016. KELAHIRAN

Posted on 27/09/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 016. Bila tangis bayi ketika terlahir mulai terdengar, kegembiraan menyelimut ke seantera perasaan. Dalam salah satu Hadis, Rasulullah ص menerangkan, tangis bayi itu karena sentuhan setan. Dalam Al Quran, Allah س berfirman, bayi dilahirkan dalam keadaan bersyahadat dan fitrah, sekalipun dari rahim non-muslim. Bagi bayi, sesungguhnya ia harus bersiap memulai beban baru, sebagai Khalifah.

Untuk mengisi tausiah ba`da dhuha yang menjadi gilirannya, Banas mengajak para taklim untuk semakin meningkatkan keimanan menuju pada ketakwaan yang sempurna. Dalam tausiah kali ini, Banas mengemukakan, “Sesungguhnyalah manusia itu adalah ciptaan Nya, berasal dari saripati yang berasal dari tanah; marilah kita cermati firman Nya dalam QS Al Mu’minun (23):12-14, difirmankan

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ﴿١٣﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ﴿١٤

Makna ayat ini, (12) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (13) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (14) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Dalam ayat ini terdapat pembelajaran, sesunggahnya manusia berasal dari saripati dari tanah. Maksudnya, setiap makanan manusia, dipastikan berasal dari sesuatu yang tumbuh di tanah; padi, gandum, atau apapun jenis makanannya, tumbuh di tanah. Sebagian makanan yang masuk ke dalam tubuh, tersisih menjadi saripati, kemudian berbentuk sperma yang disimpan di dalam sulbi atau tulang ekor. Lalu dipancarkan ke dalam rahim; dari sinilah kemudian terjadi pembuahan dan berproses seperti maksud yang tersurat dalam ayat tadi. Adapun maksud dari lafadz Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain, adalah dari semula berbentuk segumpal daging dibungkus tulang belulang lalu diubah bentuknya menjadi bayi manusia”; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Kelahiran terjadi, jika usia kandungan sudah cukup; dalam berbagai penelitian ilmu pengetahuan disimpulkan, usaia kandungan yang normal adalah sembilan bulan dan sepuluh hari. Lalu atas ijin Allah س terlahirlah bayi yang telah cukup usia kandungannya; marilah kita cermati firman Nya dalam QS Fathir (35):11,

وَاللَّهُ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجاً وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلَا يُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴿١١

Makna ayat ini, antara lain, Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan Nya. …dst. Melalui ayat ini, sekali lagi, Allah س menegaskan kisah penciptaan manusia; selain itu, Dia menegaskan, atas ijin Nya saja seorang ibu melahirkan bayinya. Ketika dalam kandungan, si ibu semakin mengalami kondisi lemah seiring dengan bertambahnya usia kandungan; hal ini difirmankan dalam QS Luqman (31):14. Selanjutnya, proses melahirkan, bukan hal yang mudah; setiap ibu dipastikan mengalami kesakitan, walau dilalui dengan cara cesar; gambaran dalam Al Quran dikisahkan melalui proses kelahiran Nabi Isa ع sebagaimana tercantum dalam QS Maryam (9):23 dengan firman Nya,

فَأَجَاءهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنتُ نَسْياً مَّنسِيّاً ﴿٢٣

Artinya, Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam, bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Melalui ayat ini dikisahkan, betapa Maryam ingin rasanya mati saja, daripada mengalami sakit ketika melahirkan. Kisah ini memberi tuntunan, betapa seorang ibu memikul beban berat dalam meneruskan keturunan”; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Bagi bayi, kelahiran menandai dua peristiwa penting; pertama, si bayi mengakhiri kehidupan dalam kandungan; yang kedua, si bayi mulai mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Marilah kita menjalani hidup ini, sebagai khalifah”. Seusai berkata begitu, Banas mengakhiri tausiah, disertai dengan lantunan doa, semoga Allah س selalu menambahkan barakah Nya kepada setiap umat Nya, terlebih lagi kepada mereka yang senang bertaklim.

Advertisements
Posted in: Public Issues