037. SEDEKAH nya Diketahui

Posted on 27/06/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 037. Saat bersedekah, dituliskan nama Hamba Allah; ketika orang membicarakan dialah yang bersedekah, iapun senang; jika khalayak tahu ia penyumbangnya. Hal seperti ini tidak bertentangan dengan firman-firman Nya. Selain itu, melalui suatu Hadis, Rasulullah ص menuntunkan, orang itu mendapat dua pahala; yaitu pahala karena merahasiakan dan pahala karena diketahui oleh orang ramai.

Pada saat Takmir Masjid menghitung jumlah uang sumbangan untuk renovasi masjid, tertulis disitu sumbangan uang dalam jumlah besar; tertulis namanya, Hamba Allah beralamat di kompleks. Dari alamat inilah, Takmir Masjis mengetahui, Pak Fulan adalah nama sesungguhnya penyumbang yang menyebut dirinya Hamba Allah. Ketika selesai tausiah dhuha digelar, Takmir Masjid mengumumkan nama Pak Fulan sebagai penyumbang yang dengan rendah hati menamakan dirinya Hamba Allah; atas pengumuman itu, Pak Fulan tersenyum kecil tanpa mengekspresikan keakuannya. Saat para taklim sudah pulang, salah seorang Takmir Masjid menanyakan kejadian yang baru saja berlalu.

Menanggapi pertanyaan Takmir Masjid ini, Banas mengemukakan, “Tata cara bersedekah yang dikehendaki Allah س, antara lain difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):262, yang memuat ayat,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُواُ مَنّاً وَلاَ أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٢٦٢

Arti ayat ini, Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Lalu diteruskan, “Dalam ayat tadi ditegaskan, tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya Maksudnya, sekalipun dituliskan Hamba Allah tetapi yang bersangkutan tidak mengumumkan dirinya sebagai pemberi sedekah, baik secara samar-samar maupun secara terang-terangan. Begitu juga ketika Takmir Masjid mengumumkan namanya sebagai penyumbang yang terlebih dahulu mendapat pembenaran dari yang bersangkutan, tidak mengurangkan nilai pahalanya. Sedangkan makna lafadz tidak menyakiti (perasaan sipenerima), misalnya mengatakan, coba kalau nggak saya sumbang, masjidnya tak kunjung selesai direnovasi”.

Kemudian dikatakan, “Bahkan Rasulullah ص memberikan tuntunan dalam HR At Tirmidzi ر; dikisahkan, Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang)”. Rasulullah ص bersabda, “Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan”. Berdasar Hadis ini, tiada halangan suatu apa, seseorang bersedekah dengan menyebut dirinya Hamba Allah dan ketika diumumkan, iapun senang mendengar penyebutan dirinya. Rasulullah ص memastikan penyumbang seperti ini, mendapat dua pahala; yaitu pertama, mendapat pahala ketika menyembunyikan sedekahnya dan kedua, mendapat pahala ketika tumbuh rasa senangnya pada saat namanya disebutkan sebagai pemberi sedekah secara terang-terangan”.

Lalu dikemukakan, “Bagi orang yang bersedekah, selain memperoleh pahala dari sedekahnya, maka sedekah itu membawa fadilah di Hari Kiamat nanti; marilah kita cermati HR Abu Hurairah ر; antara lain dikisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Barang siapa termasuk ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu surga yang khusus bagi mereka yang suka bersedekah”. Hadis ini memberi penekanan, setiap orang yang senang bersedekah secara terang-terangan atau secara tersembunyi, kelak dipanggil menerima karunia nikmat Nya berupa surga melalui pintu khusus bagi para pemberi sedekah, namanya Pintu Sedekah”.

Seusai berkata begitu, perbincanganpun berakhir; saat akan berpisah, Banas memesankan kembali, agar para Takmir Masjid bersedekah sebatas kemampuan, jangan memaksakan diri, dan harus menghindari merasa malu bila tak bersedekah. Selain itu, agar mengingat makna Hadis yang pernah disampaikan, yaitu HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما; yang mengisahkan, Bahwa Nabi ص bersabda, “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan harta yang baik, Allah tidak menerima kecuali yang baik, kecuali (Allah) Yang Maha Pengasih akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan Nya. Jika sedekah itu berupa sebuah kurma, maka di tangan Allah yang Maha Pengasih, sedekah itu akan bertambah sampai menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau anak untanya. Dalam Hadis ini terdapat pembelajaran, harta yang disedekahkan haruslah harta yang baik; dilarang mensedekahkan harta hasil korupsi, harta hasil mencuri sekalipun itu mencuri dari isteri atau mencuri dari suaminya. Bila sedekah itu berasal dari harta yang baik, dipastikan, Allah س memberikan pahala yang berlipat ganda; semisal bersedekah sebiji kurma yang halal, dibalaskan dengan pahala senilai kurma setinggi gunung. Masya Allah, bukan main besar pahalanya.

Advertisements
Posted in: Public Issues