001. Siapa Haram Jadah ?

Posted on 09/05/2013

0


Gaul Komunitas Islam; Ep. 001. Ada Apa Dengan Haram Jadah ?
Remaja sering khilaf atau mengkhilafkan diri; entah apa istilahnya, tidak menjaga keperawanan. Bila terjadi kehamilan tanpa ikatan pernikahan, si anak disebut Haram Jadah. Penyebutan ini berkonotasi penuh dosa; padahal si anak dipastikan terlahir dalam keadaan fitrah, putih bersih, tidak ternoda dosa walau setitik sekalipun. Malahan, Allah س berfiman dalam Al Quran, ketika janin masih berada dalam rahim ibu muslim dan non-muslim, mereka sudah diambil sumpah atas keesaan Allah س. Jadi, bagaimana dengan anak haram jadah ?

Sesampai di Ruang Dosen usai memberi kuliah, Man, seorang Pegawai Tata Usaha telah menunggu disitu. Kemudian keduanya berbagi salam, lalu Man berkisah akan menikahkan anak perempuannya; kisahnya terhenti, karena Banas menyela, “Bukankah menurut ceritamu, anak itu masih SMA Kelas Dua?”; Man mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi gembira sebagaimana sering ditunjukkan para orangtua yang akan punya menantu. Harapan kegembiraannya, tentulah karena akan lahir cucu sebagai penerus keturunannya. Man menceritakan, anaknya mengalami kecelakaan dan baru diketahui belum lama ini, setelah beberapa waktu sebelumnya sering muntah-muntah dengan alasan masuk angin.

Mendengar penjelasan ini, Banas mengemukakan, “Meskipun kecelakaan dalam peristiwa ini tidak menimbulkan cidera atau luka fisik, namun sesungguhnya telah menciderai kepercayaan atas kebebasan yang diamanahkan dan melukai hati orangtua”; berhenti sejenak, disusul Man yang mengisahkan, bahwa ia sangat marah besar kepada anaknya; tetapi anaknya menjawab kalem, “Pacarku butuh bukti cintaku; lalu kuserahkan cintaku dengan tulus”.

Man meneruskan kisahnya, meski anaknya menyatakan belum siap menikah, tetapi Man memutuskan untuk segera menikahkan, agar cucunya tidak menjadi anak haram jadah; begitu kisahnya. Menanggapi kisah ini, Banas menjelaskan, “Ada orang mengatakan, anak haram jadah tidak ada bapaknya; pendapat ini salah; yang benar, ada bapaknya tetapi tidak berstatus sebagai suami dari perempuan yang melahirkan dan atau tidak mengakui janin bayinya. Marilah kita cermati firman Allah س sebagaimana difirmankan,

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Nabi Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ke Esa an Tuhan”. ~ QS Al A`raf (7):172 ~

Berdasar ayat ini, secara sunatullah, setiap anak yang dilahirkan adalah insan yang sudah dipastikan telah bersaksi dan beriman kepada Nya; sedangkan pengertian haram jadah selalu berkonotasi dengan kekafiran atau tidak mengikuti aqidah Islam, padahal setiap bayi telah bersaksi beriman kepada Nya”; berhenti sejenak, karena Man menyela, “Bukankah kalau tidak dinikahkan, saya punya cucu haram jadah?”.

Banas menjelaskan, “Meski anak perempuanmu dinikahkan dengan laki-laki yang menyebabkan kehamilan, maka sesungguhnya laki-laki dan anakmu itulah yang menyebabkan lahir anak dalam kategori haram jadah. Sebutan ini layak diberikan, antara lain karena keduanya membuahkan janin tidak dalam ikatan pernikahan”; berhenti sejenak, ditatapnya Man; lalu dikatakan, mari kita cermati makna Hadis berikut ini,

Rasulullah ص bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong hidungnya?” ~ HR Muslim dari Abu Hurairah عنهما ~

Hadis ini menegaskan, setiap bayi yang dikandung perempuan, dipastikan terlahir dalam keadaan fitrah, putih bersih, suci. Setiap bayi ini tidak menanggung dosa apa-apa karena memang tak kuasa menolak Kehendak Penciptaan Nya; mereka dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dengan begitu, Hadis ini sekaligus menepis anggapan mengenai adanya anak haram jadah; atau anak yang membawa seabrek-abrek dosa. Padahal bukan salah anak yang terlahir, melainkan kesalahan laki-laki yang menyemaikan benih dalam rahim perempuan yang kemudian melahirkan dirinya.

Kemudian dikatakan, “Betulkah membuktikan cinta harus dengan cara penggaulan tanpa nikah? Karena sesungguhnya, salah satu akibat dari cara ini adalah terlahirnya anak di luar ikatan pernikahan. Memiliki anak yang dikandung dan dilahirkan bukan berdasar ikatan pernikahan, tak bedanya dengan menorehkan monumen dosa sepanjang bisa mengingat perjalanan hayat”.

Bicara Banas terhenti, ketika terdengar dering di HPnya; lalu Man pamit dengan perasaan tak menentu; bayangan yang menaungi, akan terlahir cucu dari pasangan pernikahan haram jadah. Cucunya akan menjadi monumen dosa sepanjang hayatnya.

Advertisements
Posted in: Teenage Issues