020. LAHIR CACAT

Posted on 27/01/2015

0


Gaul Komunitas Islam ep. 020. Dalam Al Quran, difirmankan “Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna”. Dalam menunggu kelahiran, kesempurnaan selalu menjadi teka-teki orangtua saat menunggu kelahiran si kecil. Ssempurna atau cacatkah, si pendatang yang baru lahir ?

Witness dan Nurqom pusing tujuh keliling; sudah lebih seminggu ini keduanya bolak-balik ke RSIA, memeriksakan Maria yang akhir-akhir ini selalu demam; panasnya kadang-kadang melebihi tiga puluh delapan derajat Celcius. Tak urung, Mathari dan isterinya juga bergiliran mengantar dan menjemput di rumah sakit. Di kantor, di rumah, di RSIA, seringkali pikiran Mathari tak habis pikir akan kondisi kesehatan cucunya. Dokter menerangkan, Maria memiliki kelainan jantung bawaan. Iapun mereka-reka, apakah ini karunia Tuhan sebagai akibat dari kehamilan di luar nikah? atau karena melanggar larangannya sebab menikahkan anaknya dengan lelaki yang baru belajar mengucap Syahadat, alias belum muslim beneran. Tiba-tiba saja Banas menepuk pundak Mathari, sambil mengatakan, “Kok merenung terus. Apa yang dipikir, bukankah cucu kesayangan sudah diaqiqahkan”. Sesudah keduanya duduk berhadapan, Mathari menceritakan uneg-uneg dan pertanyaan, atas sakit cucunya. Lalu Banas mengajak mencermati sebagian lafadz dalam QS Al Hajj (22):5, difirmankan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئاً وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ ﴿٥

Dalam ayat itu, antara lain terkandung makna, … kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, ….dst. Janganlah berpikiran sendiri untuk mengkaitkan antara ini dan itu dengan sakit cucumu. Tuhan memang menciptakan manusia, ada yang sempurna dan ada yang tidak sempurna. Dan harus menyadari, semua itu Karunia Allah س dan dipastikan ada hikmah atas semua itu”.

Lalu lanjutnya, “Selain itu, ada tuntunan Rasulullah ص melalui HR Muslim dari Imran Ibnu Hushoin ر; dikisahkan, bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah menemui Nabi ص; dia sedang hamil karena zina, dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku harus dihukum, lakukanlah hukuman itu padaku”. Lalu Rasulullah ص memanggil walinya dan bersabda, “Berbuat baiklah padanya, apabila ia melahirkan, bawalah bayi itu kepadaku”. (setelah lahir dan dibawa kepada beliau) Lalu beliau menyolatkannya. Berkatalah Umar, “Apakah baginda menyolat-kannya wahai Nabi Allah, padahal ia telah berzina?” Beliau menjawab, “Ia benar-benar telah bertaubat yang sekiranya taubatnya dibagi antara tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya cukup buat mereka. Apakah engkau mendapatkan seseorang yang lebih utama daripada ia menyerahkan dirinya karena Allah?”. Hadis ini memberi tuntunan, sesungguhnya bayi yang terlahir dari ibu apapun statusnya, tidak menanggung resiko atas perbuatan ibunya. Dengan demikian, kecacatan sejak lahir, bukan disebabkan oleh kejahatan pernikahan orangtuanya”; terdengar Mathari menyela, “Adakah sesuatu kecacatan itu merupakan balasan atas dosa orangtuanya?”.

Mendengar pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Dalam Al Quran telah tercatat firman Nya yang dibukukan menjadi QS Isra’ (17):72,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً ﴿٧٠

Arti ayat ini, Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan. Makna penting dari ayat ini yang terkait dengan kecacatan cucumu, menjadi penegas, sesungguhnya Allah س menjadikan anak turun Adam, yaitu kita ini, sebagai mahluk paling sempurna”.

Lalu diteruskan, “Seandainya, kecacatan dianggap sebagai kesengsaraan dan kesempurnaan jasmani sebagai kebahagiaan, maka semuanya itu sudah tertulis sejak bayi berupa janin. Marilah mencermati HR Anas bin Malik dan Muslim عهما; yang mengisahkan, Rasulullahص bersabda : “Sesungguhnya Allah س mengutus malaikat ke dalam rahim. Malaikat itu berkata: Ya Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging. Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata: Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rejekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan dalam perut ibunya. Melalui Hadis ini, kita memperoleh pembelajaran, sesungguhnya sempurna atau tidak sempurna manusia sudah menjadi ketetapan Nya; ditetapkannya sejak masih bersemayam dalam rahim”.

Mathari mendengarkan dengan seksama seluruh nasehat Banas; meski hatinya masih ingin memberontak, tetapi dikembalikan pada Kuasa Nya jua. Kini keduanya berpisah, kembali bekerja. Ketika berpisah, Banas berpesan, agar Mathari dan siapapun, selalu menerima Kehendak Nya. Melahirkan bayi lelaki, perempuan, sempurna, cacat, semua harus diterima sebagai Karunia yang tak bisa ditakar.

Advertisements
Posted in: Parent Issues