019. MODAL DASAR

Posted on 27/12/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 019. Dalam Al Quran terdapat firman Nya yang menegaskan, sejak ditiupkannya ruh pada janin dalam rahim, si janin sudah bersaksi akan keeasaan Nya. Lalu ia mendapat karunia pendengaran, penglihatan dan hati sebagai modal dasar untuk menempuh perjalanan hidup. Bagi yang memaksimalkan fungsi ketiganya di jalan yang diridhoi Nya, dijamin selamat hidupnya.

Angin semilir lirih menembus serambi masjid di kompleks, ketika tausiah ba`da dhuha akan dimulai; kemudian Banas bersegera membuka tausiah, lalu diteruskan, “Ketika Allah س mengijinkan terjadinya pembuahan dalam rahim, para Malaikat menunggu didalamnya; penjelasan ini dapat ditelaah dari HR Anas bin Malik dan Muslim عهما; yang mengisahkan, Rasulullah ص bersabda “Sesungguhnya Allah س mengutus malaikat ke dalam rahim. Malaikat itu berkata, “Ya Tuhan!”; lalu dikatakan, “Masih berupa air mani”. Kemudian Malaikat berkata, “Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah”; lalu diteruskan, “Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging.” Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat akan berkata, “Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rejekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan sejak dalam perut ibunya”.

Kemudian dikatakan, “Melalui Hadis tadi, Rasulullah ص memberi tuntunan, bagaimana proses kehidupan dimulai sejak janin dicipta. Ketetapan yang berlaku, yaitu ditetapkannya jenis kelamin (lelaki atau wanita), perjalanan hidupnya (sengsara atau bahagia), kesakinahannya (miskin atau kaya), dan perjalanan akhir hidupnya (berapa usianya dan bagaimana akhir hayatnya, apakah khusnul khotimah atau su`ud khotimah). Alhamdulillahnya, tidak satupun manusia yang masih ingat perintah Allah س kepada Malaikat Nya. Bila mampu mengingatnya, malahan menjadi ganjalan dalam hidup; karena tahu bagaimana takdir dirinya. Bisa-bisa malahan tidak bisa tidur karena umur sekian akan mati, atau kapan menjadi kaya atau kapan jatuh miskin”. Lalu diteruskan, “Setelah mencapai usia empatpuluh hari, ditiupkan ruh ke dalam janin, lalu Allah س berdialog dengan janin, yang difirmankan dalam QS A’raf (7):172,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢

Arti ayat ini, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Pengakuan ini dapat dianggap sebagai awal syahadatnya seorang manusia, yaitu ketika masih berada dalam rahim; ketetapan ini berlaku bagi semua manusia atau disebut dengan bani Adam”. berhenti sejenak karena ada yang ingin bertanya; setelah disilahkan, ia bertanya, “Bagaimana kalau ibu yang mengandungnya beragama Non-Islam?.

“Dalam ayat tadi, dengan jelas ditegaskan lafadz “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”; begitu jawab Banas; lalu dikatakan, “Para Ahli Tafsir memaknakan lafadz “kami” dalam ayat tadi, yaitu bani Adam; dengan demikian, dialog antara janin dengan Allah س adalah berlaku bagi semua janin dalam rahim, baik dari rahim ibu yang muslim maupun Non-Muslim”.

Kemudian diteruskan, “Sesudah janin memiliki catatan takdirnya dan menyatakan kesaksian atas ke Maha Esa an Allah س, lalu Dia mengaruniakan bekal lainnya, sebagaimana difirmankan dalam QS As Sajdah (32):7-9,

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ ﴿٩

Arti ayat ini, Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya, ruh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Dalam ayat ini terdapat penegasan, sesungguhnya setiap manusia telah diberi pendengaran, penglihatan dan hati sejak dalam kandungan, sebagai modal dasar untuk menempuh perjalanan hidup; optimalisasi ketiga modal dasar ini pada jalur Islami, Insya Allah dapat membawa peraihan surga Nya”.

Lalu dikatakan, “Kalau kita mendengar atau melihat, lalu segala sesuatu yang didengar atau dilihat itu diolah dalam pikiran; kemudian keputusan akhirnya adalah pada hati, atau sering disebut dengan nurani. Atas dasar ini, marilah kita mendengar yang Islami, melihat yang Islami dan mengambil keputusan secara Islami; yaitu segala keputusan yang didasarkan pada Al Quran dan Al Hadis”. Usai berkata begitu, Banas mengakhiri tausiah disertai doa penutup; para taklim terlihat puas memperoleh perluasan wawasan dalam tausiah ini.

Advertisements
Posted in: Parent Issues