008. Mahar Pernikahan

Posted on 09/12/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 008. Mahar Pernikahan
Dalam Kitab Al Quran, Dia berfirman mengenai kisah Nabi yang didalamnya tersirat pemberian mahar atau maskwin pernikahan. Selain itu, dalam satu Hadis, antara lain dituntunkan, agar memberi sesuatu yang tidak memberatkan; sekalipun sebentuk cincin besi. Entah sedang trend atau ikut-ikutan, kini, seperangkat peralatan shalat dan Kitab Al Quran dijadikan mahar.

Rencana pernikahan Witney dengan Nurqom, anak tiri Man, sekitar empatbelas hari lagi; Banas diundang hadir dalam rapat penyiapan pernikahan atau dalam budaya Jawa disebut dengan Kumbokarnan. Meski agak terlambat, karena harus memberi kuliah, Banas datang juga; disana sudah berkumpul sanak keluarga dari pihak Man dan dari pihak Min. Sesudah Banas disilahkan duduk dan mendapat porsi hidangan; lalu disampaikan, pertemuan tinggal membahas mahar; untuk itu, Banas diminta pendapatnya.

Setelah mengatur nafas dan duduknya, Banas berucap, “Untuk memahami perihal mahar, marilah kita menelusuri terlebih dahulu, makna firman Nya,

Berkatalah dia (Syu`aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. ~ QS Qashash (28):27 ~

Melalui ayat ini, Allah س dengan sangat gamblang menegaskan melalui Nabi Syu`aib ع, mengenai dua syarat mutlak dalam Akad Nikah, yaitu ayah kandung sebagai Wali Nikah dan pemberian mahar atas permintaan dari pihak calon pengantin perempuan”; berhenti bicara; Man terlihat agak gelisah, mungkin khawatir dibahas mengenai Wali Nikah. Lalu Banas mengemukakan, “Marilah kita mencemati HR Sahal Ibnu Sa`ad Al Sa`idi ر; mengisahkan,

Ada seorang wanita menemui Rasulullah ص dan berkata: “Wahai Rasulullah ص, aku datang untuk menghibahkan diriku pada Baginda”. Lalu Rasulullah ص memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang sahabat dan berkata: “Wahai Rasulullah, jika Baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya.

Pada awal Hadis ini dikisahkan tentang seorang perempuan yang ingin diperisteri Rasulullah ص; lalu beliau mengangguk. Dalam Budaya Arab, bila mengangguk berarti tanda tidak setuju; kalau dalam budaya kita, mengangguk berarti setuju. Pada saat itu, ada seorang sahabat, artinya adalah pengikut Rasulullah ص yang ingin dinikahkan dengan perempuan itu, karena Baginda menolak menikahinya”; berhenti sejenak, diminumnya kopi yang terhidang. Lalu diteruskan, “Kelanjutan Hadis ini mengisahkan,

Beliau bersabda: “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Dia menjawab: “Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda: “Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu”. Ia pergi, kemudian kembali dam berkata: “Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu”. Rasulullah ص bersabda: “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi”.

”Pada bagian Hadis ini berisi tuntunan Baginda Nabi ص, seorang laki-laki yang hendak menikahi wanita, harus menyerahkan sesuatu pemberian, yang kemudian kita kenal dengan maskawin. Pemberian ini tidak perlu mewah, bahkan sebentuk cincin besi sudah cukup dijadikan maskawin”. Kemudian dikatakan : “Lanjutan Hadis ini berisi kisah,

Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: “Demi Allah, wahai Rasulullah, tidak ada apapun walau sebuah cincin dari besi; tetapi ini kainku”; periwayat Hadis ini, Sahal, berkata: “Ia mempunyai selendang, yang setengah untuknya (perempuan itu)”. Lalu diriwayatkan, “Rasulullah ص bersabda: “Apa yang akan engkau lakukan dengan kainmu?” Orang itu menjawab: “Jika aku memakainya, ia (perempuan itu) tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, aku tidak kebagian apa-apa”. Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri.

Kisah yang dirangkum dalam bagian Hadis ini mengemukakan, lelaki yang minta dinikahkan, tidak memiliki harta apapun sebagai pembayar mahar. Bahkan, selembar selendang yang dimilikinya itu, tidak akan cukup menutup auratnya”; Banas berhenti bicara, angin malam mulai merasuki ruang Kombakarnan. Lalu dijelaskan, “Akhir dari Hadis ini mengisahkan,

Ketika Rasulullah ص melihat orang itu (mempraktekkan memakai selendangnya), beliau berpaling; lalu beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai hafalan Al Quran?” Ia menjawab: “Aku hafal surat ini dan itu”. Beliau bertanya: “Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Al Quran yang engkau miliki”.

Dalam Hadis lainnya, menurut Muslim ر dikisahkan, Baginda bersabda padanya: “Berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia Al Quran”. Sedangkan menurut riwayat Bukhari ر; dikisahkan: “Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) Al Quran yang telah engkau hafal”. Banas berhenti bicara ketika Man menyela dengan bertanya, “Apakah dengan demikian, mahar itu bisa dianggap formalitas?”

Menanggapi pertanyaan itu, Banas mengemukakan, “Mahar bukan formalitas, tetapi wajib; untuk memahami makna mahar sebagaimana kisah dalam Hadis tadi, marilah kita cermati HR Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Hakim dari Uqbah Ibnu Amir عنهُم; bahwa Rasulullah ص bersabda: “Sebaik-baik maskawin ialah yang paling mudah”. Melalui Hadis ini, terdapat tuntunan, mahar itu wajib, tetapi janganlah mahar itu memberatkan pelaksanaan Akad Nikah”.

Ketika Banas berhenti bicara, Man bertanya, “Supaya nampak Islami, terlebih lagi, karena calon mantuku ini memeluk Islam ketika melamar, bagaimana kalau maharnya seperangkat alat shalat ditambah Kitab Al Quran?”. Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Dalam salah satu Hadis yang telah dibacakan tadi, Rasulullah ص menegaskan, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia Al Quran”. Makna yang terkandung dalam tuntunan Hadis ini menyiratkan, kalau memberi mahar Kitab Al Quran, maka ketika calon pengantin lelaki sudah syah menjadi suami, ia wajib, sekali lagi wajib, mengajarkan Al Quran kepada isterinya. Makna mengajarkan, bukan sekedar membaca dan menterjemahkan, tetapi mengajarkan, bagaimana mengamalkan semua kewajiban dan larangan yang diperintahkan Allah س. Dengan demikian, bila bentuk maharnya seperangkat alat shalat ditambah Kitab Al Quran, wah sungguh berat tugas suami dalam rumah tangga itu”. Seusai berkata begitu, Banas pamit seiring dengan selesainya pertemuan malam itu; kini hati Man makin gonjang-ganjing.

Advertisements
Posted in: Public Issues