030. Shalat Dhuha is SEDEKAH

Posted on 27/11/2015

0


Gaul Komunitas Islam ep. 030. Waktu Dhuha, adalah hari ketika matahari menyinari bumi sepenggalah tingginya, diperkirakan sekitar jam 06.30 – 07.30; 003. Terkait dengan waktu dhuha, Allah س berfirman dalam Al Quran, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”; dan dalam suatu Hadis Nabi ص bersabda, bahwa sesungguhnya Shalat Dhuha adalah juga Sedekah.

Di kampus, Rembulan, Narima dan teman-temannya mencari dosennya yang juga dikenal sebagai ustadz. Ketika bertemu di Ruang Tunggu Dosen, mereka minta ijin untuk bertanya; setelah disilahkan, mereka menanyakan, kenapa diadakan tausiah dhuha di masjid kompleks yang selama ini diikutinya. Atas pertanyaan ini, dalam benak Banas tersirat pikiran, yah, kenapa tidak dijelaskan sejak awal; dikiranya semua orang memaklumi makna dhuha dalam kehidupan Islami.

Lalu katanya, “Ketika tahun 1950an, Bapak Sekolah Arab yaitu sekolah di sore hari yang memiliki kurikulum keagamaan Islam, Bapak memperoleh pembelajaran untuk menunaikan Shalat Dhuha; dhuha, artinya bila matahari sepenggalah tingginya. Tetapi terlalu sulit mengenali waktu yang bersamaan dengan matahari sepenggalah tingginya. Mudah-mudahan pemaknaan dhuha menjadi “matahari sepenggalah tingginya” merupakan iktibar saja atau perumpamaan, hakekat artinya adalah pagi hari. Wallahu A`lam bis Sawab.

Kemudian diteruskan, “Shalat Dhuha dapat ditunaikan sekitar jam 06.30 sampai 07.30 pagi hari; terlepas dari ketentuan waktunya, pelaksanaan shalat ini dapat merujuk pada HR Aisyah ر; ia berkata, Sesungguhnya Rasulullah ص meninggalkan sesuatu amal padahal beliau senang untuk mengamalkannya, (beliau tidak mengharuskan para sahabat untuk mengamalkannya) karena (beliau) takut manusia mengamalkannya lalu difardhukan atas mereka. Saya tidak pernah melihat Rasulullah ص melakukan Shalat Sunah seperti Shalat Sunah Dhuha, dan sesungguhnya saya (Aisyah) mengerjakannya”. Melalui Hadis ini, Aisyah ر menerangkan dengan sangat hati-hati, secara ajeg Rasulullah ص menunaikan Shalat Dhuha. Dalam Hadis ini juga diterangkan Sesungguhnya Rasulullah ص meninggalkan sesuatu amal, padahal beliau senang untuk mengamalkannya. Artinya, beliau menunaikan Shalat Dhuha, tetapi tidak diberitakan kepada para sahabatnya; Beliau khawatir para sahabatnya akan menganggap Shalat Dhuha berkedudukan seperti shalat fardhu”.

Lalu diteruskan, “Para guru sekolah itu menyampaikan, Shalat Dhuha merupakan sedekah dari seluruh ruas tubuh; pahalanya sebanyak 365 derajat seperti halnya jumlah 365 ruas dalam tubuh. Hal ini sejalan dengan tuntunan Rasulullah ص; misalnya dalam HR Ahmad bin Hanbal, Muslim, Abu Dawud, dari Abu Zar عنهم; dikisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Hendaklah setiap pagi kamu bersedekah untuk persendian (ruas tulang) tubuhmu. …dst”. Meskipun dalam Hadis ini tidak menerangkan jumlah ruas tulang tubuh, Shalat Dhuha tetap ditunaikan, untuk memenuhi tuntunan Rasulullah ص. Tentang pahalanya, pasrahkan saja kepada Nya, karena Dia saja satu-satunya Dzat Yang Maha Memberi Pahala. Meski begitu Bapak meyakini, Allah س dipastikan memberi pahala atas semua amal saleh umat Nya; begitu juga Shalat Dhuha. Selanjutnya terdapat tuntunan Rasulullah ص dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan Hakim dan Ath Thabrani dari Nuwas bin Sam`an عنهم; dikisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Allah س berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas Shalat Dhuha sebanyak empat rakaat, agar Aku mencukupi kebutuhanmu di waktu sore”. Hadis Qudsi ini menegaskan, dengan Shalat Dhuha empat rakaat, dipastikan Allah س mencukupkan kebutuhan umat Nya”.

