018. KEKAHAN

Posted on 27/11/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 018. Melalui suatu Hadis, Nabi ص menuntunkan, bahwa sesungguhnya jiwa bayi yang baru terlahir dalam keadaan tergadai; maksudnya, si kecil memiliki hutang sedekah yang harus dibayar oleh orangtuanya. Cara pembayarannya, dengan menyelenggarakan upacara Aqiqahan atau disebut Kekahan; tentunya, bila mampu. Kekahan dapat dilaksanakan pada hari ke 7, 14 atau 21 dengan menyembelih kambing. Bagaimana cara melaksanakan kekahan?

Cucu Mathari telah lahir, meski belum lagi cukup delapan bulan usia kandungan Nurqom; sedangkan Witness, suaminya, juga menyambut kelahiran ini; malahan, tidak mempermasalahkan kelahiran yang begitu cepat. Kalau begitu, ini menjadi salah satu bukti firman Nya, perlunya dipasangkan pezina dengan pezina; sebagaimana difirmankan Allah س dalam QS An Nur (24):3; yaitu keduanya saling memahami alam perzinahan. Kabar gembira kelahiran cucunya ini disampaikan Mathari ketika bertemu Banas saat istirahat di kantor; lalu ditanyakan apakah perlu diselenggarakan acara Kekahan.

Banas mengemukakan, “Dalam meneguhkan keimanan, kaum Muslim berpedoman pada Al Quran, Al Hadis, Ijma’ dan Ijtihad. Dalam kaitannya dengan Kekahan, Al Quran tidak menerangkan; karena itu bisa merujuk Hadis, misalnya dalam HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah عنهم; dikisahkan, Rasulullah ص bersabda,”Tiap anak itu tertanggung atau tergadai dengan aqiqah yang harus disembelih untuknya pada hari ketujuh dan pada hari itu dia diberi nama dan dicukur rambutnya”. Terlihat Mathari mengangguk-angguk; lalu diteruskan, “Makna lafadz tergadai, mengisyaratkan adanya hutang yang hendaknya dibayar dengan menyembelih hewan sebagai sedekah, sekaligus mencukur rambut bayi dan pada saat dilaksanakannya acara Kekahan, si bayi diberi nama”; Banas berhenti bicara, ketika Mathari bertanya, “Kalau melaksanakan Kekahan dalam waktu singkat, sepertinya belum bisa; apakah bisa ditunda?” Untuk menjawab pertanyaan ini, Banas mengatakan, “Kalau begitu, mari kita merujuk pada HR Al Baihaqi ر; yaitu Rasulullah ص bersabda,”Aqiqah itu menyembelih hewan pada hari ke tujuh, pada hari ke empat belas dan pada hari ke dua puluh satu”. Dengan mengikuti tuntunan ini, pelaksanaan Kekahan dapat dilakukan pada hari ke tujuh, empat belas atau ke dua puluh satu; jadi tidak ada masalah, bila dilaksanakan pada hari ke tujuh, ke empat belas atau pada hari ke duapuluh satu sejak kelahiran bayi”.

Banas menambahkan, “Ada pendapat, bayi lelaki disembelihkan dua ekor kambing; sedangkan untuk bayi perempuan, cukup seekor. Kenapa ada perbedaan, mungkin karena dalam hukum waris, lelaki memiliki dua bagian sedangkan perempuan mendapat satu bagian. Bagaimana Rasulullah ص melaksanakannya?; marilah kita merujuk pada HR Ummu Karz Al Ka’biyah ر, ia mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, ”Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang mirip, sedangkan untuk anak perempuan, seekor kambing”. Dalam kehidupannya, Rasulullah ص juga mengadakan Kekahan bagi anaknya, yaitu Hasan dan Husein عنهما. Kekahan dilaksanakan pada hari ke tujuh, dengan menyembelih dua ekor domba bagi setiap anaknya. Lalu Rasulullah ص mencukur dan menimbang rambut anaknya. Berat timbangan rambut ini menjadi ukuran nilai sedekah bagi anak-anaknya; beliau memberi nama juga pada hari dilaksanakannya Kekahan”.

Lalu dikatakan, ”Yah, kalau setuju, ikuti saja makna yang tersurat dalam Hadis-hadis tadi. Menurutku, berbuatlah sesuai kemampuan; jangan memaksakan diri. Dan patut diingat, Islam melarang berlaku berlebihan; apalagi dengan mengatasnamakan untuk melaksanakan Aqidah Islam”.

Mathari mengemukakan, karena Kekahan tidak diwajibkan melalui Al Quran tetapi dituntunkan dalam Hadis, apakah kita dibolehkan tidak menyelenggarakan Kekahan?” Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Memang betul, Allah س tidak mewajibkan Kekahan; tetapi Rasulullah ص telah memberi tuntunan sebagaimana dikisahkan dalam Hadis-hadis tadi. Baginda Rasulullah ص memberi tuntunan dan melaksanakan Kekahan, tentu ada fadilah yang belum diketahui manusia; kalau tidak ada kegunaannya, niscaya beliau tidak menyelenggarakan Kekahan dan tidak mengeluarkan tuntunan itu”; berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Dalam acara Kekahan nanti, si bayi diberi nama dan dicukur rambutnya”. Pertemuan keduanya berakhir, ketika waktu istirahat sudah menjelang akhir; lalu keduanya ke kantin, makan siang.

Advertisements
Posted in: Parent Issues