007. Saksi Akad Nikah

Posted on 09/11/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 007. Saksi Akad Nikah
Melalui Hadis, Nabi Muhammad Rasulullah ص memberi tuntunan keabsyahan pernikahan, antara lain harus ada sedikitnya dua orang saksi. Allah س menurunkan wahyu Nya kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص berisi firman Nya dalam Al Quran , mengenai fungsi saksi dalam berbagai perbuatan; demikian juga ketika dilakukan Ijab Kabul yang didahului dengan pengucapan kalimat Syahadat.

Man dan isterinya harus berpacu dengan waktu, agar perut anaknya tidak semakin membuncit; kini sepulang dari kantor, keduanya sedang dalam perjalanan ke kediaman Banas. Sesampai di sana, Banas menyambut dengan nuansa persahabatan, mumpung masih bisa membantu orang yang memerlukan pertolongan. Nyai menyilahkan Man dan isterinya masuk ke ruang tamu di dalam, sementara itu, Banas berganti pakaian yang layak untuk menerima tamu. Sesudah berkabar sana-sini, Man dan isterinya mengabarkan, ayah kandung anak perempuannya telah membuat Surat Penyerahan Perwalian kepada Petugas KUA sebagai Wali Hakim untuk menikahkan Eyes, anak perempuannya. Lalu ditanyakan, bagaimana proses selanjutnya.

Setelah mempersilahkan minum, Banas mengatakan, “Dalam pernikahan, dilakukan Akad Nikah; yaitu pernyataan permufakatan kesepakatan untuk terikat satu sama yang dilakukan antara lelaki dengan perempuan yang akan menikah. Tanda tercapainya kesepakatan adalah melalui upacara Ijab Kabul; dari sisi kosa kata, Ijab, artinya ucapan penyerahan dari Wali Nikah kepada calon pasangan pernikahan dan Kabul bermakna ucapan penerimaan penyerahan yang dinyatakan oleh calon pasangan lelaki. Syarat syahnya Akad Nikah, dapat mengacu pada HR Imam Ahmad dari Hasan dari Imran Ibnu Al Hushoin عنهُم; bahwa Rasulullah ص bersabda, “Tidak sah nikah kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi”; berhenti sejenak ketika Man menyela.

Katanya, “Siapa yang diperbolehkan menjadi saksi?; apakah harus dari keluarga pengantin lelaki?” Atas pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Dalam Ilmu Fiqh diterangkan, saksi adalah orang yang memenuhi syarat akil baligh, sehat rohani dan mampu berfikir. Tugas saksi adalah memberi kesaksian pada saat dilakukan Ijab Kabul, apakah perserahan dari Wali Nikah dan pernyataan menerima penyerahan dari pengantin lelaki, telah diucapkan dengan benar. Karena itu, sehat jasmani tidak dipersyaratkan bagi saksi, karena seandainya saksi tidak bisa berbicara, maka kesaksiannya dapat diberikan dengan memberi isyarat; meski begitu, lebih afdhol jika saksi itu sehat rohani dan sehat jasmani”; bicara Banas terhenti, ketika Min, isteri Man, mengisyaratkan ingin bertanya. Setelah disilahkan, katanya, “Maaf Pak; kan dalam upacara Akad Nikah harus membaca Syahadatain; bagaimana ya, karena calon mantu saya non-muslim?”; suasana hening.

Keheningan pecah, saat Banas menjelaskan, “Inilah salah satu kesulitan menikahkan pasangan secara lintas agama; kalaupun mantumu menyatakan ingin masuk Islam ketika melamar, masih harus meniti ujian lain, yaitu membaca Syahadatain atau dua kalimat Syahadat. Pengucapan Syahadatain bukan sekedar bersaksi secara bicara mengenai keberimanannya terhadap Allah س dan mengakui kerasulan Muhammad Rasulullah ص; marilah kubacakan sebagian terjemahan dari ayat dalam QS Al Baqarah (2):143, terdapat lafadz, Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. …dst. Dalam ayat ini terdapat penegasan, dengan mengucapkan Syahadat, maka di Hari Kiamat nanti, Rasulullah ص menjadi saksi atas perbuatan orang yang membaca Syahadat itu. Jika dikaitkan dengan pengucapan Syahadat dalam Akad Nikah, maka beliau memberi kesaksian atas keabsyahan pernikahan itu. Begitu juga dua orang saksi dalam Akad Nikah. Di Hari Kiamat nanti para saksi ini menjadi saksi atas pelaksanaan sesuatu Ijab Kabul”; berhenti sejenak, terlihat Man dan Min manggut-manggut, mudah-mudahan tanda mengerti.

Lalu diteruskan, “Dalam pembicaraan yang lalu, aku pernah membacakan ayat QS Al Baqarah (2):221, yang didalamnya terdapat larangan pernikahan lintas agama. Kalau pengucapan Syahadat sekedar membaca tulisan, ya namanya formalitas. Padahal pelafadzannya harus dilakukan dengan hati tulus yang diwarnai oleh keberimanan. Secara duniawi, pengucapan Syahadat dapat diperlancar dengan latihan, tetapi ketulusan keberimanan tidak bisa dibantah di Hari Kiamat nanti. Allah س pasti mengetahui keberimanan orang yang mengucapkan Syahadat, apakah sekedar formalitas memenuhi ketetapan upacara ataukah memang dilandasi oleh keberimanan. Marilah kita cermati firman Nya dalam QS Ali Imran (3):98, Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?”. Meskipun ayat ini bukan untuk memberi penegasan kesaksian dalam Akad Nikah, tetapi salah satu makna terpenting yang berhubungan dengan fungsi saksi adalah, sesungguhnya Allah س tidak bisa ditipu dengan hafalnya pengucapan Syahadat”.

Lalu diteruskan, “Maknanya, kalaupun pada saat Akad Nikah telah diucapkan kalimat Syahadat, tetapi maksud yang terkandung di dalam hati kecil para pengucapnya itulah yang dapat menjadi timbangan keabsyahan pengucapan lafadz itu. Marilah kita cermati lebih jauh firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):77, Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, Dia Maha Mengetahui segala apa yang diucapkan dan semua yang tersembunyi di dalam hati. Ayat ini harus menjadi pengingat dan pedoman, jangan sekali-kali menipu Allah س melalui pengucapan, karena Allah س menilai apa yang terkandung dalam hati atas sesuatu pengucapan; terlebih lagi pengucapan Syahadat dalam Akad Nikah”.

Banas menyudahi pembicaraan, seiring dengan semakin rendahnya pancaran sinar matahari di ufuk barat. Dengan penuh ketermanguan, Man dan Min pamit pulang, sesaat setelah berterima kasih.

Advertisements
Posted in: Parent Issues