Pembicaraan terhenti, karena Rembulan bertanya, “Apa maksud “mencukupi kebutuhanmu”; apakah dengan menunaikan Shalat Dhuha, kita akan mendapatkan tambahan rejeki uang, atau yang lain?”. Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Tentang makna “mencukupi kebutuhanmu” janganlah dikonotasikan dengan mendapat rejeki berupa uang atau barang lainnya; tetapi juga harus dimaknakan tidak mengeluarkan sesuatu, misalnya uang, karena sesuatu kejadian yang menimpa. Misalnya saja, bila terjatuh, lalu Allah س menyelamatkan dari cidera, maka kejadian ini termasuk tercukupi kebutuhannya. Logikanya begini, bila tidak terluput dari cidera tentulah harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk penyembuhannya; bila terluput dari cidera, maka sesungguhnyalah terluputnya dari cidera merupakan salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan; antara lain karena tidak mengeluarkan biaya. Karena itu, Bapak berpesan, pemenuhan kebutuhan sangatlah rahasia, Dia saja yang Maha Mengetahui”; nampak Narima sedikit mengangkat tangan untuk bertanya.

Setelah diiyakan, ditanyakan berapa jumlah rakaat yang dituntunkan Rasulullah ص; didengarnya, ada ustadz yang menganjurkan dua rakaat sudah cukup, harus empat rakaat, harus sepuluh rakaat, dsb. Banas meneruskan, “Tentang jumlah rakaat Shalat Dhuha, bisa mengikuti tuntunan Rasulullah ص dalam HR Imam Bukhari dari Abu Abdillah dari Abu Hurairah عنهم; dikatakan, “Abu Hurairah ر berkata, Rasulullah ص berpesan kepadaku supaya melakukan Shalat Dhuha dua rakaat”. Dengan berpedoman pada makna yang terkandung dalam Hadis tadi, jumlah rakaat Shalat Dhuha tidak harus empat, karena Rasulullah ص juga menunaikannya sebanyak dua rakaat. Dengan begitu, jumlah rakaat adalah suatu pilihan, berapa rakaat yang disukainya”; seorang mahasiswa lain menyela, “Apa fadilah Shalat Dhuha?”.

Banas mengemukakan, “Sebagai penyemangat untuk menunaikan Shalat Dhuha, marilah merujuk pada HR AthThabrani dari Abu Hurairah عنهما; dikatakan, Rasulullah ص bersabda, “Barangsiapa yang membiasakan mengerjakan Shalat Dhuha, akan diampuni dosanya oleh Allah س, sekalipun dosa itu seluas dua lautan”. Dengan sangat gamblang, tuntunan yang terkandung dalam Hadis ini dikemukakan janji Allah س berupa pengampunan atas dosa-dosa umat Nya, sekalipun dosanya digambarkan seluas dua lautan, selain dosa besar dan bukan dosa musyrik. Selain itu, terdapat HR Ath Thabrani dari Abu Hurairah عنهما; yang mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Di pintu surga, ada pintu yang dinamakan Pintu Dhuha. Bila telah tiba Hari Kiamat, para Malaikat berseru, manakah orang-orang yang telah membiasakan Shalat Dhuha? Inilah pintu kamu, masuklah dengan rahmat Allah س”. Makna yang terkandung dalam Hadis ini sudah sangat jelas; bila Shalat Dhuha yang ditunaikan diterima diharibaan Nya, tentulah memperoleh hak istimewa itu”.

Advertisements
Posted in: Public Issues