026. Shadaqah is SEDEKAH

Posted on 27/07/2015

0


Gaul Komunitas Islam ep. 026. Allah س berfirman dalam Al Quran, antara lain, menegaskan dan mewajibkan umat untuk bershodaqoh, tanpa batas takarannya. Dapat dilakukan dengan cara menafkahkan kepada orang terdekat, seperti orangtua, kerabat atau tetangga. Dapat juga dikeluarkan sebagai pinjaman kepada Nya, maksudnya, yaitu mensedekahkan hartanya bergotong royong atau sendirian untuk kepentingan ubudiah, misalnya membangun sekolahan, jalan, dsb.

Meski Mathari menyayangkan rencana murtad anak tirinya, tetapi masih ada juga kebanggaan terbersit dihatinya; dalam beberapa kesempatan, Nurqom sering menyisihkan uang ala kadarnya untuk diberikan kepada ibunya. Tetapi hal inilah yang menjadi beban pikiran Mathari, karena penghasilan Nurqom berasal dari pemberian suaminya, yang tentunya untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya. Uneg-uneg ini disampaikan kepada Banas pada saat bertemu di kantor; atas kisah ini, Banas mengemukakan, “Sesungguhnya, Allah س mewajibkan kepada umat Nya untuk shodaqoh atau sedekah dalam bahasa sehari-hari; marilah kita cermati firman Nya dalam Al Hadid (57):18,

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴿١٨

Arti ayat ini, Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. Dalam ayat ini, terdapat penegasan, menunaikan sedekah merupakan suatu kewajiban dan merupakan amal saleh”; Mathari menyela, “Apa maksud lafadz memberi pinjaman kepada Allah س?; apakah Allah س perlu diberi pinjaman?”.

Lalu diteruskan, “Dalam ayat ini terdapat dua perintah; pertama, kewajiban menunaikan sedekah; dan kedua, kewajiban memberi pinjaman; maksud memberi pinjaman adalah melakukan sedekah untuk pelaksanaan ibadah kepada Allah س, misalnya menyumbang pembangunan masjid, mengisi kotak sedekah ketika Shalat Jumat, dan masih banyak lainnya”. Mathari masih bertanya, “Jadi kalau kita menyumbang untuk ibadah, namanya memberi pinjaman?”.

Banas merenung sejenak, lalu dikatakan, “Istilah yang salah kaprah memang telah go public; kalau menyumbang pembangunan masjid dikatakan ibadah; ini salah besar. Setiap perbuatan manusia yang dilandasi keberimanan, adalah ibadah. Jika memberi kepada pengemis, dikatakan sedekah; istilah begini juga salah. Mari kita luruskan, setiap perbuatan yang selaras dengan akidah Islam, adalah ibadah”.

Kemudian lanjutnya, “Tentang pemberian Nurqom kepada ibunya atau isterimu, secara sadar atau tidak sadar, Nurqom sudah menjalankan ketetapan Allah س; mari kita cermati makna firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):215,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿٢١٥

Arti yang tersurat dalam ayat ini, Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Melalui ayat ditegaskan secara gamblang, Apapun harta yang dinafkahkan (disedekahkan), mengutamakan diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan musafir. Berdasar ayat ini, pemberian Nurqom, walau seribu rupiah, sudah memenuhi perintah Nya, yaitu menafkahkan sebagian harta kepada ibu-bapaknya; tidak disebutkan, apakah harta itu harus berasal dari hasil pencarian sendiri atau dari pemberian. Penegasan pada akhir ayat itu bisa diterapkan dengan pemberian Nurqom kepada ibunya, yaitu walau seribu rupiah sedekahnya, Allah Maha Mengetahui atas sedekah itu; dan oleh karenanya, Nurqom, Insya Allah mendapat pahala dari Nya. Yang menjadi persoalan adalah, apakah sedekah itu diniatkan untuk mencari ridho Allah س, atau sekedar memberi saja”; Mathari menyela, “Bagaimana cara mencari ridho Allah س atas sedekah?”.

Banas mengemukakan, “Salah satu tanda mencari ridho Allah س yang diniatkan; bias dalam batin bisa juga diikrorkan; atau dengan mengucap bismullahirrohmanirrohim“; Mathari puas mendengar penjelasan itu, kini uneg-unegnya semakin berkurang; keduanya lalu berpisah mengakhiri perbincangan.

Advertisements
Posted in: Public Issues