014. MENDUAKAN DIA

Posted on 27/07/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 014. Musyrik, adalah orang yang melakukan perbuatan membuat tandingan Dzat Nya; padahal dalam Al Quran sudah ditegaskan, Allah س adalah Maha Esa, tiada tandingan bagi Nya. Tidak sedikitpun ada ampunan bagi kaum musyrik; dan mereka dijerembabkan ke Neraka Jahanam, kekal. Dalam suatu Hadis, Rasulullah ص menuntunkan, musyrik adalah perbuatan yang dilaknat makhluk di bumi dan langit.

Minggu pagi ini, Banas memenuhi jadwal tausiah ba`da dhuha; seperti biasa, dilaksanakan sekitar satu jam saja. Ketika para taklim sudah memenuhi serambi masjid, Banas membuka tausiah; lalu dikatakan, “Melalui tayangan tv akhir-akhir ini, sering kita saksikan penyelenggaraan Sedekah Bumi, Sedekah Laut, sedekah di makam yang dikeramatkan, dan sebagainya. Dalam pandangan Islam, sedekah-sedekah seperti itu adalah musyrik”; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Musyrik berasal dari Bahasa Al Quran yang diindonesiakan, dari kata dasar syaraka; artinya serikat; orang yang menjadikan sesuatu memiliki sifat dan kekuasaan seperti Allah س, disebut musyrik. Hal ini bertumpu pada keyakinan dasar Islam, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Ikhlash, ayat 1-4. Surah Al Ikhlash atau yang sering dikatakan Surah Qulhu memberi penegasan bahwa sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Esa, satu-satunya, tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak ada tandingan bagi Nya dan kepada Nya saja segala sesuatu bergantung. Jadi, bila memposisikan dewi ini, dewi itu, ratu ini ratu itu, makam sini makam sana, pohon miring pohon condong, menjadi salah satu yang ikut mempengaruhi dan ikut menentukan kehidupan, maka itu namanya perbuatan syirik”; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Syirik, selain dalam bentuk perbuatan, dapat berupa sikap dan pendapat; contoh yang sangat sederhana begini; orang terjatuh karena terpeleset; lalu bilang, wah, untung pake sepatu karet sehingga dapat melindungi aku dari cedera keseleo. Orang ini sudah dapat disebut musyrik, karena sesungguhnya yang melepaskan dirinya dari keseleo adalah Allah س, bukan sepatunya; dalam kasus ini, Allah س dipersamakan dengan sepatu karet sebagai penyelamat dari keseleo”; berhenti bicara, sementara rintik hujan mulai turun di luar sana menembus sinar matahari.

Lalu katanya, “Misalnya dengan mengambil contoh Sedekah Bumi, ucapan syukur ditujukan kepada dewi ini dewi itu selaku penguasa bumi; begitu juga Sedekah Laut sebagai ungkapan syukur kepada ratu ini ratu itu, sebagai pemberi rejeki dari laut. Padahal sudah sangat gamblang, Allah س yang memberi rejeki dari bumi ataupun dari laut. Dengan begitu, pelaku sedekah itu menganggap dewi dan ratu yang diberi ucapan syukur memiliki kekuasaan seperti kekuasaan Allah س yaitu sebagai pemberi rejeki”; berhenti bicara, karena ada taklim yang ingin bertanya; setelah diiyakan, tanyanya, “Pak Ustadz, dengan contoh keseleo dan sedekah bumi atau sedekah laut, apakah memiliki bobot syirik yang sama?”.

Setelah mengatur nafasnya, Banas mengemukakan, “Dalam Islam, dikenal dua jenis syirik; satu, disebut syirik jali’ artinya syirik nyata atau syirik mutlak seperti contoh pemujaan kepada dewi dan ratu dalam sedekah tadi; perbuatan syiriknya dilakukan secara sadar dan menyerahkan rejeki hidupnya kepada yang diberi sedekah; dua, syirik asghar atau syirik khafi artinya syirik samar-samar atau syirik kecil seperti contoh orang keseleo itu; mungkin saja tidak bermaksud membuat tandingan kekuasan Allah س tetapi karena terbawa oleh kebiasan percakapan dalam keseharian”; dari taklim ada yang menyela bertanya, “Pak Ustadz, bagaimana dosanya?”.

“Dalam kasus orang keseleo, ditilik dari perbuatan syirik yang dilakukan, pada umumnya tidak menyadari sebagai perbuatan syirik dan itu disebut syirik samar; Insya Allah, syirik samar itu termasuk dosa kecil; dan Insya Allah bisa terhapuskan dengan sendirinya, yaitu dari pahala yang terkumpul atas amalan kebaikannya dan ibadah kepada Nya, misalnya dari shalat yang dilaksanakan. Tetapi semua itu kembali kepada Nya saja, karena Dia saja yang berhak mengampuni atau menyiksa umat Nya. Namun jika menyadari akan kesalahan karena berbuat syirik, sekalipun syirik samar, lebih diutamakan mengucap istighfar. Sedangkan syirik jali’ merupakan dosa besar; misalnya dalam QS An Nisa’ (4):48 terdapat firman Nya,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً ﴿٤٨

Artinya, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. Ayat ini dengan sangat gamblang menegaskan, perbuatan syirik merupakan dosa besar yang tak terampunkan”; berhenti sejenak, ada diantara taklim yang mau bertanya; setelah Banas mengangguk, lalu tanyanya, “Pak Ustadz, dengan mengambil contoh Sedekah Bumi atau Sedekah Laut; mereka umumnya juga muslim, shalat, puasa, zakat, mungkin juga haji; bagaimana ?”.

Banas menjelaskan, “Setiap muslim yang mukmin, harus meyakini, tiada tempat bergantung selain kepada Nya; rejeki, sehat, sakit, selamat, semuanya atas izin Nya saja tidak dari yang lain, sebagaimana firman Nya dalam Surah Al Ikhlash tadi. Selain itu, marilah kita cermati QS Al An`am (6):86 yang berisi firman Nya,

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ﴿٨٢

Artinya, Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan bahasa yang sangat halus, melalui ayat ini, Allah س menurunkan lafadz tidak mencampur adukkan; artinya, Allah س mensinyalir gejala kaum muslim yang mencanpuradukkan keimanan dengan kemusyrikan, seperti yang kita lihat sekarang ini. Menyatakan diri sebagai muslim, ya shalat, ya zakat, ya melakukan rukun Islam lainnya, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan yang bernuansa musyrik seperti sedekah-sedekah tadi”; berhenti sejenak.

Tak lama sesudah berhenti bicara, Banas menutup tausiah, diiring doa semoga Allah س mengizinkan bertemu lagi dalam tausiah yang akan datang, lalu diucapkan hamdalah dan salam; para taklim berkemas untuk bersegera pulang.

Advertisements
Posted in: Public Issues