010. SUJUD SYUKUR

Posted on 27/03/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 010. Dalam Al Quran terdapat firman Nya, manusia wajib bersyukur; kemudian dalam suatu Hadis, dituntunkan untuk melakukan Sujud Syukur. Rasulullah ص bersabda, tunaikanlah Sujud Syukur sesaat sesudah menerima kabar, jika kabar itu berada pada ridho Nya. Melakukannya dalam keadaan suci, bersujudnya di tempat yang suci dengan melafadzkan bacaan tertentu yang telah beliau tuntunkan.

Narima ingat, ketika bersama Rembulan bertanya kepada Pak Banas, ada satu hal yang masih mengganjal hatinya; kini, saat kuliah baru saja usai, diajaknya Rembulan dan teman lain untuk menemui dosennya itu. Saat sudah bertemu di Ruang Tunggu Dosen, Narima berkata, “Pak, kalau ada waktu, kami ingin bertanya”; Banas mengisyaratkan setuju; lalu ditanyakan, “Kenapa ibu muda yang mendapat hadiah Undian untuk Ibadah Umrah itu sujud di Mal?”; mendengar pertanyaan ini, Banas mengajak mereka duduk di ruang tamu dosen.

Katanya, “Dia bersujud, mungkin maksudnya Sujud Syukur”; lalu diambilnya Kitab Tafsir Al Quran dan Kitab Hadis; kemudian dikatakan, “Lafadz sujud, memiliki pengertian yang berkembang dalam sejarah Islam. Dimulai dari perintah Allah س kepada malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam ع, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):34. Makna lafadz sujud adalah “memberi penghormatan”; begitu juga dalam QS Yusuf (12):100, yang mengisahkan, Nabi Yusuf ع bersujud kepada ibu-bapaknya ketika keduanya berkunjung ke Mesir saat beliau di penjara; maksud sujudnya adalah sebagai “tanda berbakti”. Ada ayat yang menerangkan bersujud, tetapi kita tidak mengerti bagaimana cara sujudnya; misalnya dalam QS An Naml (16):49 difirmankan,

وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٤٩

Artinya, Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Meski tidak tahu bagaimana cara sujudnya, tetapi maksud lafadz sujud dalam ayat ini adalah tunduk dan patuh”; Banas berhenti bicara, lalu diteruskan, “Allah س berfirman yang dibukukan dalam QS Al Hajj (22):26,

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ﴿٢٦

Maknanya, Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud”. Ayat ini menegaskan, agar Nabi Ibrahim ع memelihara kawasan Ka’bah, antara lain untuk sujud secara fisik, sebagai salah satu pernyataan patuh dan taat kepada Nya saja”; saat Banas berhenti bicara, terdengar Rembulan menyela, “Yang kudengar Pak, ibu itu Sujud Syukur; apa betul begitu?; bagaimana caranya?” Banas tidak langsung menjawab, tetapi menyilahkan dua mahasiswa lagi yang ingin bergabnng; lalu katanya, “Islam mengenal Sujud Syukur; pelaksanaannya, dapat mengikuti kisah Ahmad dan dinilai shahih oleh Hakim dalam HR Abdul Rahman Ibnu Auf عنهم; ia berkata, “Nabi ص pernah sujud; beliau memperlama sujud itu. Setelah mengangkat kepala beliau bersabda, Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira, maka aku bersujud syukur kepada Allah”. Selain itu, dalam HR Al Barra’ Ibnu Azib dari Baihaqi dari Bukhari عنهم; dikisahkan, Rasulullah ص mengutus Ali ke Negeri Yaman; lalu Ali mengirim surat tentang Raja Yaman yang bersedia memeluk Islam. Setelah membaca surat itu, Rasulullah ص melakukan Sujud Syukur; saat itu beliau di masjid. Bacaan dalam Sujud Syukur, dapat mengacu pada HR Ath Thabrani ر; ia meriwayatkan, ketika Nabi Muhammad Rasulullah ص melakukan Sujud Syukur, melafadzkan bacaan :

يَا رَبِّ ٬ لَكَ لْحَمْدُ كمَا يَنبَغِي لِجَلَا لِ وَجْهِكَ ولِعَظِيمِ سُلْطَا نَكَ

Artinya, “Ya Tuhanku, bagi Mu segala puji yang layak bagi keagungan wajah Mu dan kebesaran kekuasaan Mu”; ketika Sujud Syukur, beliau memperlama sujudnya. Narima dan teman-temannya, nampak memahami penjelasan itu; lalu ditanyakan, “Pak, kalau sujudnya di Mal, atau didepan pintu penjara, atau di landasan bandara, atau di pelataran kedatangan bandara, seperti yang ditayangkan di tv itu, yang menurut saya, tempat itu tidak suci, apa bisa disebut sebagai Sujud Syukur?”.

Banas menghela nafas dan sudah memperkirakan akan ada pertanyaan seperti itu; lalu dijelaskan, “Tidak ada larangan Sujud Syukur dimanapun; tetapi dalam Fiqh Sunah diterangkan, Sujud Syukur harus memenuhi empat syarat; yaitu pertama, sujud dilakukan sesaat setelah menerima berita gembira yang khalal; kedua, dilakukan dalam keadaan suci dari hadas besar dan hadas kecil; ketiga, menunaikan sujud di tempat yang terbebas dari najis atau tempatnya suci; keempat, sujud dilakukan dalam waktu lama dengan melafadzkan bacaan tadi”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Kalau Sujud Syukur di Mal, di depan pintu penjara, di bandara, ya perlu ditelaah lagi, apakah waktu Sujud Syukur, dirinya suci dari hadas besar dan hadas kecil; apakah melafadzkan bacaan itu; dan syarat lainnya”; para mahasiswa itu nampak puas mendengar jawaban dosennya.

Alarm di HP Banas berbunyi; lalu diakhirinya dakwah singkat ini dan mahasiswa bubaran; masing-masing harus menunaikan kewajibannya. Ada yang kuliah, ada yang pergi ke kantin kampus menunggu kuliah berikutnya. Banas nampak bergegas ke ruang kuliah.

Advertisements
Posted in: Public Issues