006. Mencari Wali Nikah

Posted on 09/10/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 006. Mencari Wali Nikah
Allah س menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص sebagaimana dibukukan dalam Al Quran, antara lain dapat dimaknakan sebagai ketentuan mengenai Wali Nikah; bahwa anak perempuan harus dinikahkan oleh wali; bisa ayah kandung, bisa wali hakim. Kekeliruan mengambil wali dapat menjadikan pernikahan batal secara syariah Islam.

Seperti yang sudah diperjanjikan saat di kantor, seusai pulang kantor, Man dan Min bersepeda motor ke kediaman Banas. Keduanya ingin berkonsultasi tentang Wali Nikah bagi anaknya. Sesampai di kediaman Banas, keduanya diajak ke dalam, supaya pembicaraan lebih fokus; tak lama kemudian, isteri Banas keluar membawa senampan kopi dan pisang goreng, penganan kesukaan Banas. Usai berbicara sana-sini, Man menyampaikan maksud kehadirannya; “Pak”; begitu Man mulai bicara; berhenti sejenak; Man nampak termangu, sepertinya mengatur pikiran untuk memilih kata-kata; lalu katanya, “Begini, sebenarnya Eyes, anak perempuanku itu, anak tiri. Ketika aku menikahi janda kembang ini”; begitu lanjut kisah Man sambil memandang isterinya; “Dia tidak cerita kalau punya satu anak perempuan, yang dirawat neneknya. Setelah neneknya wafat, anak itu minta sekolah di kota; barulah isteriku bicara soal anak itu. Saya bisa menerima kehadirannya, karena saya sudah cinta habis dengan emaknya”.

Hening, begitu suasana kala itu; Man makin terengah, sementara Banas merenung untuk memulai pembicaraan dari mana. Tak lama kemudian, Banas berkata, “Itu kan bagus; artinya kamu bisa tetap rukun sekalipun baru tahu punya anak tiri. Lalu apa persoalannya?” Pertanyaan ini tak segera dijawab; diminumnya kopi sesruput. Man mengemukakan, “Persoalannya, siapa yang akan menjadi Wali Nikah dalam akad nikah nanti? Hubungan isteriku dengan mantan suaminya tidak seomongan lagi. Bagaimana jalan keluarnya?”

Setelah kembali merenung sejenak, Banas mengemukakan, “Rasulullah ص bersabda yang dibukukan menjadi HR Imam Hambali ر, Tidak syah nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil. Hadis inilah yang menjadi salah satu rujukan madzhab yang banyak dianut masyarakat kita, yaitu Madzhab Syafi`i, Hanafi dan Hanbali. Para Jumhur Fiqh mengkategorikan Wali Nikah menjadi dua; pertama, Wali `Ijbar; adalah wali yang berwenang penuh atas perwalian seseorang; yaitu Ayah, Ayah dari Ayah dan Garis lurus keatas. Kedua, Wali Ikhtiyar atau Wali Mukhtar; wali yang mempunyai wewenang karena dipilih atau ditunjuk oleh Wali `Ijbar”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Kamu harus minta ayah anak itu untuk menjadi Wali Nikah; kalau tidak mau, mintalah surat penyerahan kepada Petugas KUA sebagai Wali Nikah bagi anaknya; petugas ini menjadi Wali Ikhtiyar”; setelah berhenti sesaat, lalu dikatakan, “Kenapa ayah memiliki wewenang penuh sebagai Wali Nikah? antara lain dapat ditelusuri dari firman Nya,

Berkatalah dia (Syu`aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu, Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. ~ QS Al Qashash (28):27 ~

Berhenti sejenak, Man dan isterinya disilahkan mencicip pisang goreng. Lalu dikatakan, “Melalui ayat ini Allah س mengisyaratkan dengan cara sangat halus, ayah adalah Wali Nikah yang syah dan menjadi keharusan. Karena itu, lelaki yang menjadi ayah dari janin yang disemai, baik dalam ikatan pernikahan atau diluar ikatan itu, wajib menjadi Wali Nikah untuk menikahkan anak perempuannya. Sekalipun ayah-ibu anak perempuan itu sudah bercerai dan apapun bentuk hubungan dengan perempuan yang telah melahirkan bayinya. Sekalipun pasangan perkawinan yang melahirkan anak perempuan yang akan dinikahkan termasuk kaum haram jadah, maka ayah kandung atau penyemai benih janin harus menjadi Wali Nikah. Bila ayah kandung sudah meninggal, adik laki-laki dari ayah, wajib menjadi Wali Nikah; bila ia kafir, harus diwalikan oleh saudara kandung ayah yang muslim”.

Mendengar penjelasan ini, Man dan isterinya saling berpandangan; lalu isterinya diminta menemui mantan suaminya; bagaimanapun caranya untuk menjadi Wali Nikah. Sesuai dengan saran Banas, jika mantan suami tidak bersedia menikahkan, maka ia harus membuat surat penyerahan perwalian kepada Petugas KUA sebagai Wali Hakim. Lalu diteruskan, “Dalam Hadis tadi juga ditegaskan, selain ada Wali Nikah juga harus menghadirkan dua orang saksi”; keduanyapun mengangguk-angguk. Setelah mendapat penjelasan ini, keduanya pamit dan tak lupa isteri Man kirim salam untuk Nyai, isteri Banas.

Advertisements
Posted in: Public Issues