025. IBADAH

Posted on 27/06/2015

0


Gaul Komunitas Islam ep. 025. Dalam Al Quran, Allah س antara lain menegaskan, “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi Nya; demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah)”. Ayat ini harus menjadi sumpah bagi semua umat untuk meraih ridho Nya.

Sesudah membuka tausiah ba`da dhuha di masjid kompleks, Banas menceriterakan, seseorang bertanya, kenapa dirinya seringkali merasa malas menunaikan ibadah; lalu dikatakan, keadaan seperti ini, mungkin saja dialami oleh banyak orang. Kemudian Banas mengisahkan, bagi sebagian besar orang, tidak menyadari makna kata-katanya tadi; karena sesungguhnya menjalani kehidupan dan mengalami kematian adalah ibadah.

Setelah berhenti sejenak lalu dikatakan, “Marilah menyatukan pemahaman, setiap perbuatan kaum mukmin adalah ibadah; karena makna ibadah adalah semua aktifitas yang dilandasi keberimanan kepada Allah س dan keberimanan kepada Rasulullah ص. Dengan demikian, yang boleh mengatakan malas beribadah, hanyalah kaum kafir; marilah kita cermati QS Al An`am (6):162, terdapat firman Nya,

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢

Arti ayat ini, Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Melalui ayat ini, Nabi Muhammad Rasulullah ص mendapat perintah Allah س untuk memberi penegasan, setiap perbuatan yang dilakukan sejak lahir sampai mati yang dilandasi keberimanan kepada Allah س dan Rasulullah ص, adalah ibadah”.

Lalu dikatakan, “Dalam kehidupan sehari-hari, ibadah diartikan dengan melaksanakan perintah, antara lain shalat, puasa, zakat dan berhaji. Pengertian ini sangat salah, karena sesungguhnya, ibadah, berasal dari Bahasa Al Quran yang diindonesiakan, artinya, menghamba, mengabdi dan menyembah kepada Allah س . Hal ini sesuai dengan firman Nya dalam QS Adz Dzariyat (51):56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦

Ayat ini memiliki makna, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku. Dalam ayat ini terdapat lafadz إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, arti harfiahnya kecuali mereka (jin dan manusia) untuk menyembah Aku; pemberian arti menyembah berasal dari lafadz اعْبُدُ dibaca a`budu diindonesiakan menjadi ibadah”.

Setelah berhenti sebentar, lalu diteruskan, “Dari pandangan yang paling mendasar, ibadah dibedakan menjadi ibadah mahdah dan ibadah ammah. Maksud ibadah mahdah adalah segala ketaatan atau pengabdian kepada Allah س yang telah ditetapkan secara pasti melalui firman Nya dalam Al Quran atau tuntunan Rasulullah ص melalui Al Hadis. Sedangkan ibadah ammah, adalah segala ketaatan atau pengabdian kepada Allah س yang tidak ditetapkan secara pasti melalui firman Nya dalam Al Quran tetapi dituntunkan dalam Al Hadis.

Lalu diteruskan, “Ibadah mahdah adalah ibadah yang pelaksanaannya telah pasti, misalnya shalat; ibadah ini ditetapkan Allah س melalui Al Quran, pelaksanaannya dituntunkan Rasulullah ص, antara lain tuntunan tentang waktu shalat, jumlah rakaat dan lafadz bacaannya. Ketetapan ibadahnya bersifat pasti dan dilarang mengubah tuntunannya; misalnya ketetapan Shalat Subuh; Rasulullah ص menuntunkan dua rakaat sehingga diharamkan menambah menjadi tiga atau empat rakaat. Juga diharamkan menambah lafadz bacaannya; misalnya menambah pembacaan Surah Al Fatikhah pada saat attakhiyat”.

Lalu dikatakan, “Ibadah ammah, adalah ibadah yang pelaksanaannya tidak diatur secara pasti; misalnya Shalat Lail atau Shalat (di) Malam (hari), antara lain Shalat Lail di Bulan Ramadhan atau Shalat Tarawih. Melalui QS Al Baqarah (2):185, antara lain difirmankan kewajiban berpuasa di Bulan Ramadhan, lalu pada akhir ayat ditegaskan, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Maksud lafadz atas petunjuk Nya adalah melalui tuntunan Rasulullah ص; dalam kasus Shalat Tarawih disertai Shalat Witir, beliau memberi tuntunan, jumlah rakaatnya boleh memilih, sebelas, duapuluh satu atau empat puluh satu; waktu pelaksanaannya harus malam hari sesudah Shalat Isya; dimulai jam berapa boleh memilih, boleh mulai jam 20, mulai jam 24 atau jam berapapun, yang penting sebelum masuk waktu Shalat Fajar. Contoh lain adalah berbuat baik kepada ayah-ibu; Allah س telah menetapkan ibadah ini; pelaksanaannya dituntunkan Rasulullah ص tetapi tidak terjadwal seperti ketetapan shalat. Begitu juga dengan sedekah, Allah س menetapkan kewajiban sedekah dan siapa penerimanya, lalu Rasulullah ص memberi tuntunan; dalam hal ini, tuntunannya tidak mengatur kapan harus bersedekah, berapa besar sedekah, dsb”. Seusai berhenti bicara, Banas menutup tausiah; dari para taklim terlihat kepuasam di wajahnya; terbersit keinginan untuk selalu menimba ilmu dari tausiah semacam ini.

Advertisements
Posted in: Public Issues