011. ber SYUKUR

Posted on 27/04/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 011. Allah س berfirman dalam Al Quran, menegaskan, hak mendapat pahala bagi mereka yang mengucap syukur kepada Nya. Kemudian dalam salah satu Hadis, Rasulullah ص memberikan tuntunan, bahwa mengucapkan lafadz Alkhamdulillahi rabbil `alaminx, merupakan salah satu bentuk pernyataan syukur kepada Nya; selain itu juga telah dituntunkan, sesungguhnya, syukur adalah separuh dari iman. Bersykurlah!

Minggu pagi sesudah Shalat Dhuha berjamaah, di masjid kompleks, Banas membuka tausiah perdana, yang Insya Allah diselenggarakan secara ajeg. Pada pagi ini, Banas mengemukakan, tausiah ini terbuka untuk umum; dalam kesempatan ini, diperkenalkan para mahasiswa yang ikut bergabung. Sesaat kemudian, dibukanya tausiah dan ditanyakan, apakah ada yang ingin ditanyakan; suasana hening, seolah memberi kesempatan untuk merangkai kata guna bertanya. Keheningan terpecahkan, ketika Banas menyilahkan Rembulan yang mengacungkan tangannya; lalu katanya, “Pak Ustadz”; begitu ia memanggil dosennya ketika bertausiah di masjid ini; lalu diteruskan, “Dalam suatu peristiwa, seorang ibu muda melakukan Sujud Syukur; pada waktu di kampus, Pak Ustadz sudah menjelaskan syarat menunaikan Sujud Syukur; Pertanyaan saya, perlukah kita mengucap syukur ?”.

“Dalam perbincangan di kampus, penanya pernah mengisahkan tentang seorang ibu muda melakukan sujud syukur di Mal karena memenangkan Undian berhadiah Ibadah Umrah. Undian itu sendiri, adalah perbuatan yang haram karena maknanya adalah mengundi nasib, seperti yang dilakukan kaum kafir Kota Mekah sejak sebelum masa kenabian Muhammad Rasulullah ص yang menggunakan anak panah. Pelaksanaan sujud syukur harus memenuhi 4 syarat, yaitu satu, sujud sesaat setelah menerima berita gembira yang halal; dua, sujud dilakukan dalam keadaan suci; tiga, sujud ditunaikan di tempat yang suci; empat, sujud dilakukan dalam waktu lama dengan melafadzkan bacaan tertentu. Menjawab pertanyaan, apakah wajib mengucap syukur, marilah kita cermati makna QS Al Kautsar (109):1-2, berisi firman Nya,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢

Artinya, (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Ayat ini menegaskan, betapa banyak nikmat bagi umat Nya; diperuntukkan bagi yang beriman dan yang kafir”.Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Udara yang kita hirup sejak lahir sampai akhir hayat, diperoleh tanpa biaya; jika harus dibeli, alangkah banyak uangnya. Sinar matahari yang berguna untuk kesehatan tubuh dan pertumbuhan tanaman, juga bisa diperoleh secara cuma-cuma; seandainya harus dibeli, berapa uang yang harus dikeluarkan? Kalau mau tidur, harus mengantuk dulu, sehingga bisa mencari tempat yang aman; di kasur, di dipan atau di lantai sekalipun; bagaimana jika tidur tanpa didahulu rasa kantuk?, bisa-bisa tertidur dalam perjalanan; mungkin saat mengendarai motor atau sedang mengendarai mobil; bisa celaka”; Banas berhenti bicara, karena di sana-sina terdengar cekikikan dalam nada lirih tak beraturan.

Lalu ada yang ingin bertanya; setelah disilahkan, katanya, “Apakah ada dalil yang mengharuskan untuk bersyukur ?” Mendengar pertanyaan ini, Banas membuka Kitab Tafsir Al Quran, lalu katanya, “Dalam QS Ibrahim (7):7, terdapat firman Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧

Artinya, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu syukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka sesungguhnya adzab Ku sangat pedih”. Firman ini diwahyukan kepada Nabi Musa ع ketika para pengikutnya tidak melakukan syukur setelah diselamatkan dari kejaran tentara Fir`aun (laknatullah); lalu diwahyukan kepada Rasulullah ص; sebagai peringatan kepada kaum yang tidak syukur atas seluruh nikmat Nya. Ayat ini mengisyaratkan, agar setiap umat melakukan syukur dan dipastikan Dia menambahkan kenikmatan bagi mereka yang syukur; dan bagi yang mengingkari nikmat Nya, niscaya mendapat siksa pedih”.

Kembali ada taklim yang mengacungkan tangannya, setelah disilahkan, katanya, “Pak Ustadz, dalam ayat tadi ada lafadz yang syukur pasti ditambah nikmat Nya; maksudnya apa ?” Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Kalau kita bersyukur karena mendapat nilai yang baik bukan karena menyontek, Insya Allah, Allah س menambahkan kecerdasan kepada kita. Kalau mengucap syukur karena terlepas dari bahaya, Insya Allah, Dia menambahkan keselamatan bagi kita”; berhenti sebentar, lalu diteruskan, “Kejadian yang harus menjadi kebiasaan, adalah mengucap syukur ketika bersin; tetapi yang sering terdengar, kalau bersin malah mengumpat, karena bersin dianggap mengganggu dirinya. Betulkah pendapat seperti itu?; marilah mencermati tuntunan Rasulullah ص dalam HR Bukhari dari Ali عنهما, dikatakan, disabdakan: “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan alkhamdulillah, dan bagi yang mendengar, hendaknya mengucapkan untuknya yarkhamukallah (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu). Apabila ia mengucapkan kepadanya yarhamukallah, hendaklah orang yang bersin mengucapkan yahdi kumullah wa yushlihu balakum (Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki hatimu)”. Hadis ini memberi dua tuntunan; pertama, adab etika bersin yang menempatkan bersin sebagai nikmat Nya; kedua, mengucap alkhamdulillah mencerminkan sikap syukur. Jadi kalau kita menerima kabar yang menggemberikan lalu mengucapkan lafadz alkhamdulillah, maka ucapan itu sudah termasuk tanda syukur”. Sesaat setelah berhenti bicara, Banas menutup tausiah singkat di minggu pagi itu; para remaja terlihat puas memperoleh pengayaan ilmu ini, meski dalam benaknya masih tersimpan berbagai pertanyaan yang dapat menjadi bahan tausiah mendatang.

Advertisements
Posted in: Public Issues