015. SHALAT NOMOR DUA

Posted on 27/08/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 015. Dalam salah satu Hadis, Rasulullah ص menuntunkan untuk bersegera shalat, bila sudah masuk waktu. Sayangnya, masih ada celoteh, shalat kan nomor dua; padahal Allah س berfirman dalam Al Quran, melarang memperolok-olok Islam. Meski memang benar, shalat adalah Rukun Islam Kedua. Bukankah kita minta disegerakan rejeki Nya, kenapa ada yang senang menunda shalat?

Siang ini, Banas, Syakirin dan beberapa teman, menelusuri jalanan yang macet; mereka mendapat tugas luar. Sekitar jam dua belas lebih sedikit, terdengar suara Adzan berkumandang dari menara mesjid, menyeruak di tengah kesibukan kota. Banas minta pak sopir menghentikan mobil, mampir ke masjid untuk menunaikan Shalat Dhuhur. Tetapi mobil melaju terus, karena salah seorang teman mengatakan, nanti shalat di kantor, waktunya masih banyak. Teman itu menambahkan, shalat kan nomor dua. Mendengar jawaban ini, teman lainnya tertawa terkèkèh, seperti mendapat kepuasan atas gurauan itu. Banas diam terpaku, sambil berpikir dan mengingat ayat dalam Al Quran yang dapat menjadi penerang bagi mereka.

Akhirnya Shalat Dhuhur ditunaikan di kantor, sekitar jam tiga; sambil menunggu datangnya waktu Shalat Asyar, Banas mengajak duduk teman-teman itu. Lalu dikatakan, “Aku sedih mendengar jawaban kalian, ketika kuajak mampir shalat di masjid tadi”; berhenti sejenak, karena temannya menyela, “Ah itu kan cuma bercanda”. “Baik”; begitu lanjut Banas, sambil mengingat-ingat; lalu dikatakan, “Aku ingat HR Abu Zar ر yang mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, di mana saja datang waktu shalat, maka shalatlah, karena di situ juga masjid. Makna Hadis ini perlu disegarkan kembali dalam ingatan kita, bersegera menunaikan shalat bila sudah masuk waktu, merupakan tuntunan ص . Lalu diambilnya Muskhaf Al Quran dan dibuka lembaran ke lembaran; lalu dibacakan ayat dalam QS Al Baqarah (2): 238,

حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨

Firman ini menegaskan, Kerjakanlah secara tetap dan sempurna waktunya semua shalat fardhu, khususnya shalat wustha dan bershalatlah semata-mata karena Allah dengan khusyuk dan taat. Dalam ayat ini, Allah س memerintahkan, mendirikan shalat secara ajeg dan sempurna dan tepat waktu; khusyu’ dapat ditandai dengan melakukan gerak shalat dan pelafadzan secara baik dan benar. Selain itu, difirmankan, jangan sekali-kali lalai shalat, terlebih Shalat Wustha (dari Bahasa Arab, wustha bermakna tengah). Para Jumhur Tafsir mengemukakan, Shalat Wustha adalah Shalat Asyar; kita harus menunaikan Shalat Lima Waktu, terlebih lagi, jangan sekali-kali meninggalkan Shalat Asyar”; berhenti bicara, terlihat teman-temannya menunjukkan wajah penyesalan. Banas mengatakan, “Untuk memahami makna penting Shalat Asyar, dapat merujuk pada tuntunan Rasulullah ص dalam HR Bukhari ر; dikisahkan, Nabi ص bersabda, “Barangsiapa meninggalkan Shalat Asyar dengan sengaja, maka Allah س akan menggagalkan amalannya (usahanya)”. Inilah salah satu bahaya, bila kita meninggalkan Shalat Asyar”. Adapun berkenaan dengan Shalat Dhuhur yang seharusnya dilaksanakan tepat waktu, marilah kita simak sebagian makna dari HR Ali bin Abi Thalib ر, ia mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Shalat Dhuhur, dimulai sejak matahari tegak di atas bumi sampai bergesar ke arah barat; fadilahnya adalah dibukanya pintu-pintu langit untuk menerima doa, yang doanya itu pasti dikabulkan”. Mengikuti tuntunan Hadis ini, bermakna, pada hari ini kita sudah terlepas dari kemakbulan doa”.

Lalu dilanjutkan, “Sehubungan dengan percandaan di mobil tadi, dengan mengatakan shalat nomor dua, mari kita cermati makna ayat dalam QS Al Maidah (5):58 yang memuat firman Nya,

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ اتَّخَذُوهَا هُزُواً وَلَعِباً ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْقِلُونَ ﴿٥٨

Melalui ayat ini, Allah س berfirman, Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. Lalu dijelaskan, “Mari kita renungkan; kalau memperolok seruan shalat atau seruan Islam, mendapat julukan tidak mau mempergunakan akal; ini bermakna menyia-nyiakan Karunia Nya, yaitu akal karena tidak untuk berfikir”. Mereka terdiam, sepertinya merasakan kesalahan yang memang lumrah dilakukan; padahal kutukan Nya sangat jelas, yaitu dimasukkan sebagai kaum yang tidak mempergunakan akal. Setelah Shalat Asyar, mereka berpisah; Banas berpesan, siapapun, sangat dilarang memperolokkan shalat, terlebih lagi memperolokkan Islam, agar terhindar dari kutukan Allah س.

Advertisements
Posted in: Public Issues