013. SEDEKAH Laut

Posted on 27/06/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 013. Penyelenggara Sedekah Laut menganggap, perbuatan ini sebagai tanda syukur kepada penguasa laut, karena laut telah memberi rejeki dan keselamatan pelayaran. Menurut pandangan Islam, amalan ini musyrik; Allah س berfirman dalam Al Quran, sesungguhnya Dia saja yang mencipta laut, dan Dia menjadikan laut sebagai salah satu sumber rejeki bagi semua mahluk Nya. Jadi, Dia lah Penguasa Laut, bukan yang lain

Ketika sedang bersantai di Hari Minggu pagi, Banas kedatangan tamu; Syakirin, tetangga di kompleks yang rumahnya paling ujung. Keduanyapun asyik berbicara kesana-sini. Diantara perbincangannya, Syakirin menceritakan pemberiataan di tv tentang Upacara Sedekah Laut yang mengakibatkan dua orang menjadi korban meninggal, karena perahu yang digunakan terbalik dan hanyut oleh ombak yang datang tiba-tiba. Kemudian ditanyakan, apakah Sedekah Laut itu merupakan ajaran Islam.

Mendengar pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Sedekah Laut;, dilakukan oleh komunitas pesisir. Unsur yang mendorong dilaksanakannya Sedekah Laut, karena penguasa laut dianggap telah memberi rejeki dan telah bermurah hati untuk menyelamatkan jiwa para nelayan yang mengarungi laut sampai jauh dari garis pantai. Marilah kita cermati, ayat-ayat Al Quran yang menegaskan tentang karunia laut bagi manusia; misalnya dalam QS Al Isra’ (17):6, difirmankan,

رَّبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُواْ مِن فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً ﴿٦٦

Artinya, Tuhan mu adalah yang melayarkan kapal-Kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu. Ada dua hal yang difokuskan pada ayat ini, pertama, Dia saja yang mengizinkan perlayaran di lautan; kedua, Dia saja yang mengizinkan manusia untuk mencari karunia yang tersimpan di lautan, antara lain ikan-ikan berbagai bentuk dan berbagai ukuran. Penegasan lainnya, dapat dicermati dalam QS An Nahl (16):14; difirmankan,

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُواْ مِنْهُ لَحْماً طَرِيّاً وَتَسْتَخْرِجُواْ مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُواْ مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴿١٤

Artinya, Dan Dia lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia Nya, dan supaya kamu bersyukur. Melalui ayat ini, Dia menegaskan dengan sangat gamblang, betapa Dia telah menundukkan laut bagi manusia; untuk apa? agar manusia dapat meraih rejeki yang tersimpan didalamnya. Rejeki Nya berupa ikan, atau benda-benda yang dapat dipakai sebagai perhiasan dan menjadikan laut sebagai sarana transportasi untuk melayarkan kapal-kapal”; berhenti sejenak, karena Syakirin menyela, “Pak, dalam ayat tadi disebutkan, dan supaya kamu bersyukur, bukankah Sedekah Laut itu merupakan bentuk syukur?”; suasana menjadi hening diseling angin sejuk semilir memasuki ruang tamu.

Keheningan terpecahkan, ketika Banas bicara, “Betul sekali, setiap umat diwajibkan mengucap syukur atas seluruh karunia Nya; baik yang berasal dari darat, udara, maupun laut. Tetapi pelaksanaan Sedekah Laut tidak mengedepankan syukur kepada Allah س melainkan ucapan syukur ditujukan kepada Ratu ini, Ratu itu. Para Ratu itu tidak memberi rejeki sedikitpun, karena sesungguhnya Allah س saja yang memiliki sifat Maha Pemberi Rejeki”. Sesaat kemudian, Syakirin kembali bertanya, “Bagaimana jika Sedekah Laut itu dilaksanakan dengan cara Islami dilengkapkan dengan doa kepada Allah س, bukan doa syukur kepada ratu-ratu?”. Menanggapi pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Islam, sebagai satu-satunya agama di sisi Allah س memiliki tata cara melakukan syukur atas seluruh karunia Nya; bukan dengan mengadakan upacara seperti itu. Misalnya dengan melafadzkan hamdalah disertai doa, Ya Allah, kami mengucap syukur atas seluruh karunia yang Engkau berikan; izinkahlah kami untuk memanfaatkan seluruh karunia Mu pada jalan yang Engkau ridhoi; ini contoh saja; ucapan lain dapat direka sendiri sesuai dengan keinginannya”; berhenti sejenak.

Sesaat kemudian diteruskan, “Mengucap syukur merupakan kewajiban, seperti yang terdapat dalam firman tadi. Allah س sangat menekankan perlunya mengucap syukur, karena sesungguhnya, manusia enggan bersyukur. Sinyalemen keengganan bersyukur, misalnya dapat dicermati dalam QS Al Isra’ (17):67; difirmankan,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً ﴿٦٧

Artinya, Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih. Ayat ini menegaskan, ciri manusia jika menghadapi bahaya, selalu kembali kepada Allah س; tetapi bagi kalangan komunitas yang menyelenggarakan Sedekah Laut, apakah jika menghadapi bencana juga memohon kepada Allah س atau kepada ratu ini, ratu itu?”; tanpa menunggu jawaban, Banas meneruskan, “Jika memohon keselamatan kepada ratu ini, ratu itu, maka musyriklah mereka; padahal Allah س saja yang dapat menyelamatkan semua umat Nya. Melalui ayat ini ditegaskan, manusia, tidak suka berterima kasih; menjadi salah satu bukti, sesungguhnya Allah س Maha Mengetahui. Setelah penjelasannya dianggap cukup, tak lama kemudian, Syakirin pamit pulang, seiring dengan semakin tingginya pancaran sinar matahari menerpa permukiman kompleks.

Advertisements
Posted in: Public Issues