004. Membantai Janin

Posted on 09/08/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 004. Pembantaian Janin
Allah س mencipta manusia dimulai dari rahim dan Dia menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص yang dibukukan dalam Al Quran, janin adalah manusia. Dengan begitu, trend menggugurkan kandungan adalah membunuh manusia, walau masih bersemayam dalam rahim ibunya.

Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Man sudah menunggu di kantin; biasanya Banas berada disini sebelum memberi kuliah. Setelah Banas muncul, keduanya bersalaman erat, lalu duduk di meja pojok; tak lama kemudian Man berkata, “Kami sudah bermusyawarah dengan isteri dan anak kami, ingin menggugurkan kandungan”; berhenti sejenak, diperhatikannya raut wajah Banas yang tidak kaget mendengar keinginan ini. Lalu Man meneruskan, “Mumpung baru empat minggu usia janin; selain itu, kan di usia ini, belum bernyawa, jadi seperti membuang daging dari dalam rahim; lagi pula untuk menghindari malu dengan teman dan kerabat. Bagaimana hukumnya?”.

Sambil mengucap Istighfar lirih dan menarik nafas dalam-dalam, Banas mengemukakan, tidak sedikit perempuan yang menggugurkan kandungan. Entah karena malu, karena disuruh oleh pasangannya, karena takut tidak dapat menafkahi, dan berbagai alasan lainnya. Mungkin saja mereka mengetahui sanksi atas pengguguran kandungan, tetapi ketiadaan cara berfirkir yang terang telah membuat dirinya mengambil keputusan itu. Lalu diambilnya Kitab Al Quran dari dalam tasnya; setelah dibuka-buka sejenak, dibacakan beberapa ayat,

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada”. ~ QS Ath Thariq (86):5-7 ~

Banas berhenti beberapa saat, lalu dikatakan, “Dalam ayat tadi, telah ditegaskan, manusia itu diciptakan dari air yang terpancar dari antara tulang sulbi; dalam bahasa sehari-hari air itu disebut sperma atau air mani”. Lalu dibacakan lagi firman Nya dalam ayat lain,

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. ~ QS Al Mu`minun (23):14 ~

Selanjutnya Banas mengatakan, “Berdasar ayat ini, hasil pembuahan dalam rahim, sekalipun masih berbentuk darah, sudah dapat disebut sebagai manusia sekalipun masih calon bakal manusia”; berhenti sejenak. Lalu diteruskan, “Kalau ada Ustadz mengatakan tidak membunuh manusia karena usia janin belum genap empat puluh hari, maka itu terpulang pada pertanggungan jawab Ustadz itu dihadapan Allah س, Dzat Yang Maha Mencipta, kelak di kemudian hari. Sedangkan bagi kita, sudah seharusnya untuk mempertimbangkan dengan kemantapan hati nurani”.

Banas meneruskan, “Mari kita simak Kitab Bulughul Maram yang menuliskan HR Ahmad dari Abu Said Al Khudry yang dinyatakan shahih menurut Ibnu Hibban عنهم; mengisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda: “Menyembelih (membunuh) janin adalah menyembelih ibunya”. Setelah mendapat penjelasan ayat Al Quran dan pemaknaan Hadis itu, tatapan mata Man nampak kosong, menerawang jauh entah kemana. Namun Man tetap menyimak perkataan Banas meski dalam balutan pikiran yang kalut. Lalu Banas mengemukakan, “Jika daging itu dianggap benda mati, bukankah Allah memfirmankan,

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan Nya kembali, kemudian kepada Nya lah kamu dikembalikan? ~ QS Al Baqarah (2):28 ~

Dalam ayat ini ditemukan lafadz Mengapa kamu kafir kepada Allah, merupakan penegasan Nya, siapapun yang tidak mematuhi perintah dan larangan Nya, adalah kafir. Dalam kasus keinginan untuk menggugurkan janin, ayat ini harus menjadi pedoman bahwa perjalanan hidup manusia melalui empat proses. Semula daging dalam rahim dalam keadaan mati, lalu dihidupkan dengan meniupkan ruh, lalu dihidupkan di dunia, lalu dimatikan setelah menjalani hidup di dunia dan terakhir dihidupkan kembali pada Hari Kiamat nanti. Empat proses ini sudah termasuk dalam Kehendak Penciptaan Nya. Alangkah baiknya jika semua orang, laki-laki perempuan, ayah ibu, kakek nenek, kerabat dekat, kerabat jauh, tetangga, harus selalu berusaha mencegah terjadinya kehamilan tanpa ikatan pernikahan. Karena sesungguhnya, sejak terjadinya pertemuan antara sperma dengan indung telur di dalam rahim wanita, sudah tercipta manusia. Tidak harus menunggu empat puluh hari untuk dapat disebut sebagai manusia; karena sesungguhnya janin dalam rahim anakmu adalah manusia”.

Ketika Banas berhenti bicara, Man bertanya, “Mohon maaf, bukannya saya ngèyèl; tetapi benar-benar ingin tahu kebenarannya. Bukankah kandungan yang berusia belum genap empat puluh hari masih disebut janin, tidak disebut manusia?” Atas pertanyaan ini, Banas menerangkan, “Betul, namanya janin; dari Bahasa Arab, janna, artinya yang tersembunyi; yaitu manusia yang masih tersembunyi di dalam rahim. Coba dengarkan ibu-ibu yang bertanya kepada wanita hamil, sudah usia berapa anak ini; tidak ada satupun ibu yang bertanya, berapa usia janin ini; begitu tukas Banas.

Setelah berhenti bicara, Banas menambahkan, “Menggugurkan kandungan, bermakna melakukan pembantaian karena janin tak kuasa menolak perlakuan atas dirinya. Menggugurkan kandungan, salah secara agama dan salah secara peraturan perundang-undangan; dengan begitu mendapat dua jenis sanksi, dunia dan akhirat”. Lalu pertemuan keduanyapun diakhiri; kini Man mendapat beban baru, bila berketetapan hati untuk menggugurkan kandungan, sekedar menghilangkan rasa malu duniawi, maka akan berhadapan dengan hukum pidana dan kelak, siksa akhirat tetap menghadang sekalipun bukan dirinya yang menggugurkan kandungan.

Advertisements
Posted in: Public Issues