012. SEDEKAH Bumi

Posted on 27/05/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 012. Difirmankan dalam Al Quran, bahwa Allah س memberikan rejeki melalui bumi milik Nya. Tetapi orang melakukan Sedekah Bumi, dengan alasan sebagai tanda syukur kepada bumi. Mereka meyakini, persedekahan ini sebagai ajaran Islam, karena dibalut nuansa Islami, yaitu dimulai dengan lantunan ayat Al Quran dan diakhiri doa berbahasa Arab yang dianggap sebagai ciri Islam.

Sesampai di kampus, Narima bersama kawan-kawannya ingin menemui dosennya; saat di Ruang Dosen, yang dicari tidak ada. Mereka menunggu sambil membaca-baca koran yang tersedia. Tidak lama kemudian, yang ditunggupun datang. Setelah saling berkabar, Narima bertanya, “Pak semalam ada tayangan wayang kulit di tv dengan dalang yang sudah bertitel haji. Pak Dalang mengajak untuk melestarikan sedekah bumi sebagai bentuk ucapan syukur. Bagaimana menurut Bapak?”; suasana menjadi hening.

Sesaat kemudian, Banas menjelaskan, “Kebetulan, bapak juga menonton wayang itu; dan berulang-kali Pak Dalang menganjurkan sedekah bumi dan menyatakan bukan perbuatan haram. Sedekah bumi, dilaksanakan sebagai tanda syukur kepada dewi penguasa bumi yang telah memberi rejeki kepada manusia; tetapi betulkah dewi penguasa bumi memberi rejeki?”; tanpa menunggu jawaban, diteruskan, “Untuk menyampaikan pandangan berdasar Hukum Islam, bukan pendapatku, marilah kita cermati QS Al Baqarah (2):22, yang memuat firman Nya,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٢٢

Artinya, Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Melalui ayat ini, Dia menegaskan, sesungguhnya bumi telah dijadikan Nya terhampar luas; lalu diturunkan air dan dari air itu ditumbuhkan tanaman. Ini bermakna, Dia saja yang memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman. Kemudian dalam QS Al An`am (6):99, difirmankan,

وَهُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِراً نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبّاً مُّتَرَاكِباً وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهاً وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انظُرُواْ إِلِى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٩٩

Ayat ini diawali dengan firman Nya, Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Sekali lagi, terdapat penegasan, Dia sajalah yang menumbuhkan tanaman di bumi setelah diturunkannya air hujan; terusan ayat ini mengandung makna, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Dalam bagian ayat ini ditegaskan, Dia saja yang memperbanyak bulir buah tanaman itu, dengan contoh kurma, zaitun dan delima; dan Dia saja yang menjadikan buah itu matang untuk menjadi makanan mahluk Nya. Pada akhir ayat ini, berisi firman Nya, Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Rejeki buah-buahan yang dihasilkan dari tanaman, merupakan karunia Ilahi bagi mahluk Nya; bukan saja untuk manusia, tetapi dapat kita saksikan, burung-burung juga memperoleh rejeki dari tanaman”; berhenti bicara, karena Narima ingin bertanya; lalu katanya, “Tetapi, Pak, bukankah sedekah bumi itu diawali dengan bacaan Al Quran dan doa yang dilantunkan dalam bahasa daerah dan Bahasa Arab?”. Mendapat pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Betul, dalam upacara itu diawali dengan bacaan Surah Al Fatikhah dan diakhiri dengan doa; tetapi dalam doa yang dilantunkan dengan bahasa daerah dikatakan, terima kasih dan syukur kepada dewi ini, dewi itu, yang telah memberi kemurahan sehingga bumi menghasilkan panen yang baik, terbabas dari hama, dan sebagainya. Ucapan terima kasih dan syukur inilah yang menjadikan upacara semacam ini, tidak mencerminkan keyakinan Islami. Bukankah bumi ini ciptaan Allah س?; bukankah Dia saja yang menurunkan air hujan sehingga dari bumi bisa ditumbuhkan tanaman?; bukankah Dia saja yang menggandakan butir-butir buah dari setiap tanaman?”; mendengar penjelasan ini, teman Narima ingin bertanya; setelah Banas mengangguk, ditanyakan, “Kalau begitu, siapa yang bersalah dalam memulai upacara semacam ini?”.

Banas diam sejenak, lalu dikatakan, “Pada masa pengenalan Islam dahulu, para Ulama Islam mendakwahkan agama secara persuasif; artinya memasukkan ajaran dengan cara yang tidak mendobrak ajaran yang sudah ada, misalnya ritual sedekah kepada dewa-dewi atau disebut sedekah bumi. Para Ulama Islam masa dahulu membiarkan upacara sebagaimana telah dilakukan, dengan memasukkan unsur Islami, antara lain bacaan ayat-ayat Al Quran dan doa-doa dalam Bahasa Arab. Meski begitu, terlalu sulit untuk menelusuri sejarah, siapa yang memulai memasukkan unsur Islami dalam upacara seperti ini”; berhenti sejenak, lalu katanya, “Barangkali, bukan masanya lagi untuk mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana kita meluruskan budaya sedekah bumi agar tidak menyimpang dari keberimanan Islam”.

Mendengar penjelasan ini, Narima dan teman-teman pamit untuk kuliah, tak lupa mereka mengucap terima kasih; terpancar kepuasan memperoleh pengayaan ilmu, mungkin dalam hatinya tumbuh semangat bagaimana cara terbaik untuk menghilangkan, setidak mengurangi upacara sedekah bumi dan bentuk-bentuk sedekah semacam itu.

Advertisements
Posted in: Public Issues