005. Pernikahan Lintas Agama, boleh ?

Posted on 09/09/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 005. Pernikahan Lintas Agama, boleh ?
Modern menjadi argumen pernikahan lintas agama; padahal Allah س telah berfirman dalam Al Quran, yang melarang pernikahan lintas agama. Tetapi banyak yang bilang, laki-laki non-muslim halal dinikahkan dengan perempuan muslim; dengan pertimbangan, si ibu dapat menjaga keislaman anaknya.
Berhati-hatilah dalam urusan pernikahan lintas agama.

Pagi ini, rintik hujan menghias; meski begitu tak mengurangkan semangat Man-Min bertandang ke rumah Banas seperti sudah diperjanjikan. Setelah berada di ruang tamu, keduanya ditemui Banas; tak lama kemudian Nyai keluar membawa minuman dan penganan. Seusai Man berkisah berbagai hal, lalu dikatakan, “Pak, ternyata si Witney, mantan pacar Eyes, anakku, ternyata non-muslim. Bagaimana jalan keluar dari persoalan ini?”; berkata begitu, hati Man bergejolak.

Menanggapi pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Gejala pernikahan lintas agama, saat ini memang sering terjadi. Katanya, dasarnya cinta; pelukisannya, lebih cinta duniawi melalui pernikahan ketimbang kecintaannya kepada Allah س . Marilah kita cermati sedikit demi sedikit rangkaian firman Nya dalam QS Al Baqarah (28):221,

”Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.”

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Melalui ayat ini, dengan sangat gamblang Allah س menetapkan, lelaki muslim dikharramkan menikahi wanita musyrik, kecuali sudah beriman”. Kemudian dibacakan lanjutan firman Nya,

”Dan janganlah kamu menikahkan laki-laki musyrik dengan wanita-wanita mukmin, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu”.

Kemudian dikatakan, “Kedua bagian ayat ini melarang lelaki dan perempuan muslim menikahi atau dinikahkan dengan calon pasangan non-muslim. Juga dilafadzkan, sebelum mereka beriman; artinya jika calon pasangan non-muslim sudah menjadi muslim, barulah boleh dilakukan pernikahan. Dari lafadz inilah, banyak ditafsirkan, jika pernikahannya diawali dengan membaca Syahadat, dianggap syah, karena Bersyahadat dianggap sudah cukup untuk menandai keberimanannya”; sambil menarik nafas dalam-dalam, Banas meneruskan, “Beriman, tidak semata-mata ditandai dengan Bersyahadat saja; tetapi harus mematuhi Rukun Islam dan Rukun Iman secara keseluruhan. Keyakinan ini untuk menegaskan, sesungguhnya Bersyahadat belum bisa disebut muslim yang kaffah atau sempurna. Selain Bersyahadat, harus menunaikan Shalat, Shaum atau Puasa, Zakat dan rukun lainnya”; setelah berhenti beberapa saat, Banas mengemukakan, “Pada bagian akhir ayat ditegaskan,

”Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat Nya (perintah-perintah Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Kemudian dikatakan, “Maksud lafadz mereka dalam ayat tadi, adalah mereka yang non-muslim itu”; bicara Banas terhenti sejenak, karena isteri Man ingin bertanya; setelah diijinkan, lalu katanya, “Maaf, saya pernah mendengar dakwah di tv, jika Allah س menetapkan larangan, ya harus dipatuhi; manusia harus tunduk dan patuh, tidak perlu bertanya lagi. Tetapi saya pikir, tentu ada alasannya kenapa ada larangan pernikahan lintas agama. Sehingga pertanyaan saya, kenapa pernikahan lintas agama itu dilarang ?”.

Mendengar pertanyaan ini, Banas menjelaskan, “Setiap firman Nya, apakah berisi kewajiban atau penetapan larangan, dipastikan ada argumennya. Dalam hal larangan pernikahan lintas agama, marilah kita cermati makna firman Nya,

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Kharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. ~ QS At Taubah (9):28 ~

Ayat ini memberi penegasan, kaum musyrik itu najis; karena itu Allah س melarang menghiasi pernikahan dengan yang najis; sesungguhnyalah, pernikahan merupakan salah satu ibadah yang dituntunkan Rasulullah ص”.

Selesai menerima penjelasan ini, hati keduanya semakin bergolak; lalu ditanyakan dalam hati, apakah sebaiknya pernikahan ini dibatalkan? Tetapi disisi lain, hatinya berkata, nanti menanggung malu, karena anaknya melahirkan tanpa bersuami. Keluh kesah itu, ditanggapi oleh Banas, bahwa ia menyampaikan ketetapan hukum Islam, sedangkan keputusan diserahkan kepada diri pribadi. Akhirnya Man dan Min pamit pulang, dengan membawa setumpuk persoalan baru; dengan secercah harapan baru, diislamkan dulu.

Advertisements
Posted in: Public Issues