017. NAMA YANG BAIK

Posted on 27/10/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 017. Dalam Al Quran ditegaskan, Allah س melarang memanggil dengan panggilan yang buruk. Lalu dalam suatu Hadis, Nabi ص menuntunkan, agar orangtua memberikan nama yang baik bagi anak-anaknya, boleh menggunakan nama Nabi/Rasul dan nama beliau sebagai nama anak. Baginda mewanti-wanti, jangan menggunakan sebutan Rasulullah menjadi nama seseorang, karena Rasulullah adalah gelar.

Mathari dan isterinya duduk bersama anak perempuannya, Nurqom yang didampingi Witness, menantunya; mereka berempat sedang membicarakan nama yang bakal diberikan kepada si mungil yang baru lahir. Ditengah kemerduan tangis bayinya, terucap kata-kata Nurqom yang menanyakan nama apa yang paling baik. Mathari ingat secarik kertas yang diselipkan Banas saat di kantor; dibukanya kertas itu, lalu dikatakannya, “Ketika saya tanya mengenai nama yang ingin kuusulkan bagi cucuku, Banas memberitahu, perlunya memuliakan anak dengan cara memberi nama yang baik. Disebutkan juga, kelak di Hari Kiamat, setiap manusia dipanggil berdasar nama dirinya dan nama ayahnya. Ketiganya tekun mendengar tausiah Mathari yang ibarat Ustadz, diselingi dengan tangis bayi perempuannya yang tidak begitu kencang; malahan terdengar terputus-putus. Seketika itu, Nurqom bertanya, “Lalu bagaimana nama yang baik?” Kini, keempatnya saling berpandangan.

Setelah beberapa saat, kebuntuan terpecahkan bicara Mathari, seolah-olah mewakili Banas, “Dalam cacatan ini, Banas menuliskan HR Abu Darda’ ر, bahwa Rasulullah ص bersabda, “Sesungguhnya kalian akan diseru pada Hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian, maka perbaguslah nama kalian”. Hadis ini menerangkan, setiap umat dipanggil dengan menyertakan nama ayahnya; karena itu, dalam budaya Islam, setiap nama tidak lupa mencantumkan nama ayahnya”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Banas juga menuliskan disini HR Abu Dawud ر, dikisahkan dari Abi Wahab Al Jusyammi, dia mempunyai sahabat, ia pernah berkata, Rasulullah ص bersabda, Hendaklah kalian mempunyai nama dengan nama para Nabi”. Dalam Hadis ini terdapat tuntunan untuk memuliakan anak dengan memberi nama mencontoh nama para Nabi. Selanjutnya, Banas menuliskan catatan, tuntunan Rasulullah ص dalam HR Jabir bin Abdullahر, ia berkata, Seseorang diantara kami mempunyai anak; ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang itu berkata kepadanya, “Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama beliau”. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong diatas punggungnya untuk menemui beliau. Setelah sampai dihadapan beliau, ia berkata, “Ya Rasulullah ! Anakku ini lahir, lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku, ‘Kami tidak akan membiarkanmu memberikan nama dengan nama Rasulullah”. Kemudian beliau bersabda, “Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan nama julukanku; Rasulullah adalah julukanku. Karena, aku adalah Qasim; aku membagi diantara kalian”. Berhenti sejenak, karena Nurqom menengok bayinya yang memperdengarkan merdunya tangis; setelah mengganti popoknya yang basah, lalu kembali bergabung. Ketika sudah komplit berempat, Mathari membaca catatan dari Banas, yang memuat sebagian dari ayat dalam QS Al Hujarat (49):11,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١

Dalam ayat ini antara lain difirmankan, ……. janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. Setelah membaca lafadz ini, Mathari menyampaikan pesan Banas, janganlah nanti memberi nama panggilan yang tidak pantas didengar.

Lalu Mathari meneruskan “Menurut hemat saya, dalam Budaya Jawa, nama diistilahkan dengan tetenger (Jawa: tanda). Banyak tetenger berasal dari rangkaian nama ayah dan ibunya. Ada yang menyeuaikan dengan bulan kelahirannya, misalnya Ramadhani, Rajab, Agustina, Apriliana, dsb. Melalui tetenger inilah, orangtua menorehkan harapan bagi si anak, agar sesuai dengan makna tetengernya”. Lalu Witness menyela, “Saya juga sudah lama memikirkan nama. Setelah mendengar penjelasan ayah, aku usulkan nama anakku, Maria Winur; Maria dari Bunda Maria ditambah rangkaian namaku dan isteriku, Wi(tness) dan Nur(qom).”. Diskusi keluarga kecil malam itu diakhiri, dan sepakat pemberian nama seperti usul Witness, meski Mathari masih mengganjal dengan penyebutan Bunda Maria yang sama sekali Non-Islami.

Hati kecil Mathari bergejolak, tetapi apa mau dikata, menantunya non-islam. Selain itu, masih ada satu ganjalan lainnya, nama ayah yang disandang cucunya, apakah memang ayah inilah yang pertama kali menyemai janin dalam rahim anak tirinya? Pertanyaan seperti ini, muncul berulang-ulang selama mereka berbincang; bukankah keluarga ini mengetahui, Nurqom sudah mengandung janin sejak sebelum dilamar Witney? Pikiran Mathari melayang jauh, bila menggunakan konsep budaya Jawa, dalam tetenger tersimpan harapan, apakah nantinya si cucu perempuan ini diharapkan oleh orangtuanya dapat menjadi penerus Bunda Maria? Bergelung-gelung pikiran, hati dan jangkauan ke depannya; Masya Allah, begitu desah lirih Mathari.

Ketika mengakhiri bincang-bincang ini, Mathari mengemukakan, hendaknya orangtua selalu berdoa agar di kelak kemudian hari, anaknya mampu merealisasikan harapan orangtuanya sesuai dengan nama yang disandangnya. Apakah Anda telah memaknai nama Anda sesuai dengan harapan orangtua?

Advertisements
Posted in: Public Issues