032. Penerima SEDEKAH

Posted on 27/01/2016

0


Gaul Komunitas Islam ep. 032. Bersedekah atau dalam Al Quran juga difirmankan “memberikan nafkah”, tidak harus diterimakan kepada orang lain. Allah س berfirman, bahwa sesungguhnya sedekah dapat diberikan kepada orang-orang terdekat, baik mereka yang berjalan di jalan Nya atau yang sedang dalam kesesatan. Dalam suatu Hadis, Nabi ص memberikan tuntunan, tidak ada sedekah yang keliru kepada siapapun sedekah itu diberikan.

Tak lama sesudah Banas membuka tausiah ba`da dhuha, seorang taklim bertanya tentang ibadah sebagaimana dijelaskan dalam tausiah yang lalu; dikatakannya, “Pak Ustadz, ibadah dapat digolongkan menjadi ibadah mahdah dan ibadah amah; tentunya sedekah termasuk dalam golongan ibadah amah. Dengan demikian, siapa yang boleh menerima sedekah ?”.

Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Betul, terdapat dua golongan ibadah itu; disebut ibadah mahdah karena perintahnya sudah pasti dan dilaksanakannya dengan aturan yang sudah pasti, seperti shalat, puasa, dsb. Sedangkan ibadah amah adalah ibadah yang perintahnya sudah pasti tetapi pelaksanaannya didasarkan pada tuntunan Rasulullah ص melalui Hadis, antara lain sedekah, zakat, dsb. Adapun orang-orang yang berhak menerima sedekah, dapat merujuk pada QS Al Baqarah (2):215, sebagaimana pernah dibahas dalam tausiah yang lalu, berisi firman Nya,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٢١٥

Arti ayat ini, Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Dalam ayat ini ditegaskan secara jelas, mereka yang berhak menerima sedekah adalah ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan musafir. Namun perlu disadari, para mustahik (orang yang berhak) tersebut, harus secara sadar kita beri sedekah karena patut diberi sedekah; dalam pengertian mereka membutuhkan sedekah kita. Ibu-bapak boleh disedekahi, jika memang patut menerimanya, misalnya karena memang kekurangan. Kaum kerabat boleh menerima sedekah, jika memang layak menerima karena memerlukan. Begitu juga sedekah kepada anak yatim; jangan karena para orangtua disini yang tidak memiliki ayah ibu lalu memasukkan dirinya sebagai kaum yatim. Dalam hal sedekah bagi para musafir, adalah mereka yang melakukan perjalanan yang tidak bertentangan dengan Islam”.

Diantara taklim ada yang bertanya, “Pak Ustadz, bagaimana kalau bersedekah seorang pekerja seks komersial, apakah berpahala?; terdengar cekikik diantara taklim. Setelah tenang, Banas mengemukakan, “Dalam ayat Al Quran itu tidak ditegaskan larangan bersedekah kepada siapapun dan beragama apapun; ini berarti secara syariah, tidak dilarang bersedekah kepada mereka; tetapi boleh saja mendahulukan yang muslim. Tentang bersedekah kepada pekerja seks komersial atau psk, kepada wanita tuna susila atau wts, kepada pezina, dan kepada orang-orang yang tidak memiliki kehidupan Islami, ada baiknya kita cermati HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما; dikisahkan, Rasulullah ص, berkisah, seorang lelaki berkata, “Sungguh aku akan mengeluarkan sedekah pada malam ini”. Lalu ia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan seorang wanita pezina. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan, tadi malam, seorang wanita pezina mendapatkan sedekah. Lelaki itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada wanita pezina). Aku akan bersedekah lagi”. Dia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan orang kaya. Pada pagi harinya, orang banyak membi-carakan, sedekahnya diberikan kepada orang kaya. Orang itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada orang kaya). Aku akan bersedekah lagi”. Kemudian ia keluar membawa sedekah dan jatuh ke tangan pencuri. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan; sedekah diberikan kepada pencuri. Orang itu mengucap, “Ya Allah, hanya bagi Mu segala puji, sedekahku ternyata jatuh pada wanita pezina, pada orang kaya dan pada pencuri. Lalu ia didatangi (malaikat) dan dikatakan kepadanya, “Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi wanita pezina itu akan menghentikan perbuatan zinanya, karena sedekahmu, orang kaya dapat mengambil pelajaran dan mau memberikan sebagian apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Dan mungkin saja si pencuri menghentikan perbuatan mencurinya, karena sedekahmu”. Hadis ini kaya dengan tuntunan persedekahan; setiap sedekah kepada siapapun, jika dilandasi dengan keihlasan dan keberimanan, Insya Allah menerima pahala sebagaimana janji Nya”.

Kemudian diteruskan, ”Dengan bahasa yang lembut, Nabi ص memberikan tuntunan, sedekah kepada pezina diharapkan dapat menyadarkan dari perbuatan zinanya; kepada orang kaya diharapkan dapat menyadarkan dirinya untuk ikut bersedekah; dan kepada pencuri diharapkan memperoleh kesembuhan dari perilaku kriminalnya. Ini bermakna, bagi penerima sedekah dapat memiliki dua arti; pertama, menjadi pemberian yang diperlukan; dan kedua, menjadi pendorong ke arah perbuatan amal saleh. Karena itu, hakekat sedekah sebagai ibadah ammah, adalah guna meningkatan kesadaran untuk khablu minannas (mencintai kepada sesama manusia)”; kemudian Banas menutup tausiah diiring dengan doa dan ucapan salam.

Advertisements
Posted in: Public Issues