038. Menunda SEDEKAH

Posted on 27/07/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 038. Mengeluarkan sedikit sedekah selagi disempitkan rejeki, adalah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan bercita-cita bersedekah banyak jika sudah dilapangkan. Seringkali, bila harta sudah bertambah, maka bertambah juga kebutuhannya lalu orang itu menunda bersedekah. Padahal Rasulullah ص memberikan tuntunan agar tidak menunda sedekah. Bersedekahlah meski sedikit, ketika lapang atau saat dalam kesempitan.

Setelah menghitung-hitung sisa gaji bulan ini, Mathari berniat membelakangkan bersedekah ke masjid yang memerlukan dana untuk renovasi; namun begitu ia bermaksud hendak mengkonsultasikan hal ini kepada Banas; tetapi hatinya ragu dan tumbuh rasa malu. Tetapi hal ini ditanyakan dalam tausiah ba`da dhuha; seusasi Banas membuka tausiah, Mathari mengacungkan tangannya, ketika disilahkan, ditanyakan, “Kapan waktu terbaik untuk bersedekah?”.

Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Ada orang mengatakan, jika aku sudah kaya akan kubangun masjid di kampung halamanku; tetapi selama hidupnya ia tidak kaya, sehingga iapun tidak pernah bersedekah. Perkataan semacam ini, banyak dijumpai dalam masyarakat, menganggap rejeki dari Allah س yang menjadikan kaya, hendak dibalas dengan bersedekah. Cara berpikir seperti sungguh amat sangat salah; karena sesungguhnya, seseorang tidak tahu kapan menjadi kaya dan kapan menjadi miskin; selain itu, Allah س itu Maha Kaya, tidak ingin mendapatkan pembalasan berupa sedekah dari umat Nya atas karunia rejeki yang dilimpahkan. Selain itu, Allah س tidak menetapkan besar atau kecilnya sedekah; demikian juga, tidak ditemukan Hadis dari Rasulullah ص yang mengatur besaran sedekah”. Lalu diteruskan, “Marilah kita cermati firman Nya dalam QS Taubah (2):75-76,

وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿٧٥﴾ فَلَمَّا آتَاهُم مِّن فَضْلِهِ بَخِلُواْ بِهِ وَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعْرِضُونَ ﴿٧٦

Arti ayat ini, (75) Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. (76) Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Dengan bahasa yang sangat halus, Allah س memastikan, mereka yang berjanji bersedekah bila menjadi kaya, maka sungguh kikir setelah meraih kekayaannya; mereka lupa, dari Dia saja kekayaan itu dapat diraihnya”. Seolah mengerti perasaan Mathari saat menghitung gajinya, Banas meneruskan, “Bila aku menyisakan sedikit dari gaji, maka berapapun besarnya, sebagian kusedekahkan”.

Setelah berhenti sejenak, dikatakan, “Marilah kita cermati makna firman Nya dalam QS Al Munafiqun (63):10, terdapat ayat,

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠

Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Bila kita mampu merenungi makna yang tersurat dan tersirat dalam ayat ini, niscaya penegasan ini merupakan peringatan keras, jangan sekali-kali menunda untuk bersedekah, selagi miskin sekalipun”.

Lalu diteruskan, “Untuk memperkaya wawasan, ada baiknya kita renungi juga tuntunan Rasulullah ص dalam HR Abu Hurairah ر; ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata, Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya (dalam satu riwayat: paling utama)?’ Beliau bersabda, Kamu bersedekah, dan kamu dalam keadaan sehat dan kikir (dalam satu riwayat: rakus). Kamu takut fakir dan mencita-citakan kaya. Namun, jangan menunda sehingga (nyawamu) sampai di tenggorokan baru kamu berkata, ‘Untuk si Fulan sekian dan si Fulan sekian, padahal benda itu telah ada pada Fulan”. Dalam Hadis ini sedikitnya terdapat tiga tuntunan; pertama, bersedekahlah ketika dalam keadaan sehat walaupun kikir (sayang mengeluarkan harta untuk bersedekah); kedua, bersedekahlah sekalipun takut menjadi miskin dan sekalipun ingin bersedekah kalau sudah kaya; ketiga, jangan menunda sedekah, diibaratkan jika nyawa sudah tinggal di kerongkongan saat akan dicabut malaikatul maut, baru niat bersedekah. Jika yang terjadi adalah sebagaimana tuntunan ketiga dari Hadis tadi, maka orang ini berkata seperti difirmankan dalam ayat tadi, yaitu “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”.

Terlihat para taklim tergugah dengan pencerahan ini; seusai menjelaskan ini, Banas menutup tausiah, diiringi harapan, agar para taklim selalu ditambahkan karunia Nya tak enggan bersedekah, walau sedikit rupiahnya.

Advertisements
Posted in: Public Issues