028. Memaafkan is SEDEKAH

Posted on 27/09/2015

0


Gaul Komunitas Islam ep. 028. Bagi sebagian orang, perilaku marah, dapat dilakukan dalam keseharian; lalu yang dimarahi mendemdam. Padahal Allah س menegaskan dalam Al Quran, sesungguhnya memberi maaf adalah lebih mulia daripada mendemdam. Selain itu, dikisahkan dalam suatu Hadis, Nabi ص memberikan tuntunan, melarang dendam dan sesungguhnya memberi maaf memiliki nilai lebih tinggi daripada sedekah harta.

Sudah dua malam ini Mathari sulit tidur; penyebabnya, tiga hari yang lalu ia melakukan kesalahan kepada salah seorang dosen, ketika mengarsipkan daftar hadir kuliah. Ketika bertemu Banas di kantin kantor saat makan siang, dikisahkannya, “Saya memang melakukan kesalahan; dan pada saat itu juga saya minta maaf. Tetapi Bu Dosen membentak dan mengatakan tidak bisa memaafkan; bagaimana cara saya minta maaf?”.

Mendengar keluhan ini, Banas tersenyum kecil; setelah disruput kopinya, dikatakan, “Dalam peristiwa itu, ada dua kejadian yang dapat ditelaah secara Islami; pertama, tidak memaafkan, dan kedua, membentak. Tentang kejadian tidak memaafkan, marilah kita cermati makna yang tersurat dalam QS Al Baqarah (2):263 terdapat firman Nya,

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ ﴿٢٦٣

Arti ayat ini, Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, memberi maaf adalah sedekah yang nilainya lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan kata-kata yang menyakitkan hati si penerima sedekah”; Mathari menyela, “Apakah ada orang memberi sedekah diirngi umpatan?”. Banas menjelaskan, “Mungkin tidak berupa umpatan, tetapi contohnya begini; memberi sedekah kepada pengemis lalu dikatakan, sudah, cepat pergi, mengganggu aja. Contoh lainnya, ada pengumpul sumbangan ke rumah-rumah, meskipun mungkin tidak bisa diertanggungjawabkan legalitasnya; lalu diberi sedekah ala kadarnya, diiringi kata-kata, hari ini saya beri, besok-besok jangan kesini lagi. Bagi pemberi sedekah, mungkin saja kata-kata seperti itu merupakan ungkapan kejengkelan; tetapi bagi yang menerima, mungkin saja menyakitkan hati”.

Kemudian diteruskan, “Kejadian kedua, adalah membentak; seharusnya Bu Dosen itu memahami makna yang tersirat dalam QS Al Isra’ (17):23 terdapat firman Nya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً ﴿٢٣

Arti ayat ini, Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Ayat ini sering digunakan untuk menasehati sikap kepada orangtua; tetapi sesungguhnya tersirat makna, Allah س memerintahkan umat untuk tidak membentak kepada orangtua dan kepada sesama manusia”. Mathari merenungi penjelasan itu; lalu ditanyakan, bagaimana seandainya orang lain berbuat kesalahan pada dirinya; apakah lebih baik memberi maaf.

Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Setiap orang dipastikan selalu memiliki kesalahan; karena itu Allah س menciptakan mekanisme istighfar dan taubat. Lebih baik mana antara memberi maaf atau tidak memaafkan?. Jawabannya, antara lain dapat merujuk pada firman Nya dalam QS At Taghobun (64):14,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤

Artinya, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat ini menegaskan tentang hubungan dalam rumah tangga; meski begitu, tersirat makna, sesungguhnya memberi maaf dan tidak memarahi atas sesuatu kesalahan, adalah lebih mulai di Mata Allah س. Sebagai pengganti atas kesediaan memaafkan dan tidak memarahi, dapat merujuk pada HR Muslim dari Abu Hurairah ر, mengisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda, “Suatu sedekah tidak akan mengurangi harta, Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan, dan seseorang tidak merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat orang tersebut”. Melalui Hadis ini, Rasulullah ص memberi tuntunan, Allah س memuliakan orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain; dipastikan, semakin besar kesalahan yang dimaafkan, semakin tinggi orang itu dimuliakan”. Tak terasa, keduanya telah berbincang sampai waktu istirahat segera berakhir; lalu keduanya menyantap makanan pesanannya; seusai itu, berpisah. Di sela-sela menyantap makanan, Banas masih berpesan, memaafkan memiliki nilai lebih tinggi dari sedekah; karena itu, beri maaflah kepada orang yang bersalah; Mathari mengangguk-angguk.

Advertisements
Posted in: Public Issues