035. SEDEKAH oleh Suami

Posted on 27/04/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 035. Suami memberikan sedekah, sementara isterinya tidak mengetahui sedekah itu. Mana yang lebih baik, suami bersedekah tanpa diketahui isteri atau hendaknya sepengetahuan suami-isteri. Tetapi harus mempertimbangkan, jangan sampai terjadi pertengkaran suami-isteri, akibat bersedekah. Melalui suatu Hadis, Rasulullah ص memberikan tuntunan, bila tangan kanan bersedekah, meski tangan kiri tak tahupun, itu sedekah yang baik.

Seseorang hadir di masjid kompleks yang belum dikenal para jamaah, mengemukakan ingin bersedekah untuk membantu renovasi masjid. Kemudian terjadi dialog, sedekahnya untuk keluarga atas nama siapa; dijawabnya, ini adalah sedekah untuk dirinya sendiri; lalu dituliskan namanya, Fulan. Setelah terjadi penyerahan uang dan Fulan menerima kuitansi, berlalulah ia; tak lama kemudian, para Takmir Masjid berkumpul, terlihat Banas duduk di bagian depan. Lalu ditanyakan, apakah cara bersedekah tadi memang dianjurkan dalam Islam?

Menanggapi pertanyaan Takmir Masjid ini, Banas mengemukakan, “Pada perbincangan dengan Mathari beberapa hari yang lalu, aku sampaikan firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):274,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٢٧٤

Arti ayat ini, Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Berdasar ayat ini, cara sedekah yang terang-terangan atau tersembunyi mendapat pahala di sisi Tuhannya; dengan begitu, suami yang menyembunyikan sedekahnya dari isteri dapat dimasukkan sebagai bersedekah secara sembunyi, tetapi bersembunyi dari memperoleh persetujuan isteri”.

Lalu diteruskan, “Bahkan Rasulullah ص memberikan tuntunan melalui HR Abu Hurairah ر; dikisahkan, Bahwa Nabi ص bersabda, “Tujuh macam orang yang akan dilindungi Allah pada hari yang tidak ada lindungan kecuali lindungan Nya”; kemudian Abu Hurairah ر meneruskan, “Yaitu orang yang bersedekah dengan sedekah yang ia tutupi sehingga tangannya yang kiri tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya”. Berdasar Hadis ini, tiada halangan suatu apa, bila suami bersedekah tanpa sepengetahun isteri; yang menjadi persoalan, kenapa harus merahasiakan kepada isteri. Bukankah rejeki yang diterima suami adalah karena ia beristeri itu, sehingga harta suami-isteri merupakan harta bersama; dengan begitu, adalah lebih utama, bila suami bersedekah memberi tahu kepada isteri, sehingga suami dan isteri memperoleh pahala yang setimpal. Dalam hal ini, keihlasan isteri untuk menyetujui sedekah yang dilakukan oleh suami, merupakan amal saleh yang didalamnya ada pahala tersendiri”.

Kemudian dikemukakan, “Harta yang dicuri dari isteri, karena tidak memberitahukan sebagian dari sejekinya untuk disedekahkan, akan menjadikan sedekah itu tidak bermakna di Mata Allah س; marilah kita simak tuntunan Rasulullah ص melalui HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما; dikisahkan, Bahwa Nabi ص bersabda, “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan harta yang baik, Allah tidak menerima kecuali yang baik, kecuali (Allah) Yang Maha Pengasih akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan Nya. Jika sedekah itu berupa sebuah kurma, maka di tangan Allah yang Maha Pengasih, sedekah itu akan bertambah sampai menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau anak untanya. Dalam Hadis ini terdapat pembelajaran, harta yang disedekahkan haruslah harta yang baik; dilarang mensedekahkan harta hasil korupsi, harta hasil mencuri sekalipun itu mencuri dari isteri atau mencuri dari suaminya. Bila sedekah itu berasal dari harta yang baik, dipastikan, Allah س memberikan pahala yang berlipat ganda; semisal bersedekah sebiji kurma yang halal, dibalaskan dengan pahala senilai kurma setinggi gunung. Masya Allah, bukan main besar pahalanya”.

Lalu diteruskan, “Harta yang baik, adalah harta yang halalan toyyiban; artinya, harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan dengan jerih payah yang baik. Pengemis, ada kalanya mendapatkan rejeki yang halal dari sedekah tetapi tidak jarang menggunakan cara yang tidak baik; misalnya membungkus kakinya dengan tape agar dikerubung lalat sehingga menimbulkan kesan, kakinya terluka parah dan menumbuhkan rasa kasihan bagi yang diminta sedekahnya”.

Seusai berkata begitu, tausiah kecil inpun diakhiri; para Takmir Masjis semakin tahu, sesungguhnya bersedekah haruslah berasal dari harta yang halalan toyyiban; kalaupun itu harta bersama, seyogyanya memberitahu masing-masing pihak, agar pahalanya diraih oleh kedua belah pihak.

Advertisements
Posted in: Public Issues