036. SEDEKAH oleh Isteri

Posted on 27/05/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 036. Suami atau isteri yang memiliki penghasilan sendiri, lebih mudah memberikan sedekah. Apakah isteri yang tidak berpenghasilan atau sebagai Ibu Rumah Tangga juga bisa bersedekah? Atas pertanyaan seperti ini, dalam suatu Hadis, Rasulullah ص memberikan tuntunan, mudah bagi isteri bersedekah; yaitu dengan cara mensedekahkan sebagian nafkah suami yang diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga.

Tidak seperti biasanya, Banas agak terlambat datang ke masjid; karena itu, begitu sampai di masjid, langsung dibukanya tausiah ba`da dhuha. Lalu dikatakan, “Pada tausiah yang lalu telah dibahas tentang sedekah yang dilakukan suami, sekalipun tanpa sepengatahuan isteri; bagaimana peluang isteri untuk lebih banyak bersedekah?”; terlihat para taklim ibu-ibu lebih bersemangat menyimak.

Kemudian diteruskan, “Bagi isteri yang memiliki penghasilan sendiri, tentulah mudah bersedekah; tetapi tidak berarti, isteri yang menamakan diri sebagai Ibu Rumah Tangga, tidak punya peluang bersedekah. Untuk itu, marilah kita cermati QS Al Zalzalah (99):7-8, terdapat firman Nya,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ ﴿٨

Artinya, (7) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (8) Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan secara gamblang, setiap perbuatan walau seberat dzarrah, ada balasannya; perbuatan saleh dibalas pahala dan perbuatan kejahatan diberi siksa”; lalu dijelaskan maksud seberat dzarrah adalah seberat bijih bijih sawi atau lebih spesifik seberat atom, jadi amat sangat ringan sekali timbangan perbuatannya itu”.

Lalu dikatakan, “Ini bermakna, setiap perbuatan saleh siapun, termasuk para isteri selalu mendapat pahala; untuk lebih meneguhkan keimanan bagi para isteri dalam memberikan sedekah, marilah mencermati tuntunan Rasulullah ص dalam HR Ahmad dan Al Hakim عنهُما; mengisahkan, bahwa Nabi ص bersabda, “Apabila perempuan menafkahkan sebagian makanan di rumahnya tanpa merusak (anggaran harian) maka baginya pahala atas apa yang ia nafkahkan, bagi suaminya juga pahala karena ia yang bekerja, dan begitu pula bagi yang menyimpannya. Sebagian dari mereka tidak mengurangi sedikit pun pahala atas sebagian lainnya”. Ini bermakna, kaum isteri tidak perlu khawatir terkuranginya peluang bersedekah; dengan catatan, sedekah makanan itu tidak mengganggu kebutuhan rumah tangga”; terdengar taklim ibu-ibu berkata-kata lirih satu sama lain; lalu katanya, “Kalau mengamati keseharian, banyak pengemis yang datang ke rumah untuk meminta sedekah; dalam kesempatan seperti inilah, para isteri dapat memperbanyak bersedekah. Bisa memberikan seratus rupiah, dua ratus, lima ratus, atau berapapun semampunya”.

Kemudian Banas mengemukakan, “Mohon maaf sebelumnya, dalam kehidupan suami isteri, terdapat tuntunan Nabi Muhammad Rasulullah ص dalam HR Muslim dari Abu Dzar عنهُما; antara lain mengisahkan, bahwa Nabi ص bersabda, “Bersenggama dengan isteri adalah sedekah”: terdengar ibu-ibu terkikik lirih sementara para suami tersenyum sipu; suasana tenang kembali, saat Banas meneruskan, dalam Hadis tadi juga dikisahkan, “Para sahabat lalu bertanya, “Apakah melampiaskan syahwat mendapat pahala?” Nabi ص menjawab, “Tidakkah kamu mengerti bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala”. Hadis ini dengan sangat gamblang memberikan tuntunan, para isteri yang selalu melayani suami ketika hendak digauli dengan niat mencari ridho Allah س, merupakan sedekah”; lalu terdengar celoteh diantara ibu-ibu taklim, wah kalau banyak anak berarti banyak bersedekah. Sesudah tenang kembali, Banas menutup tausiah, para taklimpun bersegara pulang; sementara itu, para ibu masih mengguraukan sedekah dicampuri suami.

Advertisements
Posted in: Parent Issues