai Banas membuka tausiah ba`da dhuha yang dihadiri Pak Fulan, dikatakan, “Allah س telah menurunkan wahyu kepada Rasulullah ص yang kemudian dibukukan menjadi Kitab Al Quran, mengenai tanda-tanda ketakwaan; misalnya dalam QS Al Baqarah (2):2-3, difirmankan,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣

Arti ayat ini, (2) Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka; makna yang tersurat dalam ayat-ayat ini terdapat dua penegasan, yaitu pertama, sesungguhnya Kitab Al Quran tidak diragukan kebenaran isinya sebagai petunjuk bagi orang bertakwa; penegasan kedua, ciri orang yang bertakwa, antara lain menafkahkan sebagian rejeki yang diraihnya. Dengan demikian, berdasar ayat tadi, salah satu ciri orang bertakwa adalah menafkahkan atau dengan kata lain mensedekahkan sebagian rejeki yang diperolehnya”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Dalam beberapa kesempatan, sudah kusampaikan, bersedekah tidak ditentukan besarannya, boleh bersedekah seribu, boleh sejuta; juga tidak ditentukan waktunya; boleh awal bulan, boleh akhir bulan. Keistimewaan yang diberikan Allah س kepada umat Nya ketika bersedekah, boleh secara sembunyi-sembunyi dengan cara menyebut dirinya Hamba Allah dan boleh juga secara terus terang yaitu menyebut jati dirinya sebagai penyumbang. Bahkan Rasulullah ص memberikan tuntunan, kalaupun tangan kanan bersedekah dan tangan kirinya tidak tahu, maka itupun juga termasuk amal saleh yang berpahala besar. Cara bersedekah terang-terangan, nilainya sangat baik; dan bersedekah secara sembunyi-sembunyi lebih baik dari sangat baik”.

“Marilah kita meneguhkan keberimanan dan menumbuhkan kesadaran untuk dapat menjaga peraihan pahala dari bersedekah”; begitu Banas meneruskan tausiahnya. “Dalam QS Al Baqarah (2):264, difirmankan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿٢٦٤

Pada awal ayat ini terdapat penegasan, Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu; Allah س mewanti-wanti kepada umat Nya, agar tidak menghilangkan pahala dari bersedekah; jadi pahala sedekah dapat hilang. Kenapa?; hal diterangkan pada makna selanjutnya, dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima); seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Pada ayat ini, Allah س menerangkan, mereka yang kehilangan pahala dari bersedekah meliputi empat golongan, yaitu, golongan satu, menyebut-nyebut nilai sedekah, mungkin melalui cerita kepada teman, tetangga dan sebagainya; golongan dua, menyakiti perasaan si penerima, mungkin dengan cara menyombongkan nilai sedekahnya, misalnya mengatakan kalau bukan karena sedekah saya, dan seterusnya; golongan tiga, bersedekah dalam rangka ri’a atau pamer untuk mendapat pujian; dan golongan empat, sedekahnya orang kafir atau bersedekah tanpa dilandasi keberimanan kepada Allah س dan tidak beriman kepada Hari Akhir”.

Kemudian diteruskan, “Bagi empat golongan tadi, Allah س menegaskan melalui bagian akhir ayat tadi, yaitu maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir; Subkhanalllah”, begitu lanjut Banas, “Sudah menyisihkan uang banyak untuk bersedekah, tetapi karena lepas kendali waktu bicara dengan teman atau tetangga, sehingga termasuk dalam empat golongan itu. Seperti batu licin, sebagai perumpamaan dirinya; diatasnya ada tanah sebagai perumpamaan sedekahnya’ dan ditimpa hujan sebagai perumpamaan hilangnya pahala karena salah satu sebab itu. Masya Allah”. Setelah berkata begitu, Banas mengakhiri tausiahnya.

Pada saat Banas duduk agak memojok mau membaca Al Quran, Pak Fulan mendekati; kedatangannya disambut dengan penuh kehangatan; ia katakan, mungkin ia termasuk salah satu dari empat golongan itu. Lalu ia minta nasehat, bagaimana agar pahalanya tidak lenyap karena kelepasan bicara soal sedekahnya; Banas mengajak Pak Fulan untuk beristighfar kemudian shalat sunah dua rakaat, mohon ampunan Nya.

Advertisements
Posted in: Public Issues