029. Wirid is SEDEKAH

Posted on 27/10/2015

0


Gaul Komunitas Islam ep. 029. Dalam Al Quran, antara lain Allah س menegaskan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring …dst”. Selain itu, Nabi ص menuntunkan dalam Hadis, mengingat Allah س (dzikrullah) adalah juga sedekah.

Malem Minggu, Banas sibuk menyiapkan bahan untuk esok hari yang menjadi gilirannya untuk memberikan tausiah ba`da dhuha. Sesudah membuka tausiah, Banas mengajak para taklim untuk tidak henti-hentinya mengingat Allah س; lalu dikatakan, “Berulang kali, Allah س menegaskan perlunya umat untuk selalu mengingat Dia; misalnya difirmankan dalam QS Al Munafiqun (63):9,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩

Makna ayat ini, Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dengan bahasa yang sangat halus, Allah س mengingatkan para orangtua, agar harta dan anak menjadi sebab tidak mengingat Allah س; selanjutnya ditegaskan, mereka yang tidak mengingat Dia, termasuk golongan yang merugi. Maksud dari golongan merugi, adalah mereka yang tidak mendapat pahala dari mengingat Allah س; dalam Al Quran, lafadz mengingat Allah س memiliki banyak makna, antara lain dengan cara shalat, menyebut nama Nya, sujud, dsb. Cara yang populer, adalah mengingat Allah س dengan dzikir dan wirid”.

Lalu diteruskan, “Dzikir, berasal dari Bahasa Al Quran yang diindonesiakan, maknanya mengingat; istilah ini berlaku khusus, yaitu khusus untuk mengatakan mengingat Dia. Ini bermakna, jangan kita mengatakan, kalau ngawinin anak, dzikir aku ya; dengan tujuan, ingat aku ya. Makna ذِكْرُ اللّهِ adalah setiap pelafadzan yang mengandung arti “mengingat Dia”; selain shalat dan sujud, mengingat Allah س juga dapat dilakukan dengan cara lain, misalnya melafadzkan basmalah, hamdalah, istighfar, tasbih, takbir, tahmid, dsb, yang lafadznya dapat diucapkan setiap waktu dan dalam setiap kesempatan. Misalnya, ketika mengendarai mobil, tiba-tiba ada kendaraan lain yang nyrobot, lalu beristighfar; istighfar ini dapat disebut dzikir; contoh lain, mau membeli sesuatu barang yang dalam perkiraan kita harga sepuluh ribu, ternyata seratus ribu, lalu mengucap subkhanallah; maka ucapan ini juga termasuk dzikir. Sedangkan wirid adalah kata jamak dari awrad, bermakna ذِكْرُ اللّهِ (mengingat Dia) menggunakan lafadz tertentu yang diucapkan berulang kali, itunaikan pada waktu-waktu tertentu secara khusus, misalnya sesudah shalat, sesudah membaca Al Quran, dsb”.

Kemudian dikatakan, “Wirid yang seringkali diajarkan para orangtua, para ustadz, para kyai atau lainnya, adalah melafadzkan tasbih, yaitu subkhanallah artinya Maha Suci Allah, sebanyak tigapuluh tiga kali; dirangkai dengan malafadzkan tahmid, yaitu alkhamdulillah artinya Segala puji bagi Allah, sebanyak tigapuluh tiga kali; ditutup dengan malafadzkan takbir, yaitu Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar sebanyak tigapuluh tiga kali. Jumlah ketiga lafadz itu menjadi sembilan puluh sembilan. Berdasar HR Abu Hurairah ر; ia berkata, Rasulullah ص menggenapkan wirid menjadi seratus dengan melafadzkan :

لَاإلَهَ الآ اللهُ إِلَـهاً وَاحِداً ٬ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ٬ لَهُ مُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ ٬ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya, Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi Nya, bagi Nya kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”;terhenti sejenak, karena ada taklim yang bertanya, “Apa hubungan antara wirid atau dzikir dengan sedekah?”.

Banas menjelaskan, “Hubungan antara wirid atau dzikir dengan sedekah, dapat merujuk pada HR Muslim dari Abu Dzar عنهُما; antara lain dikisahkan, Ada sekelompok sahabat Rasulullah ص melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, …. dst. Hadis ini memberi tuntunan, bila tidak memiliki harta yang layak disedekahkan, maka melafadzkan dzikir dan wirid sudah bermakna menunaikan sedekah”.

Tak lama kemudian Banas mengakhiri tausiah; di hati para taklim muncul semangat untuk selalu melakukan dzikir dan wirid; bukan saja pahala dan ampunan yang diperoleh dari dzikir dan wiridnya, tetapi sekaligus meraih pahala sebagai suatu sedekah. Insya Allahu Amin.

Advertisements
Posted in: Public Issues