003. Pezina versus Pezina

Posted on 09/07/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 003. Pezina versus Pezina
Tidak saja lelaki, perempuan juga ada yang suka zina; padahal mereka tahu, ganjarannya dosa; dan muaranya neraka. Malahan ada yang mengeluarkan uang untuk zina; mau masuk neraka saja kok mbayar. Kenapa tidak menempuh jalan gratis untuk, Insya Allah, masuk surga? Kenapa tidak yang mudah dan nikmat di dunia dan di akhirat ? Cermatilah firman Nya dalam Al Quran, bahwa Allah س menegaskan, mereka harus menikah sesama pezina.

Setelah pembicaraan beberapa hari yang lalu, Man minta ijin datang ke rumah, ingin berkonsultasi lagi mengenai anaknya; kesepakatanpun tercapai, besok sore di rumah. Keesokan harinya, Man datang sendirian; saat itu Banas sedang menikmati udara kebun disamping rumahnya. Setelah saling berkabar, Man mengemukakan uneg-unegnya, lalu katanya, “Begini Pak, lelaki yang menghamili anakku ternyata tidak kunjung muncul”. Setelah diam beberapa saat, diteruskan, “Lalu si anak perempuan itu bertemu dengan mantan pacarnya; dan dalam waktu singkat keduanya sepakat mau menikah., untuk napak tilas kenangan lama”; berhenti bicara, lalu dikatakannya, “Bagaimana menurut Islam?” Dengan sangat hati-hati, Banas mengemukakan, “Begini Man, untuk memahami pernikahan, ada baiknya kita cermati Hadis berikut ini,

Rasulullah صbersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu”.
~ HR Abdullah Ibnu Mas`ud ر dalam Kitab Bulughul Maram ~

Kemudian dijelaskan, “Hadis ini memberikan pembelajaran, sesungguhnya pernikahan adalah sesuatu yang diwajibkan bagi orang yang memenuhi takarannya dengan berpedoman pada syariah. Dibelajarkan, kalau belum mampu menafkahi, berpuasalah karena berpuasa itu dapat mencegah dari berzina.”

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, ”Pertanyaannya, apakah mantan pacarnya itu menyadari betul siapa perempuan yang akan dinikahi; setidaknya, apakah lelaki itu tahu akan menikahi perempuan yang sudah hamil”; begitu Banas bertanya. Man mengemukakan, anaknya bilang mantan pacarnya itulah yang dahulu pertama merenggut keperawanannya. Kemudian Banas menjelaskan, “Kalau seperti itu kisahnya, sudah sesuai firman Allah س”; ketika Banas masih bicara, hati Man berdetak bangga dan merasa mendapat dukungan. Dalam hatinya berkata Alhamdulillah; karena sudah sesuai dengan firman Nya; kemudian Banas melafadzkan arti dari salah satu firman Nya,

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu (sesungguhnya) dikharamkan atas orang-orang yang mukmin. ~ QS An Nur (24):3 ~

Kemudian dikatakan, “Ayat ini menegaskan, pezina harus berkawin dengan pezina atau menikah dengan kaum musyrik; ketentuan ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Bahkan ditegaskan, kaum mukmin yang masih ting-ting baik lelaki maupun perempuan adalah kharam dinikahi atau menikahi mereka yang pernah berzina”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Berdasar ayat ini, maka pasangan lelaki perenggut keperawanan dengan perempuan yang sudah hamil diluar nikah, sudah sesuai firman Nya, karena dua-duanya sama-sama pezina. Dalam ayat ini juga ditegaskan, mereka yang musyrik harus menikah dengan yang musyrik; jangan sampai ada kaum muslim yang menikah dengan non-muslim”. Mendengar penjelasan ini, wajah Man langsung nampak mengerut; mungkin berkecamuk berbagai persoalan memenuhi pikirannya.

Banas mengemukakan, “Tanggung jawab orangtua terhadap anak, sampai pada batas sebelum menikah; tetapi bagaimanapun, di Hari Kiamat nanti semua orang, yaitu anak, remaja, ayah, ibu, kakek, nenek dipastikan diminta pertanggungan jawab dalam mendidik dan membesarkan anak. Bukankah setiap insan memikul amanah Allah س yang harus dipertanggungjawabkan, termasuk menghindarkan dari perbuatan zina”. Lalu Banas meneruskan, “Betapa sulitnya memenuhi makna dari ayat itu. apalagi bagi sebagian kaum lelaki karena sulit dideteksi, apakah sebelum melamar calon pasangannya betul-betul belum pernah berzina. Alangkah sayangnya, di Mata Tuhan, jika lelaki pezina beristerikan perempuan shalikhah atau sebaliknya. Sedangkan bagi kaum perempuan, tentu mudah mengenali pernah berzina sebelum dinikahkan oleh orangtuanya. Karena itu, sudah sepatutnya, para orangtua dan remaja bisa menjaga diri untuk menghindar dari perzinaan. Kelak di kemudian hari, saat dilakukan perhitungan pahala dan dosa, setiap orang, apakah itu orangtua atau remaja, masing-masing dihitung. Si anak tidak dapat menyalahkan orangtuanya karena kurang menjaga dirinya, dan orangtua tidak dapat menyalahkan anaknya, meskipun mengaku sudah menjaga secara baik”.

Seusai Banas berhenti bicara, Man makin menunjukkan wajah yang suntuk; kemudian pamit, perlahan-lahan mengayuh sepedanya. Dalam hatinya berkecamuk pikiran, akankah menikahkan anak perempuannya meski sesuai dengan firman Nya, karena dalam konotasi haram.

Advertisements
Posted in: Parent Issues