008. PERAWAN

Posted on 27/01/2014

0


Gaul Komunitas Islam ep. 008. Dalam Kitab Al Quran terdapat salah satu ayat tentang larangan zina; bagi kaum perempuan, perilaku zina dapat mengakibatkan hilangnya keperawanan. Pada masa kini, makna modern, sering disalahartikan oleh banyak kalangan, karena ketidaktahuannya atas apa yang tersirat dalam memahami modernisasi. Sampai-sampai banyak remaja putri tidak perawan lagi, berkilah, mengikuti arus modern.

Setelah diketahuinya Pak Banas sedang tidak di rumah, beberapa remaja putri yang tinggal di kompleks, mendatangi rumahnya. Kedatangannya disambut Nyai, ibegitu sebutan isteri Banas, dan dikatakan, Bapak tidak di rumah. Mereka menjelaskan ingin bertanya kepada Nyai, yang sering memberi konsultasi keperempuanan secara Islami. Setelah berbincang diluar, disilahkannya mereka duduk di ruang dalam; setelah saling bertegur sapa lebih intens, ada yang bertanya. “Bu, dalam tayangan tv akhir-akhir ini, sering diberitakan sekian persen perempuan tidak perawan sebelum menikah Pertanyaan kami, apakah ada kewajiban dalam Islam untuk menjaga keperawanan?”; berkata begitu dengan wajah yang agak malu.

Mendengar pertanyaan ini, Nyai menjelaskan, “Ibu juga prihatin atas pemberitaan akhir-akhir ini, kenapa banyak remaja putri yang tidak perawan. Salah satu penyebab utamanya, terlalu mudahnya mengakses gambar dan film yang bernuansa pornografi. Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita cermati lebih dahulu makna QS Isra’ (17):32, yang berisi firman Nya,

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً ﴿٣٢

Artinya, Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan larangan berzina; kalau ditanya, kenapa zina dilarang, jawabannya tersurat dalam ayat ini, yaitu zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan buruk. Makna perbuatan keji adalah perbuatan yang tidak benar secara akidah dan syariah; dan makna dari lafadz jalan yang buruk adalah jalan menuju pada peraihan dosa yang bermuara pada kehidupan neraka”; berhenti bicara, terlihat para remaja mengangguk-angguk. Lalu diteruskan, “Terhadap pertanyaan kedua, dapat dijawab dengan QS An Nur (24):30, yang dalam ayat ini terdapat firman Nya,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠

Artinya, Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan kaum lelaki yang suci adalah mereka yang mampu menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”; Nyai berhenti bicara, karena ditanyakan “Bu, dari ayat itu, kan tidak ada larangan untuk perempuan?”.

Atas pertanyaan ini, Nyai menjelaskan, “Bagi kaum lelaki, diwajibkan menahan pandangan dan kemaluannya yang difirmankan dalam ayat 30; sedangkan kewajiban bagi kaum perempuan, difirmankan dalam ayat 31. Dengan demikian, baik lelaki maupun perempuan wajib menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”; terlihat ada yang mau bertanya; setelah disilahkan, tanyanya, “Kalau dari makna ayat tadi, sepertinya untuk mereka yang belum menikah; bagaimana jika sudah menikah?”. Tak lama kemudian Nyai menjelaskan, “Bagi mereka yang sudah menikah, ada baiknya memedomani firman Nya dalam QS Al Mu’minun (36):1-6,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ﴿٤﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦

Artinya, (1) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (2) (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, (3) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (4) dan orang-orang yang menunaikan zakat, (5) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (6) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Dari enam ayat tadi, terdapat penegasan, kaum mukmin yang beruntung dapat meraih surga Nya, antara lain, mereka yang dapat menjaga kemaluannya, kecuali kepada pasangan pernikahannya, atau dengan budaknya. Maksud halalnya budak ini adalah budak yang telah dimerdekakan kemudian dinikahi; bukannya menghalalkan semua budak secara sembarangan atau tanpa ikatan pernikahan”.

Sesudah mengakhiri bicaranya ini, para remaja ini berpamitan; ketika bersalaman, Nyai melantunkan doa, semoga Allah س selalu menambahkan hidayah Nya sehingga kita selalu mampu menahan pandangan dan menjaga kemaluan; para remaja pun mengamini lalu bersegera pulang.

Advertisements
Posted in: Teenage Issues