033. SEDEKAH for Almarhum

Posted on 27/02/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 033. Seorang ayah berniat hendak mengeluarkan sedekah; tetapi belum lagi terlaksana, maut telah datang menjemput. Bolehkah anaknya bersedekah atas nama almarhum ayahnya? Mengenai hal ini, Rasulullah ص memberikan tuntunan melalui suatu Hadis, sedekah dapat dilakukan ahli waris yang diatasnamakan bagi si mati. Pahalanya, selain bagi almarhum, juga bagi yang melaksanakan niat almarhum untuk bersedekah.

Tidak seperti biasanya, Syakirin datang mengikuti tausiah ba`da dhuha di masjid kompleks; seusai itu, ia mendatangani Takmir Masjid dan menyatakan niatnya untuk menunaikan sedekah, sebagaimana pernah diceriterakan ibunya ketika belum meninggal dunia. Atas niat ini, Takmir Masjid mencari Banas, menanyakan bagaimana status bersedekah bagi seseorang yang sudah meninggal.

Atas pertanyaan ini, Banas mengumpulkan Takmir Masjid yang hadir, lalu dikatakan, “Seseorang bercerita kepada kerabatnya, ingin menunaikan sedekah, kemudian meninggal dunia sebelum sempat melaksanakan niatnya, sesungguhnya ia telah berwasiat kepada kerabatnya mengenai sesuatu pemberian sedekah”; berhenti sebentar lalu diambilnya Muskhaf Al Quran; setelah dibuka-buka lembarannya, lalu dikatakan, “Allah س dalam QS Al Baqarah (2):181,

فَمَن بَدَّلَهُ بَعْدَ مَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١٨١

Arti ayat ini, Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Melalui ayat ini ditegaskan, kerabat atau ahli waris yang mendengar niat seseorang untuk menunaikan sedekah adalah dilarang mengubahnya; maksud mengubah, dapat berupa pembatalan niat atau dapat juga tidak bersedia menunaikan sedekahnya dengan berbagai alas an, misalnya ahli waris tidak menyetujui niat itu. Bagi seseorang yang mengubah niat sehingga tidak menunaikan sedekah, maka baginya memperoleh dosa”; berhenti sejenak, Syakirin bertanya, “Bagaimana kalau yang tidak menyetujui niat itu dating dari seluruh ahli waris?”.

Setelah merenung sejenak, dikatakan, “Dalam firman tadi, Allah س tidak menyebutkan, apakah pengubahan niat yang menjadi wasiat itu dilakukan oleh satu orang, dua orang, sekelompok orang, atau bahkan seluruh ahli waris. Melalui ayat tadi ditegaskan, barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Dengan demikian, kalaupun seluruh ahli waris tidak menyetujui niat itu, ya dosanya dipikul oleh seluruh ahli waris yang tidak menyetujuinya”; Syakirin menyela, “Bagi saya, saya akan menunaikan niat itu, sekalipun sendirian; kalaupun saya tidak memiliki uang untuk menunaikan niat itu, maka akan saya tunaikan sesudah menerima warisan”. Banas mengemukakan, hal itu lebih baik, karena sesungguhnya Allah س Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui; ini bermakna, Syakirin saja yang akan menerima pahalanya.

Setelah mendengar penjelasan ini, di hadapan Takmir Masjid, Syakirin mengikrorkan, “Dengan ini saya menunaikan niat ibu saya membayar sedekah, yang pahalanya untuk ibuku”. Sebelum ikror ini diterima Takmir Masjid, Banas menyela, “Bukan begitu ikrornya; marilah kita cermati dulu firman Nya dalam QS Ali Imran (3):57,

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ ﴿٥٧

Makna ayat ini, Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Berdasar ayat ini, maka pelaksanaan niat yang ditunaikan Syakirin membayarkan sedekah bagi almarhumah ibunya, mendapat pahala dari Allah س. Pahala datangnya dari Allah س, sehingga manusia tidak memiliki hak untuk mengatur, kepada siapa pahala itu dicurahkan; dengan demikian amal saleh dalam bentuk menunaikan sedekah bagi ibunya almarhumah, memiliki nilai tersendiri di Mata Allah س; dengan demikian Syakirin yang menunaikan amal saleh mendapat pahala tersendiri. Lalu Syakirin menanyakan, apakah Allah سmenerima sedekah untuk si mati dan memberikan pahala bagi almarhumah?

Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Ada tuntunan dari Nabi Muhammad Rasulullah ص dalam HR Muslim dari Aisyah عنهُما; dikisahkan, Bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ص dan berkata, ”Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia mendadak dan tidak sempat berwasiat. Tetapi aku menduga seandainya ia dapat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah ص bersabda, ”Ya”. Hadis ini memberikan pembelajaran, sedekah buat si mati, dipastikan si mati mendapat pahala; karena itu, terkait dengan kasus Syakirin, Insya Allah, terdapat dua pihak yang mendapat pahala, pertama, seseorang yang beramal saleh menunaikan sedekah bagi simati, Insya Allah mendapat pahala; kedua, si mati yang dibayarkan sedekahnya, Insya Allah juga mendapat pahala.

Seusai mendapat penjelasan ini, Syakirin memperbaiki ikrornya dengan mengatakan, ”Saya berikror membayarkan sedekah untuk ibu saya yang terhutang karena meninggal dunia, semoga Allah س melimpahkan pahala Nya”. Lalu ikror ini diterima oleh Takmir Masjid; sesudah itu, pertemuan kecil inipun bubar.

Advertisements
Posted in: Public Issues