002. Dibentak dan Dihardik

Posted on 09/06/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 002. Dibentak dan Dihardik
Kabar tentang dosa yang ditorehkan oleh lahirnya bayi diluar ikatan pernikahan, yang kemudian disebut Haram Jadah, sungguh memilukan. Pandangan Man dan Min berubah; kini memposisikan lelaki dan perempuan penyebab kelahiran yang harus dipersalahkan. Atas terkuaknya peristiwa ini, anak perempuannya makin temperamental, untuk menutup aib.

Matahari belum lagi sepenggalah tingginya di Hari Minggu itu, Man dengan Min, isterinya, sudah memacu motor, untuk menetapi janji lepas subuh tadi. Sesampai disana, keduanya disambut Banas dengan Nyai; setelah bertegur sapa, diajaknya ke kursi taman di kebun belakang. Tak lama berselang, Man mengeluhkan respon anaknya; ketika semalem Man mengisahkan orangtua haram jadah; lalu dikatakan, anaknya membentak keras dan menyalahkan ibunya. Bahkan dengan bertolak pinggang, anaknya mengungkit broken homenya. Keluhnya terhenti, ketika Min menyela, “Serasa habis air mata saya dibentak dan dihardik; lalu siapa yang harus disalahkan?; begitu ia mengakhiri kisahnya.

Setelah mendengar kisah sedih yang diungkapkan Min, dengan penuh bijaksana, Banas mengawali dengan membacakan salah satu ayat Al Quran,

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku saja kembalimu. ~ QS Luqman (31):14 ~

Ayat ini memfirmankan nasehat Luqman, agar setiap anak bersyukur dan berbuat baik kepada ibu-bapaknya; dengan pengingatan, pengandungannya telah melemahkan ibunya. Perhatikan struktur bersyukurnya dalam ayat ini; pertama,bersyukur kepada Allah س, lalu kedua, bersyukur kepada ibu bapaknya, bukan kepada Rasulullah ص. Ini bermakna, Allah س meninggikan derajat ibu bapak”. Kemudian dikatakan, “Islam mengatur hubungan anak dengan orangtua dengan sangat cermat; mari kita perhatikan firman Nya ini,

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah: dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. ~ QS Al Isra` (17):23 ~

Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, jangan berkata tidak lembut kepada orangtua, walaupun dengan ucapan “ah”; satu perkataan yang sangat sering kita jumpai dari anak-anak. Apalagi anak ibu, berani membentak dan menghardik; alangkah besar pelanggarannya di hadapan Allah س”; ketika berhenti sebentar, Min menyela, “Kalau begitu yang paling bersalah, ya ayahnya; ia sibuk nggak keruan untuk urusan kantor. Padahal ujung-ujungnya, saya diceraikan”; matanya mulai berkaca-kaca.

Setelah hening sejenak, Banas meneruskan, “Orangtua dalam ayat tadi, tidak terbatas pada ayah; melainkan keduanya, ayah dan ibu. Bila dicaritahu siapa yang paling bertanggung jawab membentuk hitam putihnya ahlak anak, marilah menyimak tuntunan Rasulullah ص; dalam Hadis yang mengisahkan,

Seseorang datang menghadap kepada Rasulullah ص dan bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Ditanya lagi, “Kemudian siapa?” Dijawab, “Kemudian ibumu”. Ditanya lagi, “Kemudian siapa?” Dijawab, “Kemudian ibumu”. Ditanya lagi, “Kemudian siapa?” Lalu Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu”. ~ HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما ~

Tuntunan yang terkandung dalam Hadis ini menunjukkan, secara matematis, ibu memiliki saham 75% dalam proses pembentukan ahlak, karena Baginda ص menegaskannya sampai tiga kali; sedangkan kepada ayah, ditegaskan sekali saja. Lalu terkait dengan peranan orangtua dalam membina rumah tangga, marilah menyimak tuntunan lainnya,

Seseorang datang kepada Nabi ص dan bertanya, “ Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Beliau menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatimu)”.
~ HR Aththusi ر ~

Melalui Hadis ini, Nabi ص memberikan tuntunan, orangtua memiliki kewajiban, antara lain, mendidik adab yang baik; maksudnya, memberikan pembelajaran sopan santun dan beretika kepada orangtua dan semua orang. Mendengar penjelasan ini, Min nampak tertunduk lesu; tetapi dikuatkan hatinya, kemudian bertanya, “Lalu dimana salah saya?”. Selanjutnya terjadi dialog singkat, kenapa anak dapat cepat menjawab pertanyaan hitung-hitungan 2×2, 3×3, dsb; atau kenapa terbiasa menggunakan tangan kanan untuk makan, untuk menerima pemberian, dsb. Banas mengemukakan, anak-anak itu dapat melakukan semua itu, karena orangtuanya mengulang-ulang terus menerus setiap hari.

Kemudian Banas menyimpulkan, “Kalau begitu, sesuatu yang diulang-ulang, sangat membekas dan terpateri kuat dalam cara berfikir anak”; terlihat Min dan Man mengangguk. Lalu dikatakan, “Kalau hal ini sudah disepakati, marilah kita mengkaji ulang, kenapa anakmu pandai membentak dan menghardik, Bolehlah kita menengok kebelakang, apa yang kita ajarkan baik secara langsung atau tidak langsung. Bila mengajarkan tambah, kurang, kali dan bagi, itu namanya pengajaran langsung. Nah, ada pengajaran tidak langsung yang juga berpengaruh besar dalam proses pembentukan ahlak. Misalnya, ketika menegur anak yang nakal atau bersalah; bila teguran itu dilontarkan dengan suara keras, maka pada diri anak mulai terbentuk ahlak, bahwa membentak adalah sesuatu yang dibenarkan orangtuanya. Kalau bentakan dilakukan tiga kali sehari ibarat minum obat, niscaya semakin kental melekat pemikiran bahwa membentak dan menghardik adalah sesuatu yang boleh dilakukan”.

Bicara Banas terhenti, karena Min menyela, “Ya, semasa kecil, anakku itu nakalnya diluar batas toleransi kami; makanya saya sering memarahi dengan keras”.
Banas meneruskan, “Kalau begitu, persoalannya sudah terjawab oleh ibu sendiri. Kebiasaan membentak dan menghardik anak yang melakukan kesalahan, menjadi faktor utama pembentukan ahlak anak, sehingga kepadanya diperkenalkan dan dibiasakan membentak dan menghardik. Dengan begitu, sekarang ini menuai ahlak yang sudah disemai sendiri sejak anak berusia dini. Memang sulit mengontrol diri ketika menghadapi kenakalan anak; tetapi tegurlah secara lembut, dengan mengingat, kita sedang membentuk ahlakul karimah”. Tak terasa, waktu makin menjelang siang, keduanya lalu berpamitan, setelah berucap terima kasih.

Advertisements
Posted in: Parent Issues